Jutaan tetesan embun jatuh membasahi segala objek yang tidak memiliki pelindung. Di dalam sebuah ruangan minim cahaya, aku terlelap dalam cerita yang dikendalikan oleh sukmaku. Semua orang menyebutnya sebagai “bunga tidur”.
Waktu menunjukkan dini hari, namun mimpi itu terasa nyata.
Kau memberanikan diri untuk menyapa, hal itu membuatku sangat gembira. Dalam sebuah benda pipih dengan layar yang menyala, tertulis namamu. Katanya, kau mengikutiku, benarkah?
Jemari ini seolah memiliki kekuatan di luar batas kemampuanku untuk bergerak, menyentuh berbagai huruf yang ada di layar itu, merangkainya menjadi kalimat per kalimat.
Tapi siapa wanita yang tiba-tiba melayangkan ujaran kebencian padaku? Dia merendahkanku, seolah-olah aku telah mengambilmu darinya. Apakah dia menganggapmu sebagai rumah?
Sekuat tenaga aku membantah argumennya, menjelaskan bahwa apa yang dia pikir fana. Tunggu, kau di mana? Mengapa tidak melakukan pembelaan? Ataukah kau tidak tahu bahwa aku sedang dihakimi olehnya? Tolong jelaskan sedikit.
Ragaku menarik sukma dengan sangat keras, mataku tak lagi terpejam. Sang kardio berdetak lebih cepat dari biasanya. Secepat mungkin aku menepis mimpi buruk itu.
Tidak… hal itu tidak mungkin terjadi, itu hanya mimpi. Namun, mengapa terasa sangat nyata? Rasa sakitnya melebihi rasa sakit yang kurasa ketika melihat gambar dirimu dengannya.
Seketika memoriku berputar, berbalik ke belakang, membongkar arsip bunga tidur beberapa bulan yang lalu. Kau berjalan dengan seorang wanita, aku sakit. Ku pikir itu adalah kekasihmu, namun dugaanku kau sanggah dengan kalimat “Dia kakak iparku”….
Beban di dada terasa berkurang ketika kau mengatakan hal demikian. Satu kalimat yang masih kuingat dalam arsip itu, kau berkata “Terima kasih, sampai sekarang aku masih mencintaimu”…
Kupikir itu adalah sebuah pertanda bahwa kita akan segera bertemu, tapi ternyata tidak. Mimpi itu adalah sebuah sinyal bahwa kau telah berpunya. Aku salah menafsir, berjuta kata maaf kuucapkan untuk diriku sendiri atas kelalaianku.
Mengapa semesta sangat gemar bermain denganku? Apakah ia tak tahu bahwa Tuhan juga memberiku hati?
Jika pada akhirnya kau tidak berada di garis finish itu, mengapa tidak beranjak dari bunga tidurku? Haruskah aku memerintahkan sukmaku untuk mengusirmu?
Pantaskah aku mengatakan rindu untuk seseorang yang bahkan tidak pernah mengukir kisah bersamaku?
Tolong dengarkan...
Tolong bantu aku...
Bawa dia untukku, atau hilangkan selamanya dariku.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.