Sebelum banyak beredar buku-buku elektronik, taman bacaan adalah salah satu tempat yang menyediakan beragam bacaan ringan seperti komik, buku cerita, dan majalah. Dibantu oleh penjaga taman bacaan yang ramah, kita bisa mendapatkan bacaan yang dicari.
Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan taman bacaan semakin sulit dicari. Hal ini bukan saja disebabkan minat baca yang kurang, tetapi juga pesatnya perkembangan teknologi. Membuat keberadaan taman bacaan kian tergerus oleh waktu.
Saat ini orang lebih tertarik pada bacaan daring seperti banyak yang tersedia pada plat form semacam KBM, Webtoon, Fizzo, dan lain-lain. Selain bacaan fiksi, tidak sedikit pula yang menyediakan buku-buku elektronik dan bacaan non fiksi dari yang mahal, sedang, bahkan gratis sekalipun.
Kemudahan orang untuk mengakses bacaan daring tentunya tidak lepas dari peran gawai yang dirancang sedemikian rupa, termasuk tawaran kapasitas ram yang diperlukan. Bahkan tidak sedikit pula yang rela top up saldo untuk membaca novel favorit meskipun harus mengunduh terlebih dahulu aplikasinya.
Padahal ada kenikmatan tersendiri membaca buku di taman bacaan dibanding versi daring. Salah satu hal positif yang kita dapat saat membaca buku di taman bacaan adalah adanya interaksi sosial secara nyata antar pengunjung.
Hal ini berbeda ketika kita membaca novel melalui aplikasi buku elektronik. Meski sama-sama berinteraksi lewat testimoni, namun jelas bedanya berkomunikasi secara langsung dibanding versi tulis. Dan semua itu bisa terjadi saat kita membaca di taman bacaan yang kini kian langka.
Mengobati kerinduan akan taman bacaan, kita bisa melakukan hal berikut, yakni membuat perpustakaan mini. Jika kita memiliki koleksi buku bacaan, cobalah untuk membuat perpustakaan mini. Sebaliknya, kita bisa mengundang beberapa teman dengan membawa koleksi buku masing-masing dan saling bertukar pinjam jika stok buku yang kita miliki terbatas.
Apakah harus ada pencatatan buku juga? Ya, kita bisa saja menerapkan aturan pinjam seperti yang diberlakukan pada taman bacaan.
Kegiatan ini selain memumpuk silaturahmi juga melatih diri untuk rutin membaca buku. Tidak sedikit publik figur yang dikenal kecerdasannya ternyata memiliki kebiasaan dan hobi membaca buku; seperti Maudy Ayunda dan Dian Sastro Wardoyo.
Membaca buku juga mengurangi paparan radiasi sinar gawai yang tidak baik untuk kesehatan. Melansir pada halodoc.com, ada sepuluh hal dampak negatif dari penggunaan gawai; paparan radiasi elektromagnetik, gangguan tidur dan insomia, masalah kesehatan mental, kerusakan mata dan penglihatan, masalah pendengaran, sindrom carpal tunnel, kecanduan, penurunan konsentrasi dan fokus, postur tubuh yang buruk, serta penyebaran kuman dan bakteri. Banyaknya dampak negatif dari penggunaan gawai ini tentu harus menjadi atensi tersendiri. Apalagi jika penggunanya adalah anak-anak yang masih di bawah umur.
Pembuatan perpustakaan mini juga selaras dengan kegiatan literasi yang kembali digaungkan oleh penggiat literasi.
Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mendukung terwujudnya perpustakaan mini ini. Pertama, kita bisa membuat daftar koleksi buku dan menomorinya jika nanti dimaksudkan untuk dipinjamkan. Kedua, menata ruangan senyaman mungkin untuk menghindari rasa bosan. Penaataan ruang yang nyaman tentu membuat penghuninya betah dan enggan beranjak.
Bila tidak memiliki cukup buku, selain mengadakan tukar buku dengan sesama teman, kita juga bisa mengajukan pengadaan buku lewat program yang ditawarkan Balai Bahasa untuk penggiat literasi.
Tidak mustahil bukan untuk menghadirkan kembali taman bacaan versi perpustakaan mini kita? Jangan biarkan buku-buku yang kita miliki usang dan berdebu. Hidupkan kembali semangat membaca buku dengan nuansa taman bacaan ala kita. Dengan begitu kita juga turut menyelamatkan generasi masa depan dari ketergantungan akan gawai.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.
Masya Allah keren banget
Terima kasih Bunda😊🙏