DPR dan kepolisian , dua institusi sasaran demonstrasi

DPR dan kepolisian , dua institusi sasaran demonstrasi

DPR dan kepolisian , dua institusi sasaran demonstrasi

Sejak akhir Agustus yang lalu, tepatnya 25 Agustus kemarin linimasa perpolitikan tanah air diwarnai aksi demonstrasi yang dilakukan sekelompok masyarakat terutama buruh dan mahasiswa yang menyasar gedung Parlemen DPR/MPR sebagai akibat dari kebijakan kenaikan berbagai tunjangan anggota DPR yang mencapai lebih dari 100 Juta perbulan atau 3 juta perhari. Hal tersebut diperparah dengan aksi joget-joget yang dilakukakan sejumlah anggota dewan sesaat setelah pengumuman kenaikan tersebut pada sidang tahunan MPR. Dalam video yang beredar, tampak beberapa anggota DPR yang sebagian diisi para Artis seperti Uya Kuya, Eko Patrio dll tampak berdendang ria ditengah situasi masyarakat terutama ekonomi yang sedang susah akibat berbagai kenaikan pajak ditengah upaya negara dalam melaksanakan efisiensi. Dalam aksi yang dilakukan di Jakarta khususnya gedung DPR/MPR dan di sejumlah titik terjadi insiden seorang pengemudi Ojek online, Affan Kurniawan tertabrak kendaraan taktis Brimob yang mengakibatkan demonstrasi bertambah melibatkan para pengemudi ojek online yang dimulai pada 28 Agustus. Demonstrasi yang awalnya ditujukan kepada wakil rakyat di senayan ditambah ditujukan kepada institusi kepolisian yang diduga represif terhadap pendemo. Aksi demonstrasi terhadap dua institusi tersebut akhirnya tidak hanya terjadi di ibukota tetapi disejumlah daerah di tanah air bahkan disertai tindakan anarkis akibat kemarahan dan orang-orang tidak bertanggung jawab. DPRD Kota Makassar menjadi sasaran pembakaran, begitupun dengan DPRD Kota Surakarta, DPRD Kabupaten Cilacap, DPRD Kabupaten Pekalongan di Kajen dan sejumlah daerah lain. Berbagai institusi kepolisian didaerah juga menjadi sasaran pengrusakan dan pembakaran seperti Mapolsek Tegalsari, Kota Surabaya. Dalam demo yang berlangsung beberapa hari tampak jelas bahwa sasaran mereka memang dua institusi yakni DPR dan Kepolisian yang memang menurut survey merupakan institusi yang memiliki citra buruk di masyarakat (survey Litbang Kompas, September 2024).

Hal tersebut harusnya menjadi pemacu bagi dua institusi untuk memperbaiki citranya di masyarakat, bukan malah memamerkan rasa ketidaksimpatian dengan cara memposting konten yang mengejek masyarakat. Kita bisa lihat, meskipun penjarahan tidak dibenarkan, tetapi aksi penjarahan kemarin juga hanya ditujukan kepada rumah anggota dewan dan pejabat yang selama ini melakukan aksi kontroversial, misalnya Uya Kuya yang merupakan anggota DPR Fraksi PAN dari daerah pemilihan DKI Jakarta 2, memposting video yang intinya gaji 3 juta perhari aja dipermasalahkan, saya artis 10 Juta perjam, Kedua Eko Patrio setelah dihujat Netizen atas Joget-jogetnya malah membuat konten nge-DJ dengan suara bising dengan gesteur mencemooh masyarakat. Nafa Urbach juga demikian ia mengatakan tak bisa naik kendaraan umum dan sangat bergantung pada tunjangan transportasi. Sementara itu rumah ketua DPR, Puan Maharani juga menjadi sasaran massa akibat sikap puan yang tidak tegas membuat kebijakan terhadap lembaga yang dipimpinnya.

Demo yang terjadi selama kurang lebih satu pekan akhirnya agak mereda setelah Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan sejumlah Ketua Parpol dan juga meminta bantuan ormas Islam dan Presiden berjanji akan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Presiden juga mengapresiasi sejumlah Parpol yang menonaktifkan anggota DPR nya di parlemen yang selama ini membuat konten kontroversial meskipun banyak pengamat mengatakan kalau istilah non aktif itu tidak termuat dalam undang-undang MPR, DPR, DPRD, DPD (UU MD3) yang mana non aktif itu adalah anggota DPR tidak bekerja tapi masih menerima gaji. Apresiasi sangat tinggi kita berikan kepada sejumlah pejabat yang berani menemui para demostran sejak awal seperti Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X yang menemui pendemo di depan Mapolda DIY dan berjanji menyampaikan aspirasi ke Pemerintah Pusat dan juga Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang melakukan tindakan serupa dari pada anggota DPR yang  bersembunyi dan meminta maaf lewat konten ketika sudah terdesak. sekian

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.