Ketika Sopan Santun Tersisih oleh Bahasa Kasar Pelajar Masa Kini

Opini tentang maraknya penggunaan bahasa tidak etis di kalangan pelajar era digital, penyebabnya, serta ajakan untuk mengembalikan nilai sopan santun dalam berkomunikasi.

Ketika Sopan Santun Tersisih oleh Bahasa Kasar Pelajar Masa Kini

Belakangan ini, kita sering melihat pelajar berbicara atau menulis dengan bahasa yang jauh dari etika. Ucapan kasar, singkatan nyeleneh, bahkan hinaan, dengan mudah keluar dari mulut maupun jari-jemari mereka di media sosial. Sebagian menganggap hal itu wajar, katanya “hanya bercanda”. Namun, benarkah kita harus menormalkan bahasa yang tidak etis demi terlihat gaul?

Menurut saya, fenomena ini menunjukkan adanya krisis kesantunan di kalangan pelajar. Pengaruh media sosial sangat besar di sana, gaya bicara yang keras sering dianggap keren dan jujur. Ironisnya, bahasa sopan justru dianggap kaku dan membosankan. Padahal, sopan santun adalah cermin karakter dan budi pekerti, dua hal yang seharusnya melekat pada generasi muda.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah berkurangnya peran lingkungan dalam menanamkan nilai etika berbahasa. Di rumah, orang tua sering sibuk dan jarang menegur ketika anak berbicara kasar. Di sekolah, guru pun kadang kewalahan menghadapi budaya digital yang begitu kuat. Akibatnya, pelajar belajar bahasa dari internet, bukan dari keteladanan nyata di sekitarnya.

 

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah cermin kepribadian. Cara seseorang berbicara menunjukkan bagaimana ia berpikir dan menghargai orang lain. Ketika pelajar terbiasa berkata kasar, itu berarti mereka mulai kehilangan empati dan rasa hormat. Kita tentu tidak ingin generasi muda tumbuh tanpa sopan santun, bukan?

Sudah saatnya kita berhenti menganggap bahasa tidak etis sebagai hal biasa. Pelajar perlu menyadari bahwa berbicara dengan santun bukan berarti lemah, tetapi menunjukkan kematangan diri. Sementara itu, sekolah dan keluarga harus bekerja sama membangun budaya komunikasi yang menghargai orang lain. Di era kebebasan berekspresi, justru sopan santunlah yang membedakan mana yang benar-benar berpendidikan.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.