Pasar modal Indonesia kembali bergejolak. Pada perdagangan Senin (8/9/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah sekitar 1,3%, menutup sesi di zona merah setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan reshuffle kabinet Merah Putih. Salah satu keputusan yang paling menyedot perhatian adalah pencopotan Sri Mulyani Indrawati dari kursi Menteri Keuangan. Di tengah kejatuhan IHSG, pergerakan rupiah justru berlawanan arah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat sekitar 0,7%. Fenomena ini mencerminkan adanya dinamika yang berbeda antara pasar saham dan pasar valuta asing, dengan investor menilai arah kebijakan fiskal dan moneter ke depan masih belum sepenuhnya jelas.
Sejumlah analis internasional mengungkapkan kekhawatiran atas pergantian figur kunci seperti Sri Mulyani, yang selama ini dianggap mampu menjaga kredibilitas fiskal Indonesia. Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, dinilai masih perlu membuktikan kapasitasnya dalam menjaga stabilitas makro. Banyak pihak menilai, kebijakan fiskal berpotensi lebih ekspansif, yang bisa menimbulkan risiko bagi disiplin anggaran dan efektivitas pengendalian inflasi. Tekanan yang terjadi di IHSG, berbanding terbalik dengan penguatan rupiah, menandakan pasar tengah menyesuaikan diri dengan kejutan politik. Penguatan mata uang domestik ini bisa jadi mencerminkan kemungkinan intervensi Bank Indonesia atau sekadar reaksi jangka pendek. Namun, pasar tetap menunggu sinyal yang lebih jelas mengenai konsistensi kebijakan fiskal dan koordinasi dengan otoritas moneter.
Perombakan kabinet oleh Presiden Prabowo memang menciptakan ketidakpastian di pasar modal, tetapi penguatan rupiah memberi sedikit angin segar. Ke depan, arah kebijakan Menteri Keuangan baru akan menjadi kunci dalam menentukan stabilitas pasar keuangan Indonesia. Investor kini cenderung bersikap hati-hati sambil menanti langkah konkret pemerintah dalam menjaga kredibilitas fiskal dan kepercayaan pasar.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.