Jangan Malu Jadi Guru: Gaji Boleh Pas-Pasan, Dedikasi Tak Pernah Pudar
Profesi guru PNS di Indonesia sering dipandang sebelah mata. Banyak yang menganggap gajinya kecil, hidupnya penuh cicilan, dan ketika pensiun tetap sederhana. Tidak sedikit pula guru yang merasa minder jika dibandingkan dengan pekerjaan lain yang dianggap lebih mapan.
Tapi benarkah jadi guru adalah pilihan yang salah?
Gaji Kecil, Tugas Besar
Fakta di lapangan memang tidak bisa dipungkiri: gaji guru, terutama yang berada di golongan awal, masih jauh dari kata sejahtera. Data resmi menunjukkan rata-rata penghasilan mereka belum sebanding dengan biaya hidup di kota besar.
Namun di balik nominal yang pas-pasan, ada sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka: tanggung jawab moral mendidik generasi bangsa. Seorang guru berhadapan dengan murid yang beragam sifatnya, membimbing bukan hanya soal pelajaran, tetapi juga soal akhlak.
Masa Tua Tanpa Aset
Kenyataan pahitnya, banyak guru yang sudah puluhan tahun mengajar tetap hidup sederhana di usia pensiun. Rumah belum tentu punya, tabungan pun sering habis untuk biaya sekolah anak atau kebutuhan harian. Inilah wajah nyata profesi guru di negeri ini—mengabdi seumur hidup tanpa jaminan kemapanan finansial.
Pinjaman: Salah atau Wajar?
Pertanyaan klasik muncul: apakah salah guru mengambil kredit dengan gaji sebagai jaminan?
Jawabannya: tentu tidak salah, selama pinjaman itu dikelola secara sehat.
Banyak guru yang mengajukan kredit untuk hal-hal penting: memperbaiki rumah, membiayai kuliah anak, atau modal usaha sampingan. Yang berbahaya adalah ketika utang bertumpuk dari berbagai arah—bank, koperasi, bahkan pinjaman online. Di sinilah guru harus cerdas mengatur keuangan, agar tidak terjebak dalam lingkaran utang.
Bersyukur, Tapi Tetap Menggugat
Menjadi guru memang butuh hati lapang. Rasa syukur penting dijaga, tetapi itu tidak berarti berhenti menuntut hak. Guru adalah pondasi lahirnya profesi lain—tanpa guru, tidak akan ada dokter, insinyur, atau pemimpin bangsa.
Meski negara belum sepenuhnya memberi kesejahteraan, pilihan tetap berjuang mendidik adalah bentuk keberanian yang patut dihormati. Jadi, tidak ada alasan untuk malu menjadi guru, meski gaji sederhana dan meski sampai tua tidak sempat memiliki aset.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.