Dibungkus guyonan, diselipkan luka: Ketika bullying dianggap hiburan

Setiap tawa yang menyakitkan adalah luka yang tak terlihat namun sangat nyata.

Dibungkus guyonan, diselipkan luka: Ketika bullying dianggap hiburan

Bullying seringkali dianggap sebagai tindakan serius yang menyakitkan secara fisik maupun mental. Namun, di banyak lingkungan, perilaku ini justru dibalut dalam bentuk guyonan atau candaan yang dianggap sebagai hiburan biasa. Fenomena ini tidak hanya membingungkan korban, tapi juga menyulitkan upaya pencegahan karena pelaku dan penonton menganggapnya hal yang lumrah, bahkan menghibur.

Penelitian di berbagai lingkungan pendidikan menunjukkan bullying kerap dipandang sebagai tradisi atau candaan. Di Indonesia, kasus bullying yang dibungkus dalam guyonan dan tradisi bukanlah hal yang jarang terjadi. Menurut laporan BBC News Indonesia dan Detik.com, Salah satu kasus yang cukup menggemparkan terjadi di Binus School Serpong pada awal tahun 2024. Seorang siswa menjadi korban bullying yang berujung luka fisik serius, seperti memar di leher, bekas sundutan rokok, dan luka bakar di tangan. Pelaku bullying berjumlah 12 orang, termasuk delapan anak berkonflik dengan hukum (ABH), yang melancarkan tindakan kekerasan ini dalam dalih tradisi masuk kelompok tertentu. Korban juga mengalami trauma psikologis yang mendalam akibat perlakuan tersebut.

Di sekolah umum, bullying juga sering disamarkan sebagai humor atau cara menunjukkan dominasi sosial. Pelaku merasa mendapat pengakuan dan kepuasan dari teman-temannya ketika berhasil mengejek korban. Sementara itu, korban dan penonton cenderung diam karena takut menjadi sasaran berikutnya. Dengan demikian, bullying yang dibungkus candaan justru memperkuat hierarki sosial di kalangan remaja.

Dari sisi psikologis, pelaku bullying memaknai tindakannya sebagai sumber hiburan dan cara mencari identitas serta pengakuan sosial. Penelitian pada remaja pelaku bullying mengungkap bahwa mereka menikmati sensasi dominasi yang diperoleh dari tindakan tersebut. Ini menjelaskan mengapa bullying yang dibalut humor sulit dihentikan; pelaku merasa mendapat “hadiah” berupa status sosial dan kesenangan pribadi.

Namun, di balik tawa dan candaan tersebut, korban akan menanggung dampak psikologis yang serius, seperti perasaan terhina, depresi, kecemasan,kehilangan kepercayaan diri hingga penurunan prestasi akademik. Lebih parah lagi, budaya yang menganggap bullying sebagai guyonan membuat lingkungan sekitar menjadi acuh tak acuh, sehingga korban tidak mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.

 

Cara mencegah bullying yang dibungkus guyonan

Mengatasi bullying yang dibalut candaan memerlukan kesadaran bahwa humor tidak boleh menjadi alat untuk menyakiti orang lain. Berikut langkah konkret yang dapat diambil oleh sekolah, guru, orang tua, dan siswa untuk mencegah bullying:

1. Membangun Lingkungan Sekolah yang Positif dan Inklusif

Sekolah perlu menciptakan budaya saling menghargai dan menghormati antar siswa. Lingkungan yang mendukung empati dan toleransi akan mengurangi potensi bullying

2. Edukasi dan Sosialisasi tentang Dampak Buruk Bullying

Memberikan pemahaman kepada siswa, guru, dan orang tua mengenai berbagai bentuk bullying dan dampaknya dapat meningkatkan kesadaran serta menumbuhkan rasa empati.

3. Mengajarkan Keberanian dan Cara Menghadapi Intimidasi

Anak-anak perlu diajarkan untuk berani melawan bullying dengan cara yang aman, seperti mengabaikan pelaku atau melapor kepada orang dewasa yang dipercaya. Ini penting agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri dan berhak merasa aman.

4. Pengawasan dan Kepekaan Guru

Guru harus jeli dan peka terhadap tanda-tanda bullying, termasuk perilaku yang tampak sebagai candaan tapi berpotensi menyakiti. Respons cepat dan perhatian guru sangat penting untuk mencegah bullying berkembang

5. Menciptakan Ruang Kelas yang Aman dan Mendukung

Ruang kelas harus menjadi tempat yang aman untuk belajar dan berinteraksi tanpa rasa takut. Guru dapat membangun kedekatan antar siswa dan menetapkan aturan anti-bullying yang disepakati bersama.

6. Melibatkan Orang Tua Secara Aktif

Orang tua perlu dilibatkan dalam penanganan bullying, baik sebagai pengawas maupun pendukung anak di rumah. Komunikasi antara sekolah dan orang tua sangat penting agar penanganan bullying lebih efektif.

7. Penegakan Aturan yang Tegas

Sekolah harus memiliki aturan anti-bullying yang jelas dan sanksi tegas bagi pelaku. Aturan ini harus disosialisasikan dan diterapkan secara konsisten agar anak-anak memahami konsekuensinya

Bullying yang dibungkus dalam guyonan bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Di balik tawa yang dipaksakan, tersimpan luka psikologis yang dapat berdampak jangka panjang bagi korban. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat, sekolah, guru, orang tua, dan siswa harus bekerja sama untuk mengubah paradigma bahwa bullying bukan hiburan atau sekedar guyonan semata, melainkan kekerasan yang harus dihentikan. Dengan menciptakan lingkungan yang inklusif, edukasi yang tepat, pengawasan yang ketat, serta aturan yang tegas, kita dapat memutus rantai bullying dan membangun generasi yang lebih empatik dan aman.

Mari bersama-sama kita hentikan bullying dengan tidak membiarkan guyonan menjadi alasan untuk menyakiti. Karena setiap tawa yang menyakitkan adalah luka yang tak terlihat namun sangat nyata.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.