Berbahasa Indonesia, berterima kasih pada sejarah

Di setiap kata yang kita tulis dan ucap, ada jejak sejarah dan makna persatuan

Berbahasa Indonesia, berterima kasih pada sejarah

Berbahasa Indonesia, Berterima Kasih pada Sejarah

Di setiap kata yang kita tulis dan ucap, ada jejak sejarah dan makna persatuan

Setiap kata yang kita ucapkan hari ini adalah hasil dari perjalanan panjang sejarah. Di tahun 1928, para pemuda menegaskan satu tekad: bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu—Bahasa Indonesia. Dari sanalah semangat persatuan tumbuh, menjembatani perbedaan yang membentang dari ujung timur hingga barat nusantara.

Kini, di tengah dunia yang kian global, Bahasa Indonesia kadang dianggap kurang modern atau terlalu formal. Padahal, menggunakan bahasa sendiri dengan baik dan benar bukan tanda ketinggalan zaman. Justru itulah bentuk penghargaan terhadap sejarah dan perjuangan yang membuat kita bisa hidup di negeri yang satu ini.

Menjaga Bahasa Indonesia tak perlu dengan cara yang besar. Cukup lewat hal sederhana: menulis unggahan di media sosial dengan kalimat yang rapi, memilih kata dengan hormat, atau berbicara tanpa melupakan keindahan bahasa kita sendiri.

Berbahasa Indonesia dengan kesadaran adalah cara kita berterima kasih kepada mereka yang telah memperjuangkan persatuan. Di tengah dunia yang terus berubah, bahasa ini tetap menjadi jembatan—menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan kita bersama.
Mari terus menuturkannya dengan bangga, menuliskannya dengan cinta, dan merawatnya dengan kesadaran—karena di setiap kata, ada Indonesia yang hidup.

(Seckolastika Anggraini)

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.