TANGITURU.COM – Kebakaran hutan di Yunani pada tahun 2025 kembali memicu kekhawatiran dan kepedulian global.
Kali ini, api melanda wilayah yang sebelumnya pernah terbakar, mempercepat penyebaran kerusakan.
Cuaca ekstrem juga memperburuk kondisi ini.
Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab, dampak, dan strategi yang diterapkan oleh pemerintah serta masyarakat dalam menghadapi bencana ini.
Latar Belakang Kebakaran Hutan di Yunani
Sebagai negara dengan banyak hutan alami, Yunani memiliki kondisi geografis dan iklim yang meningkatkan risiko kebakaran besar.
Di musim panas, suhu bisa sangat tinggi, kelembapan rendah, dan angin kencang membuat api cepat menyebar.
Wilayah Peloponnesos menjadi perhatian utama karena hutan pinus dan pohon ek yang sangat rentan terhadap kebakaran.
Oleh karena itu, pencegahan kebakaran hutan harus menjadi prioritas.
Penyebab Kebakaran: Alam dan Aktivitas Manusia
Faktor alami seperti petir saat badai bahkan hujan ringan dapat memicu kebakaran di hutan kering.
Selain itu, aktivitas manusia juga berkontribusi, seperti pembakaran sampah sembarangan dan pembukaan lahan pertanian tanpa pengawasan.
Pada tahun 2025, beberapa laporan mengungkap adanya aktivitas ilegal seperti pembakaran sampah plastik di dekat hutan.
Meningkatkan kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk meminimalkan insiden kebakaran ini.
Lonjakan Kebakaran di Tahun 2025
Kebakaran hutan di Yunani pada tahun 2025 mencatat beberapa kejadian besar, terutama di pulau Evia, Attika, Kreta, dan wilayah Peloponnesos.
Dari bulan Juli hingga Agustus, lebih dari 150.000 hektar lahan hutan hangus terbakar, dengan Evia menjadi yang paling parah, di mana banyak rumah penduduk juga terkena dampak.
Akibatnya, ribuan orang terpaksa mengungsi, dan layanan dasar seperti listrik serta air terputus selama beberapa hari.
Dampak Ekologis: Kehidupan Alam Terancam
Kebakaran besar menyebabkan kerusakan serius pada ekosistem.
Satwa liar kehilangan habitat, sementara tumbuhan asli hancur.
Misalnya, populasi rusa dan kelinci menurun drastis, dan beberapa jenis burung migran kehilangan tempat bersarang.
Tanah pun menjadi lebih rentan terhadap erosi karena tidak ada akar tanaman yang menahannya.
Jika tidak ada upaya pemulihan yang segera, ekosistem lokal bisa terancam punah.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Kebakaran tidak hanya menyebabkan kerusakan alam, tetapi juga berdampak besar pada masyarakat setempat.
Petani kehilangan lahan pertanian, sedangkan industri pariwisata mengalami penurunan signifikan karena wisatawan menghindari daerah yang terbakar.
Beberapa hotel dan restoran di Evia melaporkan penurunan okupansi hingga 70%.
Selain itu, sistem transportasi terganggu akibat jalur akses yang terhalang asap dan abu, yang berujung pada penurunan ekonomi lokal dan beberapa bisnis kecil terpaksa tutup.
Tanggap Darurat: Respons Pemerintah
Pemerintah Yunani segera merespons dengan membentuk tim pemadam kebakaran darurat dan mendatangkan pesawat pemadam dari negara-negara tetangga seperti Italia, Spanyol, dan Turki.
Sekitar 2.000 petugas tambahan juga dikerahkan ke lokasi terdampak.
Meskipun ada kendala seperti akses ke wilayah terpencil dan suplai air, kerja keras tim pemadam berhasil mengendalikan sebagian besar kebakaran sebelum meluas.
Kolaborasi Internasional: Solidaritas dan Bantuan
Banyak negara lain juga memberikan respons cepat.
Uni Eropa melalui mekanisme rescEU mengirimkan dukungan air dan peralatan pemadam.
Selain itu, lembaga internasional seperti Palang Merah dan PBB memberikan bantuan logistik, medis, dan dukungan psikososial kepada korban.
Ini menunjukkan bahwa aksi global sangat penting dalam menghadapi krisis iklim dan bencana alam yang melintasi batas negara.
Peran Masyarakat Lokal dan Relawan
Masyarakat lokal juga berperan aktif.
Relawan membentuk tim pemantau kebakaran di kawasan rawan, menjaga perbatasan hutan sepanjang malam dan menyediakan makanan serta kebutuhan dasar untuk petugas pemadam.
Iuran sukarela digalang untuk membantu renovasi rumah penduduk yang terkena dampak.
Saya sendiri ikut berpartisipasi dalam kegiatan solidaritas, mendistribusikan paket bantuan kepada pengungsi, yang membuat saya merasa lebih dekat dengan mereka yang terdampak.
eknologi dan Inovasi dalam Penanggulangan Kebakaran
Yunani mulai mengadopsi teknologi baru untuk penanggulangan kebakaran.
Drone digunakan untuk deteksi dini api dan pengukuran suhu tanah, sementara sensor kelembapan dipasang di area kritis hutan.
Pemerintah memanfaatkan satelit dan citra termal untuk memantau kondisi secara real-time.
Sistem water bombing dengan helikopter juga semakin efisien, sehingga teknologi ini terbukti krusial dalam mempercepat respons dan menyelamatkan wilayah yang masih hijau.
Kebijakan dan Regulasi yang Diperkuat
Sebagai pelajaran dari kebakaran ini, pemerintah memperkuat regulasi terkait pembukaan lahan.
Kini, semua pembukaan lahan untuk pertanian memerlukan izin resmi dan rencana mitigasi kebakaran.
Hukuman bagi pelaku pembakaran disengaja juga diperberat, termasuk denda yang besar dan hukuman penjara.
Penerapan zona aman di sekitar kawasan hutan juga semakin ketat, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mencegah kebakaran di masa depan.
Pendidikan dan Kesadaran Lingkungan
Kesadaran masyarakat merupakan kunci utama dalam pencegahan kebakaran.
Sekolah dan universitas diminta untuk memasukkan materi pencegahan kebakaran hutan ke dalam kurikulum.
Anak-anak diajarkan cara menghadapi situasi darurat dan pentingnya menjaga kebersihan hutan.
Kampanye publik di media sosial, seperti tagar #ProtectOurForests, juga digalakkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Tantangan Pemulihan Jangka Panjang
Setelah api padam, tugas pemulihan baru dimulai.
Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk menanam kembali pohon-pohon yang hilang.
Beberapa ahli memperkirakan dibutuhkan 20 hingga 30 tahun agar ekosistem pulih sepenuhnya.
Fase pascakebakaran juga rentan terhadap banjir dan longsor, sehingga perlu pengerjaan tata air dan penguatan lereng.
Pemerintah dan LSM kini merancang program reforestasi besar-besaran dengan pengawasan jangka panjang.
Harapan di Tengah Bencana
Kebakaran hutan di Yunani pada tahun 2025 mengingatkan kita akan dampak perubahan iklim dan aktivitas manusia yang tak terkendali.
Namun, upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, relawan, dan komunitas internasional memberikan harapan baru.
Teknologi dan kebijakan yang terus berkembang memperkuat ketahanan.
Kesadaran serta keterlibatan publik adalah fondasi terpenting agar bencana serupa tidak terulang di masa mendatang.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.