Di zaman ketika semua orang bisa jadi komentator, siapa yang masih benar-benar mendengarkan perasaan orang lain?
Beberapa waktu terakhir, media sosial kembali ramai dengan kabar duka Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa UNUD yang dikabarkan meninggal setelah mengalami tekanan karena perundungan atau bullying.
Tak lama berselang, nama Rahmawati Kekeyi Putri — seorang figur publik yang sering jadi bahan ejekan — ikut terseret. Fotonya dijadikan meme dan bahan candaan di tengah isu kematian tersebut.
Kekeyi kemudian buka suara lewat media sosialnya, mengaku mental dan emosinya terguncang karena namanya kembali dijadikan olok-olokan. Padahal, ia tidak tahu sama sekali dengan peristiwa itu, dan mengaku membatasi penggunaan sosial media sudah sejak 2 tahun lalu.
Dalam unggahannya di Instagram, Kekeyi membagikan screenshot percakapan grup di mana foto Timothy saat jatuh disandingkan dengan pose Kekeyi sebagai bahan lelucon.
Meski awalnya tidak terkait sama sekali dengan peristiwa tersebut, Kekeyi merasa “direndahkan” dan pengakuannya menyatakan bahwa mentalnya sangat terpukul akibat insiden ini.
Antara bercanda dan menghancurkan
Sering kali, orang menganggap komentar atau meme di dunia digital hanyalah candaan. Tapi di balik layar, ada seseorang yang benar-benar merasa disakiti.
Sebuah penelitian di Jurnal Empowerment (UBP Karawang) menunjukkan bahwa cyberbullying dapat memicu kecemasan, stres, hingga depresi — terutama karena rasa malu dan kehilangan harga diri akibat tekanan sosial online.
Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa media sosial sering kehilangan fungsi sosialnya: bukan lagi tempat berbagi, tapi ajang menilai dan menghakimi.
Dan yang lebih ironis, empati kini sering dianggap lemah — padahal justru itu yang paling dibutuhkan.
Kurangnya empati di ruang digital
Dalam sebuah studi tentang “online disinhibition effect” (KnE Social Sciences, 2023), dijelaskan bahwa ketika seseorang merasa anonim di dunia maya, mereka cenderung lebih berani mengungkapkan komentar kasar, sarkastik, atau merendahkan.
Artinya, bukan karena kita lebih jahat — tapi karena dunia digital menghapus sebagian dari sisi manusia kita: tatapan, ekspresi, jeda untuk berpikir sebelum bicara.
Kita lupa bahwa setiap akun yang kita komentari juga manusia. Ia punya rasa lelah, trauma, dan sejarah yang tidak terlihat dari profilnya.
Belajar menumbuhkan empati digital
Empati digital bukan konsep muluk. Ia bisa dimulai dari hal sederhana:
- Berpikir dua kali sebelum komentar. Tanyakan, “Kalau aku di posisi dia, bagaimana rasanya?”
- Jangan ikut-ikutan menyebar atau bercanda yang keterlaluan tentang orang lain. Humor yang sehat tak pernah menjatuhkan dan tidak menyakiti siapapun.
- Berani menegur atau tidak ikut arus. Kadang diam dan tidak ikut menyebar sudah bentuk empati.
- Sadari bahwa media sosial bukan seluruh hidup. Dunia nyata tetap tempat terbaik untuk belajar memahami.
Kembali pada rasa manusiawi
Kasus Kekeyi dan Timothy seharusnya tak hanya jadi berita viral, tapi cermin bagi kita semua. Kita hidup di era serba cepat — tapi justru karena itu, hati kita harus lebih pelan.
Jangan biarkan empati menjadi barang langka di dunia yang sibuk menertawakan kesalahan orang lain.
Karena di balik setiap lelucon yang viral, bisa jadi ada hati yang benar-benar hancur.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.