Gaji UMP vs. Feed Instagram Aesthetic: Kita Sedang Investasi atau Sekadar Pamer?

Pernah nggak sih ngerasain yang kayak gini?"

Gaji UMP vs. Feed Instagram Aesthetic: Kita Sedang Investasi atau Sekadar Pamer?

Pagi-pagi baru gajian, feels like the richest person in the world. Duit masih utuh, dompet tebel, hati senang. Eh, belum juga sampai tanggal 20, udah harus pinter-pinter ngatur napas aja sisa duitnya. Tagihan listrik, cicilan headphone, bayar kontrakan, belum lagi lihat story temen liburan ke Bali atau coffee shop baru yang aesthetic banget... auto betulin CV lagi sambil gigit jari.

Sound familiar? đź‘€

Pernah nggak sih, elo ngerasain itu? Ngerasain yang namanya “loncat finansial”—alias hidup di bulan ini, tapi dengan gaya hidup yang seharusnya baru bisa elo jalani 5 tahun lagi. Hasilnya? Kantong kosong, mental down, dan uang pun menguap entah ke mana.

Gue sendiri pernah nih, jujur. Dulu, demi ikutan tren coffee shop yang hits dan aesthetic, rela mengeluarkan budget makan seminggu untuk secangkir latte plus foto-foto biar feed Instagram kece. Hasilnya? Memang oke likes-nya naik. Tapi yang naik juga adalah level kebodohan gue sendiri. Pas tanggal tua, akhirnya makan mi instan sambil nyesel. Which is, lucu banget kan kalau inget-inget lagi? Tapi waktu itu, FOMO banget.

Nah, sebenarnya apa sih yang bikin kita gampang banget terjebak dalam lingkaran “gaji UMP vs. gaya hidup kekinian”?

KENAPA KITA BEGITU GAMPANG TERJEBAK?

Pertama, FOMO (Fear of Missing Out). Kita takut ketinggalan zaman. Takut nggak ikutan nongki di tempat kekinian, takut kudet, takut dikira nggak gaul. Akhirnya, demi eksistensi, kita ikut—tanpa mikirin konsekuensinya.

Kedua, tekanan media sosial. Setiap hari kita lihat highlight reel orang lain: liburan ke Korea, beli iPhone terbaru, makan di resto mewah. Tanpa sadar, kita bandingin “backstage” hidup kita yang berantakan dengan “panggung” mereka yang sempurna. Akhirnya, kita pun berusaha mati-matian pamer “panggung” juga—biar nggak kalah.

Ketiga, self-reward yang keliru. “Udah kerja keras sebulan, deserves something nice lah!” Itu wajar. Tapi seringkali “something nice”-nya jauh melewati batas kemampuan. Alih-alih reward, malah jadi beban.

GIMANA CARANYA KELUAR DARI PERANGKAP INI?

Oke, kita udah tau akar masalahnya. Sekarang, gimana caranya berhenti loncat-loncat finansial yang bikin dompet jebol dan mental down? Nih, beberapa tips simpel yang bisa elo coba:

 

1. Buat Budget yang Jujur & Realistis

   Pas gajian, langsung pisahkan uangnya. Contoh ala kadarnya:

   · 50% untuk Kebutuhan Primer: Sewa kos/kontrakan, makan, transport, listrik.

   · 30% untuk Keinginan: Nongkrong, beli baju, langganan Netflix.

   · 20% untuk Tabungan/Dana Darurat: Ini wajib! Anggap ini bukan uang elo.

2. Terapkan The 24-Hour Rule

   Mau beli barang yang nggak direncanakan? Tidurin dulu wishlist-nya selama 24 jam. Tanyakan ke diri sendiri besoknya: “Gue masih pengin banget nggak sih?” Seringnya, nafsu impulsif itu cuma sementara.

3. Temukan “Aesthetic”-mu Sendiri

   Gaya hidup kekinian nggak harus mahal. Coba thrifting buat dapetin outfit unik, eksplor tempat makan yang enak tapi terjangkau, atau bahkan belajar bikin kopi sendiri ala-ala cafe. Percaya deh, style itu soal kreativitas dan confidence, bukan harga tag.

4. Bersihkan Media Sosialmu

   Berani unfollow akun-akun yang bikin elo merasa kurang dan insecure. Ganti dengan akun yang menginspirasi, kayak akun financial literacy, self-development, atau hobi yang positif.

5. Investasi di Skill, Bukan di Barang

   Daripada beli tas branded yang bakal bikin elo makan mi instan sebulan, mending investasi pada skill. Ikut kursus online, beli buku, atau belajar bahasa baru. Ini ROI-nya (Return on Investment) jauh lebih besar buat masa depan.

YANG PALING PENTING: HIDUP BUKAN UNTUK DIPAMERIN

So, hidup aesthetic itu nggak salah, kok. Yang salah itu kalau kita sampai terobsesi sampai lupa realita. Jangan sampai kita yang jadi aesthetic, tapi dompet yang jadi autistic.

Yang kita lihat di media sosial adalah hasil kurasi—potongan terbaik dari hidup seseorang. Tapi keuangan yang sehat adalah fondasi yang nggak bisa dikompromikan. Yuk, pelan-pelan kita turunin ekspektasi dan tekanan sosialnya. Nabunglah untuk lifestyle yang benar-benar sustainable di masa depan—bukan yang cuma keliatan doang.

Gimana menurut elo? Pernah nggak mengalami fase “loncat finansial” kayak gini? Share pengalaman dan tips elo di kolom komentar, yuk! Maybe we can learn from each other.

#NulisKuy #FinancialLiteracy #GayaHidup #AnakMuda #UMP #Keuangan

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.