Menjadi ibu rumah tangga dengan anak kecil bukanlah pekerjaan yang mudah. Orang lain mungkin hanya melihat dari luar: ibu di rumah bersama anak-anak, tampak sederhana. Padahal kenyataannya jauh berbeda. Ada tumpukan pekerjaan rumah, ada bayi yang menangis minta digendong, ada balita yang penuh energi dan ingin ditemani bermain, semua terjadi dalam waktu bersamaan.
Di tengah lelah itu, justru anak-anaklah yang mengajarkan kita pelajaran berharga: kesabaran. Sebuah sikap yang sering dibicarakan orang, tapi baru benar-benar terasa maknanya ketika kita menjalani peran sebagai orang tua.
1. Sabar Saat Semua Tidak Sesuai Rencana
Setiap orang tua pasti pernah membuat rencana harian. Misalnya, pagi mau beberes rumah, siang mau masak, sore mau mencuci baju. Tapi kenyataannya? Rencana bisa hancur dalam hitungan menit. Anak tiba-tiba rewel, sakit, atau tidak mau ditinggal.
Di sinilah kita belajar bahwa hidup bersama anak tidak bisa selalu berjalan sesuai keinginan kita. Kita belajar menurunkan ekspektasi, menerima keadaan, lalu beradaptasi. Sabar bukan berarti pasrah, tapi mampu menghadapi situasi dengan hati lebih tenang.
2. Sabar dalam Mengulang Hal yang Sama
Mengajarkan sesuatu pada anak membutuhkan pengulangan tanpa henti. Entah itu mengajarkan cara makan, cara membereskan mainan, atau sekadar mengatakan “tolong” dan “terima kasih”.
Kadang rasanya jenuh, capek, bahkan ingin menyerah. Namun, begitu anak berhasil melakukannya sendiri, semua rasa lelah terbayar lunas. Dari proses inilah kita sadar bahwa kesabaran itu berbuah manis. Tidak ada hasil instan, semua butuh waktu.
3. Sabar Menahan Emosi
Tak jarang anak membuat kita kehilangan kesabaran. Rumah berantakan, makanan tumpah, atau mereka menangis tanpa sebab yang jelas. Di saat seperti itu, marah seolah jadi pilihan termudah. Tapi setelah marah, biasanya justru timbul rasa bersalah.
Anak-anak mengajarkan kita untuk belajar menahan diri. Menarik napas dalam-dalam, menghitung sampai sepuluh, atau sekadar menjauh sejenak agar emosi mereda. Ternyata, ketika kita memilih sabar, suasana rumah jadi lebih tenang dan anak lebih mudah diarahkan.
4. Sabar Menghadapi Proses Tumbuh Kembang Anak
Setiap anak punya kecepatan masing-masing. Ada yang cepat jalan, cepat bicara, atau cepat belajar mengenal huruf. Ada juga yang butuh waktu lebih lama. Perbandingan sering kali membuat hati orang tua resah.
Namun dari anak, kita belajar bahwa tidak ada lomba dalam tumbuh kembang. Semua anak istimewa dengan caranya sendiri. Kesabaran membantu kita untuk menerima proses itu dengan lapang dada, tanpa terburu-buru.
5. Sabar Saat Harus Mengorbankan Diri
Menjadi orang tua berarti sering menomorduakan diri sendiri. Waktu tidur, waktu makan, bahkan waktu untuk sekadar minum kopi hangat kadang harus dikorbankan demi anak. Meski melelahkan, justru dari situ kita belajar arti kasih sayang yang tulus.
Sabar bukan hanya menahan marah, tapi juga kemauan untuk bertahan di tengah pengorbanan. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat anak tumbuh sehat dan bahagia, meski kita harus menunda kebutuhan pribadi.
6. Sabar dalam Menyemangati Diri Sendiri
Tak jarang ibu merasa tidak cukup baik. Merasa gagal karena rumah berantakan, anak rewel, atau pekerjaan rumah tak selesai. Padahal, setiap hari kita sudah berusaha sekuat tenaga.
Di sini kita belajar bersabar pada diri sendiri. Tidak perlu membandingkan hidup kita dengan orang lain. Cukup jalani hari demi hari dengan versi terbaik yang kita bisa. Kesabaran membuat kita lebih menghargai proses dan menghormati diri sendiri.
Tidak ada buku teori yang benar-benar bisa mempersiapkan kita menghadapi kehidupan sebagai orang tua. Justru anak-anaklah yang menjadi guru sabar terbaik. Dari mereka kita belajar menurunkan ego, menerima keadaan, menahan emosi, dan menikmati setiap proses tumbuh kembang.
Mungkin melelahkan, mungkin sering membuat kita hampir menyerah. Tapi pada akhirnya, kesabaran itu yang membuat kita kuat. Anak-anak bukan hanya anugerah, tapi juga cermin yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.
Iya jd ibu harus banyak sabarnya