Mata Malam merupakan novel karya Han Kang yang pertama kali terbit pada tahun 2014. Novel yang memiliki judul asli Human Act ini kemudian diterbitkan dalam bahasa Indonesia lewat Penerbit Baca. Novel ini terdiri dari tujuh bab yang masing-masing bercerita tentang kisah tokoh berbeda, tetapi saling berhubungan.
Novel ini mengisahkan sejarah Korea Selatan, yaitu Peristiwa Gwangju yang berkecamuk pada akhir tahun 1979-an hingga awal tahun 1980-an. Novel ini dibuka dengan kisah Dong Ho yang tengah mencari sahabat karibnya, Jong Dae setelah hilang akibat kerusuhan di tengah kota. Upaya pencarian ini membawa Dong Ho ke kantor pemerintahan daerah yang digunakan untuk menyimpan jenazah korban penembakan militer.
Di sanalah ia bertemu relawan dengan latar belakang berbeda-beda. Satu per satu, kisah hidup tokoh yang memilukan pun diceritakan. Novel ini diakhiri dengan bab yang mengisahkan kehidupan keluarga korban dari kerusuhan Gwangju.
Buat kamu yang suka dengan sejarah, novel ini wajib banget masuk list bacaan kamu. Biar makin yakin, yuk simak 5 alasan kamu wajib baca novel Mata Malam berikut ini!
1. Diangkat dari Sejarah Asli
Latar belakang sejarah yang diangkat dalam novel ini merupakan peristiwa asli yang terjadi di Gwangju. Pada tahun 1979, Korea Selatan menghadapi gejolak politik setelah presiden Park Chung Hee terbunuh dan pemerintahan diambil alih oleh Jenderal Chun Doo Hwan dan Roh Tae Woo. Hal ini membuat pemerintahan Korea Selatan didominasi oleh kekuatan militer.
Transisi pemerintahan ini justru memantik amarah publik karena rakyat ingin perubahan secara demokrasi. Gejolak politik diwarnai dengan sejumlah aksi dari berbagai kalangan masyarakat, mulai dari buruh hingga mahasiswa. Pada 18 Mei 1980, aksi demonstrasi mengalami puncaknya setelah massa dibubarkan oleh militer secara paksa dan bengis hingga menimbulkan banyak korban jiwa.
2. Eksplorasi Emosi Kemanusiaan dan Psikologis
Berbeda dengan novel sejarah yang pada umumnya mengeksplorasi peristiwanya, Mata Malam justru lebih mengedepankan kisah-kisah perorangan yang mengalami langsung sejarah kelam itu. Tiap tokoh memiliki kisah hidup yang berbeda.
Ada yang menjadi relawan mengurus jenazah korban militer, ada pula tokoh yang meninggal karena disiksa pihak militer. Selain itu, ada pula tokoh sipil yang mengalami kesulitan bekerja di bidang media karena sensor dari pemerintah. Pengalaman semua tokoh diceritakan dengan lugas dan jelas. Bahkan, Han Kang mendeskripsikan peristiwa kengerian saat tokoh menjadi korban penculikan dan penyiksaan militer.
Aspek emosi dan psikologis memegang peran penting dalam penceritaan novel. Pembaca bisa merasakan kepedihan tiap tokoh, ketegangan suasana Korea Selatan saat itu, hingga kesedihan ditinggal orang terkasih. Di sisi lain, pembaca juga akan merasakan rasa putus asa akibat situasi yang tidak menentu.
3. Gaya Penceritaan Unik
Novel ini hadir dengan gaya penceritaan yang berbeda. Jika biasanya sudut pandang cerita menggunakan akuan atau diaan, di sini Han Kang justru menggunakan kata ganti "kamu" sehingga pembaca seolah diajak langsung untuk melihat kisah hidup para tokohnya.
Selain itu, setiap bab novel ini merupakan kisah hidup tokoh yang berbeda. Meskipun begitu, tiap tokoh rupanya memiliki pengalaman yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Tak hanya itu, Han Kang juga tampaknya berusaha mengeksplorasi pengalaman batin pembaca lewat gaya cerita yang unik dari sudut pandang tokoh yang sudah menjadi arwah.
4. Relate dengan Sejarah Indonesia
Pergerakan di Gwangju pada Mei 1980 memiliki kemiripan dengan peristiwa demonstrasi Mei 1998 di Indonesia. Pergerakan Gwangju dilatarbelakangi oleh penolakan terhadap pemerintahan Mayor Jenderal Chun Doo Hwan yang kental dengan nuansa militer. Peristiwa ini menjadi awal pergerakan sipil yang menuntut pergantian pemerintahan secara demokratis. Sembilan tahun pasca kepemimpinan, rezim Chun berhasil dikalahkan setelah masyarakat menuntun pemilu secara demokrasi.
Sementara di Indonesia, Peristiwa Mei 1998 merupakan titik jatuhnya Pemerintahan Presiden Soeharto setelah menjabat selama 32 tahun. Kala itu, demonstrasi yang didominasi mahasiswa menggelar aksi di sejumlah kota di Indonesia. Aksi massa ini didasarkan pada tuntutan agar Presiden Soeharto segera mundur dari kepemimpinannya.
Situasi sejarah yang berbeda waktu ini memiliki kemiripan karena didasarkan pada kepemimpinan presiden yang otoriter dan diktator. Selain itu, sejumlah aksi massa yang terjadi selalu diiringi dengan tindakan opresi dari militer. Hal inilah yang membuat novel Mata Malam terkesan relevan dengan sejarah Indonesia.
5. Peraih Nobel Sastra
Han Kang adalah penulis Korea Selatan yang pertama meraih Penghargaan Penghargaan Nobel Sastra, tepatnya pada tahun 2024. Ia dianggap sebagai penulis yang mampu menembus batas genre, mengeksplorasi sisi kesedihan, kekerasan, hingga patriarki dengan sangat baik. Selain itu, Han Kang pandai menyusun cerita dengan gaya prosa yang puitis dan alur yang intens menampilkan trauma sejarah dan kerapuhan manusia seperti di novel Mata Malam.
Itulah alasan mengapa novel ini wajib kamu baca. Jadi tunggu apa lagi? Yuk segera baca Mata Malam!
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.