Bluetooth. Nama Seorang Raja yang Dijadikan Fitur Gadget

Artikel ini cocok dibaca bagi kalian yang penasaran akan asal-usul dan sejarah "Kenapa bisa dinamai Bluetooth?"

Bluetooth. Nama Seorang Raja yang Dijadikan Fitur Gadget

Kirim foto, dokumen, lagu, dan beberapa file antar perangkat menggunakan fitur konektivitas nirkabel yang disebut Bluetooth. Ya, Bluetooth-yang secara harfiah diartikan gigi biru-salah satu fitur bawaan smartphone dan perangkat gadget sekarang ini. Hanya membutuhkan sedikit effort untuk menemukannya di kolom control center smartphone kalian.

 

Bluetooth pernah menjadi salah satu fitur unggulan dan bahkan fitur favorit di masanya-sekitar tahun 2000-2010an-yang kemudian menjadi fitur standar untuk konektivitas nirkabel di berbagai perangkat.

 

Generasi X, Y (Millennial) dan Gen-Z tentulah tidak asing dengan fitur wireless ini. Dulu  sebelum merebaknya penggunaan aplikasi messaging macam BBM, Line, WeChat, Facebook Messenger, WhatsApp dan Telegram seperti sekarang ini setiap kumpul atau nongkrong bareng temen, mungkin waktu main game, ngobrolin hal random, bahkan ghibah sekalipun musti ada salah satu atau bahkan beberapa yang riweuh hanya persoalan transfer file. Ntah apapun file yang ditransfer, bisa jadi game offline yang pada saat itu ukurannya masih ringkas dan terjangkau, bisa video yang sedang booming saat itu, atau bahkan foto random dan wallpaper catchy.

 

Keberadaan fitur Bluetooth bermaksud mempermudah konektivitas antar perangkat, namun diantara kemudahan yang didapat kita semua pasti pernah mendapati suatu hal yang menjengkelkan saat sedang melakukan proses transfer file. Kemampuannya yang hanya bisa memuat transfer speed nggak lebih dari 1 Mb (baca : Megabit) per detik membuat penggunanya dipaksa untuk terus sabar-dan mungkin tabah. Belum lagi kalau terkadang file yang ditransfer tiba-tiba corrupt-bisa dibilang gagal transfer, sia-sialah penantian yang berakhir bagong tersebut.

 

Bisa dibayangkan transfer beberapa file gambar yang total ukuran file-nya gak lebih dari 15 MB (baca : Megabyte) saja memakan waktu sekitar 4 menit lebih sekian detik, apalagi kalau transfer file video atau aplikasi yang ukurannya bisa puluhan bahkan ratusan Megabyte. Duh, kudu siapin cemilan dan minuman ringan sangking lamanya, mending ditinggal nonton series Squid Game Season 3.

 

Terlepas dari drama lelet dan gagal transfer file, bagaimanapun juga eksistensi fitur Bluetooth sangatlah membantu urusan umat manusia dan mereka-mereka yang produktif dengan mobilitas tinggi. Nah, bagaimana asal-muasal Bluetooth dan kenapa bisa dinamai demikian?

 

Penemuan Bluetooh

 

Seorang engineer (insinyur) dari Belanda bernama Jaap Haartsen menemukan Bluetooth pada tahun 1994. Ia mengembangkan teknologi baru ini di perusahaan Ericsson. Eh, tapi ini bukan Sony Ericsson lho, beda!

 

Jaap Haartsen memiliki mandat untuk menemukan koneksi radio jarak pendek yang mana nantinya dipergunakan untuk memperluas fungsionalitas telepon selular. Kemudian ditemukanlah Bluetooh, yang cara kerjanya menggunakan gelombang radio dengan frekuensi tinggi untuk menghubungkan antar perangkat eletronik secara nirkabel atau istilah populernya wireless.

 

Kenapa Dinamai Bluetooth?

 

~Here’s the #funfact we’ve been waiting for.

Penamaan “Bluetooth” sendiri diambil dari nama seorang raja yang hidup sekitar abad 10, Harald Blatand. Nama Harald Blatand kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai Harald “Bluetooth”. Konon julukan tersebut disebabkan karena gigi Raja Harald Blatand berwarna gelap sesuai dengan definisi Bluetooth yang secara harfiah berarti "gigi (yang berwarna) biru". Wah, sungguh tidak disangka, bahkan seorang raja pun memiliki gigi seperti itu.

 

~Apa hubungannya teknologi konektivitas wireless dengan kehidupan seorang raja di abad 10? 

Jadi, Raja Harald Bluetooth yang ternyata seorang viking, dia memimpin dan menguasai wilayah Denmark dan Norwegia pada tahun 958 hingga 985. Raja Harald Bluetooth memiliki mandat untuk menyatukan dua wilayah tersebut yaitu Denmark dan Norwegia. Dari peristiwa penyatuan dua wilayah tersebut yang membuat Jim Kardach seorang insinyur dari perusahaan Intel terinspirasi dan mengusulkan nama “Bluetooth” untuk teknologi wireless yang sedang dikembangkan oleh Jaap Haartsen. Jim Kardach melihat kesamaan penyatuan Denmark dan Norwegia sama dengan tujuan pembuatan teknologi wireless untuk menyatukan dan menghubungkan berbagai jenis perangkat.     

 

Popularitas Bluetooth

 

Pada tahun 1999, Bluetooth 1.0  dirilis. Perangkat aksesori gadget seperti headset, hands-free dan headphone mulai digunakan. Fitur wireless ini semakin populer dengan munculnya ponsel yang mendukung teknologi ini. Pada saat itu, Headset Bluetooth menjadi aksesori populer untuk melakukan panggilan tanpa genggam (hands-free).

 

Tahun 2004 Bluetooth 2.0 dirilis dengan peningkatan kecepatan transfer data, menjadikannya lebih cocok untuk aplikasi streaming audio. Tahun 2010 hingga saat ini, Bluetooth menjadi standar untuk konektivitas nirkabel di berbagai perangkat, termasuk ponsel, tablet, speaker, headphone, dan perangkat wearable lainnya.

 

Walau Bluetooth (pernah) begitu populer sebagai fitur transfer file secara wireless, namun sekarang penggunaannya mulai berkurang. Sejak tahun 2012 sudah mulai dikembangkan aplikasi messaging yang mendukung fitur kirim multi-media, seperti Line, WhatsApp, Telegram dan sebagainya yang kita kenal sekarang ini.

 

Google juga sudah mengembangkan fitur wireless transfer alternatif bernama Quick Share (sebelumnya bernama Nearby Share) yang sudah built-in di sistem operasi Android, di mana Apple iPhone juga memiliki fitur serupa yang disebut AirDrop. Kemampuan transfer file antar-perangkat menggunakan Quick Share bahkan jauh lebih efisien berkali-kali lipat dibanding menggunakan Bluetooth. Namun penggunaannya terbatas hanya untuk transfer file antar smartphone secara wireless, tidak lebih.

 

Terlepas dari apapun, Bluetooth tetap menjadi teknologi yang banyak digunakan untuk aktifitas wireless jarak pendek seperti koneksi antar-perangkat wearable. Dengan pengembangan lebih advanced seperti BLE (Bluetooth Low Energy) yang sangat bermanfaat dan efisien untuk perangkat IoT (Internet of Things) dan TWS (True Wireless Stereo). Kalaupun ada yang masih menggunakan Bluetooth untuk transfer file, kemungkinan mereka terpaksa karena cuma memiliki perangkat jadul atau bahkan hanya ingin nostalgia dengan drama lelet, meski terdengar tidak mungkin.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.