Financial Anxiety: Mengapa Generasi Muda Paling Rentan dan Bagaimana Menghadapinya

Pelajari mengapa Gen Z dan Milenial lebih rentan mengalami financial anxiety serta temukan strategi praktis untuk mengelolanya dengan lebih tenang dan terencana.

Financial Anxiety: Mengapa Generasi Muda Paling Rentan dan Bagaimana Menghadapinya

Jika kamu merasa cemas setiap kali membuka aplikasi mobile banking, menunda melihat tagihan kartu kredit, atau merasa “nggak pernah aman secara finansial” meskipun punya penghasilan, kamu tidak sendirian. Fenomena ini punya nama: financial anxiety — kecemasan berlebih terkait kondisi keuangan, sering kali tidak sebanding dengan situasi nyata, namun sangat memengaruhi kualitas hidup.

Dalam beberapa tahun terakhir, financial anxiety menjadi istilah yang semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan Gen Z dan Milenial. Generasi muda dikenal lebih terbuka soal kesehatan mental, tapi mereka juga menghadapi tekanan finansial yang berbeda dari generasi sebelumnya. Di balik memes “quarter-life crisis”, ada kekhawatiran yang lebih dalam mengenai stabilitas penghasilan, biaya hidup yang terus naik, serta ekspektasi sosial untuk sukses lebih cepat.

Artikel ini membahas mengapa generasi muda cenderung lebih rentan, bagaimana gejalanya muncul, dan strategi praktis yang bisa kamu lakukan untuk mengelolanya.

Mengapa Financial Anxiety Lebih Dominan pada Gen Z dan Milenial?

1. Biaya hidup meningkat lebih cepat daripada pertumbuhan gaji

Banyak studi menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan generasi muda tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup—mulai dari harga rumah, pendidikan, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, meskipun bekerja keras, banyak anak muda merasa tertinggal dalam hal pencapaian finansial.

Ketika ada gap antara usaha dan hasil, kecemasan muncul: “Kapan bisa punya rumah?”, “Gimana kalau tiba-tiba kehilangan pekerjaan?”

Tekanan ini tidak hanya datang dari realita ekonomi, tapi juga ketidakpastian masa depan.

2. Ketidakstabilan karier di era digital

Generasi muda tumbuh dalam era teknologi yang mengubah peta pekerjaan dengan sangat cepat. Banyak pekerjaan hilang karena otomatisasi, sementara jenis pekerjaan baru butuh keterampilan berbeda. Ditambah lagi, banyak Gen Z dan Milenial bekerja sebagai freelancer, kontraktor, atau memiliki pendapatan yang fluktuatif.

Model karier seperti ini memberi fleksibilitas, tapi juga meningkatkan kecemasan: tidak ada jaminan gaji tetap, tunjangan minim, dan risiko burnout lebih tinggi.

3. Ekspektasi sosial dari media sosial

Media sosial menciptakan lingkungan perbandingan yang konstan. Saat teman sebaya memamerkan liburan ke luar negeri, gadget terbaru, atau pencapaian karier tertentu, mudah sekali merasa tertinggal.

Perbandingan ini memicu tekanan internal: “Mengapa aku belum bisa seperti mereka?”
Padahal, sering kali yang terlihat adalah highlight, bukan realita.

4. Minimnya edukasi finansial sejak dini

Banyak anak muda memasuki dunia kerja tanpa memahami dasar-dasar budgeting, pengelolaan utang, atau investasi. Akibatnya, ketika menghadapi situasi seperti cicilan, pajak, atau pengeluaran tak terduga, mereka mudah panik atau merasa tidak mampu.

Minimnya literasi finansial inilah yang membuat keputusan sederhana pun terasa rumit dan penuh kecemasan.

Gejala Financial Anxiety yang Sering Tidak Disadari

Financial anxiety tidak selalu muncul dalam bentuk “takut miskin”. Gejalanya bisa lebih halus, seperti:

✔ Menghindari melihat saldo rekening

Kamu menunda buka aplikasi bank karena takut terpukul oleh kenyataan.

✔ Stres saat membayar tagihan

Tagihan bulanan bisa memicu rasa bersalah dan tekanan emosional.

✔ Overthinking tentang masa depan

Mulai dari takut tidak mampu pensiun, takut kehilangan pekerjaan, hingga takut tidak bisa mengejar standar sosial.

✔ Sulit tidur atau mudah marah terkait keputusan finansial

Gangguan emosional yang tampaknya kecil bisa jadi indikator kecemasan yang lebih besar.

✔ Belanja impulsif sebagai “pelarian”

Ketika stres, kamu justru mengeluarkan uang secara tidak terencana untuk merasa lebih baik sementara.

Jika kamu mengalami beberapa gejala di atas, itu tidak berarti kamu tidak kompeten secara finansial—justru menunjukkan bahwa kamu peduli, tetapi masih mencari cara yang lebih sehat untuk mengelolanya.

Cara Mengatasi Financial Anxiety dengan Lebih Tenang dan Terarah

Kabar baiknya, financial anxiety bisa diatasi. Tidak ada solusi instan, tapi ada banyak langkah bertahap yang dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa kendali atas uangmu.

1. Mulai dengan melihat kondisi finansialmu apa adanya

Banyak kecemasan muncul karena kita tidak tahu posisi kita saat ini. Alih-alih menghindar, coba lakukan:

  • Cek total pemasukan dan pengeluaran bulanan

  • Catat utang, cicilan, dan komitmen lainnya

  • Hitung aset: tabungan, investasi, atau dana darurat

Mengetahui posisi keuangan secara jelas memberikan landasan yang kuat untuk membuat keputusan.

2. Buat sistem, bukan sekadar niat

Bukan hanya soal disiplin, tapi membangun sistem yang memudahkanmu:

  • Atur auto-debit tabungan atau investasi

  • Bagi rekening: operasional, tabungan, lifestyle

  • Gunakan aplikasi budgeting yang user-friendly

Ketika keuangan berjalan otomatis, beban mental untuk “mengatur semuanya sendiri” akan berkurang.

3. Tetapkan tujuan yang realistis dan bertahap

Tujuan besar seperti rumah, pensiun, atau kebebasan finansial mudah membuat kita overwhelmed.
Pecah menjadi langkah-langkah kecil:

  • Target dana darurat 1 bulan dulu, baru 3–6 bulan

  • Mulai investasi kecil, konsisten dulu, besar kemudian

  • Kurangi utang sedikit demi sedikit

Setiap pencapaian kecil akan meningkatkan self-confidence finansial.

4. Batasi perbandingan di media sosial

Mudah terseret dalam lingkaran “orang lain lebih sukses”. Cobalah:

  • Kurangi waktu scroll

  • Ikuti akun finansial edukatif, bukan pamer kekayaan

  • Sadari bahwa timeline bukan realita

Kesehatan mentalmu lebih penting daripada validasi digital.

5. Bicarakan tentang uang dengan orang tepercaya

Kecemasan sering tumbuh karena kita memendam semuanya sendiri.
Coba berbicara dengan:

  • pasangan

  • teman dekat

  • mentor

  • atau perencana keuangan profesional

Diskusi yang sehat membantu kamu melihat perspektif baru dan menemukan solusi yang lebih rasional.

6. Pertimbangkan dukungan profesional

Jika kecemasan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, tidak ada salahnya mencari bantuan dari psikolog.
Financial anxiety adalah isu mental yang valid, bukan kelemahan pribadi.

7. Edukasi diri tentang keuangan

Tidak harus jadi ahli, tetapi pahami dasar-dasarnya. Banyak sumber gratis tentang budgeting, investasi, utang, hingga wealth management yang bisa membantu kamu merasa lebih percaya diri.

Ketika pemahaman meningkat, rasa kontrol pun ikut naik.

Kesimpulan: Kamu Tidak Sendirian, dan Kamu Bisa Mengatasinya

Financial anxiety adalah pengalaman yang umum bagi generasi muda, terutama di era penuh ketidakpastian. Namun kecemasan bukan berarti kamu gagal atau tertinggal. Justru, ini tanda bahwa kamu peduli dengan masa depanmu.

Dengan membangun pemahaman, membuat sistem yang mendukung, serta melatih mindset yang lebih sehat, kamu bisa berubah dari “takut lihat saldo” menjadi seseorang yang lebih percaya diri dalam mengelola uang.

Ingat: perjalanan finansial bukan perlombaan. Setiap orang punya waktunya masing-masing. Yang terpenting adalah bergerak maju, sedikit demi sedikit—dan tahu bahwa kamu tidak harus menjalaninya sendirian.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.