Kalau kamu suka baca berita ekonomi atau sekadar scroll media sosial pas ada kabar rupiah melemah atau Wall Street anjlok, pasti sering lihat nama Jerome Powell ikut disebut. Bahkan kadang namanya bisa jadi trending topic, padahal dia bukan selebriti atau politikus Indonesia.
Lalu, siapa sebenarnya Jerome Powell ini? Dan kenapa ucapannya bisa bikin dunia finansial heboh?
Siapa Jerome Powell?
Jerome Powell atau yang sering dipanggil Jay Powell adalah Ketua Federal Reserve (The Fed) sejak 2018. The Fed sendiri bisa dibilang “bank sentralnya Amerika Serikat” — lembaga yang tugasnya menjaga kestabilan ekonomi, suku bunga, hingga inflasi.
Bayangkan kalau Bank Indonesia, OJK, dan Kemenkeu digabung jadi satu super lembaga. Nah, kira-kira itulah posisi The Fed di AS. Karena ekonomi Amerika itu terbesar di dunia, otomatis keputusan The Fed juga ikut memengaruhi negara lain, termasuk Indonesia.
Powell lahir pada 4 Februari tahun 1953 di Washintong, DC., AS. Ia adalah lulusan jurusan Politik di Princeton University (1975), lalu ambil jurusan Hukum di Georgetown University Law Center (1979). Sebelum terjun ke dunia kebijakan moneter, ia pernah jadi pengacara dan bekerja di sektor keuangan. Jadi latarnya cukup beragam — bukan murni ekonom akademis seperti beberapa pendahulunya.
Perjalanan Sebagai Ketua The Fed
- Powell mulai resmi menjabat sebagai Chair (Ketua) Board of Governors Federal Reserve pada 5 Februari 2018.
- Ia sebelumnya sudah menjadi anggota Board of Governors sejak 2012, diangkat oleh Presiden Barack Obama.
- Dia kemudian mendapatkan masa jabatan kedua yang dimulai pada 2022. Ini berarti Powell dipercaya lintas pemerintahan (Trump → Biden).
Apa Perannya di Dunia Finansial?
Sebagai Ketua The Fed, Jerome Powell punya kuasa besar dalam:
1. Menentukan Kebijakan Moneter
Termasuk mengatur dan menentukan suku bunga acuan (Fed Funds Rate). Ini bukan sekadar angka teknis, tapi angka yang bisa bikin:
- Pinjaman rumah di AS naik/turun.
- Investor global memutuskan mau masuk atau keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
- Rupiah ikut melemah atau menguat karena arus modal asing.
2. Mengawasi Stabilitas Keuangan & Pasokan Uang
Pengaturan bank, pengawasan regulasi sistem perbankan, dan langkah-langkah defensif ketika ekonomi goyah.
3. Memberi Pernyataan Publik & Kepuasan Pasar
Karena Powell sering memberikan pidato, konferensi pers, dan laporan ke Kongres, ucapannya dinanti oleh pasar finansial. Kata-kata “Powell mengatakan …” bisa bikin saham naik turun, mata uang menguat/lemah, atau suku bunga di berbagai negara ikut terpengaruh (Ekspektasi dan spekulasi punya “bobot” besar).
Setiap beberapa minggu sekali, Powell memimpin rapat penting bernama FOMC (Federal Open Market Committee). Nah, hasil rapat inilah yang sering bikin pasar heboh.
Kenapa Namanya Sering Jadi Trending?
Alasannya simpel: kata-kata Powell bisa menggerakkan pasar dunia.
- Kalau Powell bilang inflasi masih tinggi, maka pasar menganggap bunga akan naik, sehingga saham bisa turun, dan rupiah bisa jadi melemah.
- Kalau Powell memberi sinyal bunga bisa turun, maka pasar langsung euforia, harga saham melonjak, dan rupiah bisa menguat.
Contoh nyatanya:
Di awal 2023, saat Powell memberi sinyal “suku bunga mungkin akan tetap tinggi lebih lama”, pasar saham AS langsung merah, dan rupiah ikut tertekan.
Sebaliknya, waktu ia mulai membuka peluang “rate cut” di akhir tahun 2024, banyak mata uang Asia (termasuk rupiah) sempat menguat karena investor optimis.
Baru-baru ini, Powell memimpin rapat FOMC dimana The Fed memutuskan menurunkan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase. Ini adalah pemotongan pertama dalam hampir satu tahun, dan pernyataannya menimbulkan banyak spekulasi tentang kebijakan suku bunga selanjutnya.
Jadi, nggak heran kalau tiap kali Powell bicara, jutaan mata di seluruh dunia memperhatikan, mulai dari investor Wall Street, analis ekonomi, sampai orang Indonesia yang sedang mikirin cicilan rumah.
Mengapa Kita di Indonesia Harus Peduli?
- Nilai tukar rupiah bisa terpengaruh: kalau pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga AS, dolar menguat, rupiah bisa lemah.
- Suku bunga domestik mungkin harus menyesuaikan agar menarik investor agar tidak keluar modal ke asing.
- Harga barang impor, termasuk bahan baku atau elektronik, bisa naik kalau dolar tinggi.
- Investor lokal dan pemilik aset keuangan (saham, obligasi) harus memperkirakan risiko dari perubahan kebijakan AS.
Jerome Powell mungkin bukan figur yang sering tampil di infotainment, tapi di dunia finansial dia adalah salah satu orang paling berpengaruh di planet ini.
Ucapannya bisa bikin pasar saham naik-turun, nilai tukar rupiah goyang, bahkan memengaruhi arah ekonomi global. Jadi kalau besok-besok kamu lihat berita dengan judul “Powell bilang…” atau “FOMC putuskan…”, sekarang kamu sudah tahu kenapa semua orang sibuk membicarakannya.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.