"Dan bagaimana semuanya berawal dari rasa penasaran"
Hobi sering lahir dari hal-hal spontan. Ada yang dimulai dari coba-coba, ada yang karena ikut teman, dan ada juga yang berawal dari ngikutin crush. Lucu, tapi justru di situlah cerita menariknya dimulai.
Awalnya aku hanya mencari celah untuk ikut kegiatan kampus. UKM lain sudah tutup pendaftaran, sedangkan Mapala adalah satu-satunya tempat yang masih membuka peluang. Tapi di balik keputusan itu ada rasa penasaran tipis, ditambah pengalaman masa kecil hingga remaja yang penuh batasan sehingga aku jarang ke mana-mana. Maka ketika kuliah dimulai, aku merasa: ini saatnya mencoba hal baru.
Tapi naik gunung—ternyata—tidak sesederhana “mau ikut, ayo naik.”
Untukku, izin saja sudah merupakan perjuangan berlevel ekspedisi. Selama seminggu penuh aku harus menyapu, mengepel, masak, melap kaca seluruh rumah, hanya untuk mengantongi satu kata dari orang tua: ya.
Belum bicara soal uang saku. Maka, strategi pun dimulai: mengaku bahwa kegiatan itu “didanai kampus.” Sebuah kebohongan kecil yang menjadi jembatan menuju dunia besar bernama pendakian.
Lalu persoalan lain muncul: perlengkapan.
Tabungan 700 ribu milikku ludes hanya untuk membeli tas carrier. Sementara kebutuhan lain—sepatu, jaket, sleeping bag—masih menggunung. Di sinilah aku menemukan versi diriku yang lain: nekat, kreatif, dan ulet.
Aku membuka jasa joki tugas dan layanan Turnitin. Padahal masih mahasiswa semester satu, tapi pelangganku rata-rata semester tiga sampai lima. Untuk meyakinkan mereka? Aku mengaku sebagai mahasiswa semester tujuh.
Kocak? Iya. Tapi di situ jugalah aku belajar: hidup kadang menuntut keberanian, bahkan saat kamu belum tahu kamu mampu.
Dari kerja keras itu, aku akhirnya bisa membiayai pendakianku sendiri. Satu gunung ditaklukkan, lalu satu lagi, dan satu lagi. Kini, deretan nama-nama yang dulu hanya aku dengar dari cerita orang, telah resmi jadi bagian dari jejak langkahku: Buthak, Kawi, Lorokan, Argopuro, Tanggung, hingga Halimun Salak.
Untuk seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang sangat strict, itu bukan pencapaian kecil. Itu adalah revolusi kecil dalam hidupku.
Naik gunung memberiku lebih dari sekadar pemandangan dan dinginnya udara pagi. Ia memberiku kemandirian, keberanian, dan ruang bernapas yang selama ini tak pernah aku nikmati. Dari seorang gadis yang jarang diizinkan pergi, aku berubah menjadi perempuan yang berani menentukan arah langkahnya—secara harfiah maupun batiniah.
Kadang, hobi terbaik memang bukan yang kita cari.
Tapi yang menemukan kita.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.