Pernah nggak sih, kita dapat luka kecil? Mungkin goresan pisau waktu lagi asyik masak, atau jatuh pas olahraga. Ajaib ya, tubuh kita tuh punya "mekanisme super" buat benerin sendiri. Luka yang tadinya terbuka dan perih, pelan-pelan ditutup, diperbaiki, sampai akhirnya sembuh dan kadang cuma ninggalin bekas samar aja. Proses penyembuhan luka ini memang luar biasa canggih lho. Tapi, pernah nggak kamu dengar kalau gaya hidup kita, termasuk apa yang kita makan, bisa ikut campur dalam proses keren ini?
Salah satu pertanyaan yang sering banget muncul dan bikin penasaran adalah: apa iya sih, kalau kebanyakan makan manis-manis alias gula itu bisa bikin luka jadi susah sembuh?
Nah, pertanyaan soal gula dan penyembuhan luka ini bukan cuma mitos, lho. Dunia medis juga sering membahasnya, bahkan ada banyak penelitian yang mengupas tuntas hal ini. Jadi gini, secara ilmiah, memang ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa kadar gula darah yang terlalu tinggi, apalagi kalau dibiarkan terus-terusan dan nggak terkontrol dalam jangka waktu lama (ini kuncinya ya!), itu bisa banget mempengaruhi berbagai fungsi tubuh kita. Salah satunya, ya kemampuan tubuh kita untuk memperbaiki jaringan yang rusak tadi.
Gimana sih caranya gula 'ngerusak' proses ini? Salah satu jalur utamanya adalah lewat efeknya ke sistem kekebalan tubuh dan respons peradangan. Sebenarnya, peradangan itu perlu lho di awal proses penyembuhan. Ibaratnya kayak tim bersih-bersih darurat yang tugasnya singkirin kuman dan sel-sel mati di area luka. Tapi, kalau gula darahnya ketinggian, eh, radangnya malah jadi 'lebay' dan kronis, nggak kelar-kelar padahal udah nggak perlu. Peradangan yang berkepanjangan kayak gini bukannya bantu, malah bisa ngerusak jaringan sehat di sekitar luka. Apes, kan?
Belum lagi, sel-sel 'prajurit' kekebalan kita yang punya peran penting buat membersihkan luka dan mulai perbaikan, kayak makrofag dan neutrofil itu, kerjanya jadi nggak seoptimal kalau lingkungannya (darah) tinggi gula. Bayangin aja, mereka jadi kayak lemas dan nggak punya energi gitu. Akibatnya, kemampuan mereka buat ngelawan infeksi di luka juga ikutan turun drastis. Nah, ini yang bikin risiko luka jadi infeksi makin besar.
Nggak cuma soal radang dan 'prajurit' yang lemas, pembangunan 'pondasi' luka baru juga ikutan terganggu. Proses penting lainnya dalam penyembuhan adalah bikin jaringan baru, termasuk produksi kolagen. Kolagen ini semacam 'batu bata' utama yang bikin jaringan parut kita kuat dan nyambung lagi. Sayangnya, gula darah tinggi itu bisa ganggu proses 'pencetakan' kolagen baru. Bahkan, serat kolagen yang udah ada juga bisa 'dirusak' oleh gula berlebih melalui proses yang agak rumit namanya glikasi. Hasilnya? Jaringan parut yang terbentuk jadi nggak sekuat atau seelastis seharusnya. Agak ringkih gitu deh.
Belum selesai sampai di situ, gula berlebih (terutama yang kronis) sering banget bikin masalah di pembuluh darah kecil-kecil kita – istilah kerennya mikroangiopati. Padahal, pembuluh darah ini tugasnya kayak 'kurir ekspres' yang ngantar oksigen, nutrisi penting, dan sel-sel penyembuh ke area luka. Nah, kalau 'jalur distribusi' alias pembuluh darahnya rusak gara-gara gula, otomatis pengiriman pasokan vital ini jadi terhambat. Luka jadi kekurangan 'bahan bakar' buat nyembuhin diri dengan cepat dan baik.
Terus, siapa sih yang paling gampang kena dampak negatif gula ini? Ya jelas yang utama itu teman-teman dengan kondisi diabetes yang gula darahnya nggak terkontrol, ya. Kadar gula mereka memang sudah tinggi terus-terusan, jadi efeknya paling kentara dan sering bikin masalah kronis. Tapi, penting diingat, bahkan orang yang nggak punya diabetes pun, kalau sering banget ngalamin lonjakan gula darah gara-gara pola makan asal-asalan yang tinggi gula, itu juga bisa memberikan efek negatif, meskipun mungkin nggak separah penderita diabetes.
Jadi, balik lagi ke pertanyaan awal: benar nggak sih gula itu bikin luka susah sembuh? Jawabannya, secara umum, 'Ya', terutama kalau kita bicara tentang kondisi gula darah yang tinggi terus dan nggak terkontrol gara-gara kebiasaan makan yang buruk atau memang punya kondisi medis. Bukan berarti kalau kamu makan permen sebutir luka gores langsung nggak sembuh total ya! Intinya sih, menjaga kadar gula darah kita tetap stabil dan dalam batas normal itu penting banget. Ini bukan cuma buat kesehatan tubuh secara keseluruhan (biar nggak kena diabetes, obesitas, dll.), tapi juga secara spesifik buat 'bekal' tubuh kita biar bisa menyembuhkan luka, sekecil apapun itu, dengan optimal. Mengelola asupan gula dan pilih-pilih makanan yang seimbang itu langkah jitu buat kesehatan jangka panjang, termasuk buat 'tim penyembuh' dalam tubuh kita.
Sumber Referensi yang bisa dibaca lebih lanjut:
Pusat Informasi Kesehatan Global - Riset Pemulihan Jaringan: kesehatanglobal.org/risetpemulihan
Institut Riset Metabolik Indonesia - Publikasi Ilmiah: risetmetabolik.id/publikasimetabolik
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.