Belakangan ini, media sosial ramai membicarakan istilah “burnout” yang semakin sering dialami oleh anak-anak muda, terutama Gen Z. Tapi menariknya, banyak dari mereka merasa burnout bahkan sebelum benar-benar masuk dunia kerja. Kok bisa?
Apa Itu Burnout?
Menurut WHO, burnout adalah kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental yang disebabkan oleh stres berkepanjangan di tempat kerja. Tapi di era sekarang, batas antara dunia kerja dan kehidupan pribadi makin kabur—apalagi sejak tren hustle culture merajalela.
Gen Z, yang lahir sekitar tahun 1997–2012, seringkali dibesarkan dengan tuntutan “harus sukses sebelum usia 25”. Padahal, realitasnya jauh dari gambaran tersebut. Belum sempat benar-benar berkarier, mereka sudah dicekoki konten motivasi toxic dan perbandingan hidup lewat TikTok dan Instagram.
Kenapa Gen Z Mudah Burnout?
Berdasarkan laporan dari Kompas.com (2025) dan CNN Indonesia, ada beberapa alasan utama:
1. Tekanan sosial dari media digital.
Melihat teman seusia beli rumah, punya passive income, atau bekerja di luar negeri bisa bikin seseorang merasa tertinggal.
2. Krisis ekonomi dan iklim kerja yang tidak stabil.
Banyak fresh graduate kesulitan cari kerja, gaji tidak sepadan, ditambah beban kerja yang multitasking
3. Batas waktu dan ekspektasi yang tidak realistis.
Target “mapan sebelum 30” jadi momok yang bikin cemas sendiri
4. Minimnya ruang aman untuk bercerita.
Banyak dari mereka takut dianggap lemah atau malas kalau curhat soal lelahnya hidup.
Menurut survei dari Vice ID (2024), 68% Gen Z di Asia Tenggara merasa tidak punya cukup dukungan emosional dari lingkungan sekitar.
Solusi atau Harus Bertahan?
Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar soal manja atau malas. Burnout adalah masalah kesehatan mental yang nyata. Maka, solusinya juga harus nyata:
1. Pentingnya edukasi tentang self-awareness dan batas wajar bekerja.
2. Perusahaan mulai wajibkan cuti mental dan jam kerja fleksibel.
3. Normalisasi istirahat dan proses lambat.
Dan yang paling penting: berhenti membandingkan hidup sendiri dengan highlight hidup orang lain di internet.
Gen Z bukan generasi lemah. Mereka hanya hidup di masa yang lebih cepat, lebih bising, dan lebih menuntut. Yang dibutuhkan bukan lagi semangat toxic positivity, tapi ruang aman untuk bernapas, jujur, dan tumbuh dengan cara mereka sendiri.
“Kita bukan malas. Kita hanya sedang lelah dengan dunia yang terus menyuruh kita berlari tanpa tahu arahnya ke mana.”
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.