Di balik permukaan laut yang tampak tenang, ada ancaman yang bekerja tanpa henti: ghost net, atau jaring hantu. Istilah ini merujuk pada jaring ikan yang hilang, terputus, atau sengaja dibuang oleh kapal dan nelayan, tetapi tetap terus “berburu” meski tidak lagi digunakan. Tanpa kendali, ghost net menjelma menjadi pembunuh senyap yang merusak ekosistem laut setiap hari.
Menjerat dan Membunuh Satwa Laut
Karena terbuat dari material sintetis yang kuat, ghost net tidak mudah rusak. Jaring-jaring ini terus menjerat ikan, penyu, lumba-lumba, hiu, bahkan burung laut. Banyak hewan terperangkap hingga mati karena tidak bisa berenang atau naik ke permukaan untuk bernapas. Proses ini dikenal sebagai ghost fishing—penangkapan ikan secara pasif oleh alat tangkap yang sudah tidak aktif.
Merusak Terumbu Karang
Ketika ghost net tersangkut di terumbu karang, hasilnya bisa katastrofis. Jaring yang tertarik arus akan menggesek, mematahkan, dan merobek struktur karang yang membutuhkan ratusan tahun untuk tumbuh. Kerusakan satu bagian karang dapat memicu kehancuran lebih luas karena karang adalah rumah bagi ribuan spesies laut.
Sumber Mikroplastik Baru
Sebagian besar ghost net terbuat dari plastik seperti nylon atau polypropylene. Ketika jaring-jaring ini tergerus arus dan sinar matahari, mereka akan terurai menjadi potongan-potongan kecil—mikroplastik—yang mengancam rantai makanan laut. Hewan kecil memakan serpihan ini, lalu dimakan hewan yang lebih besar, hingga akhirnya kembali ke piring manusia.
Bahaya bagi Nelayan
Ironisnya, ghost net juga menjadi ancaman bagi nelayan yang masih aktif. Jaring hantu bisa tersangkut pada alat tangkap yang masih digunakan, merusak peralatan, bahkan membahayakan keselamatan nelayan ketika jaring menyangkut baling-baling kapal.
Menyumbang 10% Sampah Plastik Laut Dunia
Ghost net diperkirakan menyumbang sekitar 10% dari total sampah plastik laut dunia—angka yang sangat besar mengingat dampaknya tidak hanya berupa polusi, tetapi juga kematian massal satwa dan kerusakan habitat.
Ghost net adalah masalah nyata yang bekerja dalam diam. Semakin kita memahami bahaya ini, semakin besar peluang untuk mengurangi dampaknya melalui edukasi, regulasi, dan kerja sama nelayan serta masyarakat pesisir. Laut bukan tempat pembuangan—ia adalah sumber kehidupan yang harus dijaga.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.