Di jemuran belakang rumah, tergantung sebuah baju lama. Warnanya mulai pudar, kainnya agak tipis, dan ujung lengannya sedikit robek. Banyak yang menyarankan agar baju itu dibuang saja. Tapi pemiliknya, seorang ibu sederhana, menolak.
“Baju ini menemaniku sejak awal menikah,” katanya pelan sambil menepuk-nepuk kainnya. “Dia sudah ikut bekerja, berkeringat, dan banyak berjasa.”
Anak-anaknya tersenyum, tapi di hati mereka tertegun. Mereka baru sadar, betapa dalam makna kesetiaan yang dimiliki sang ibu. Ia tidak melihat baju itu dari rupanya, tapi dari cerita dan perjuangan yang pernah dilewati bersama.
Setiap kali mencuci baju itu, ibu tersebut selalu menggumam pelan,
“Ya Allah, sebagaimana Engkau menjaga baju ini agar tetap berguna, jagalah juga hatiku agar tetap sabar dan bersyukur.”
Kadang, kita terlalu cepat menilai sesuatu dari luarnya. Padahal, sesuatu yang tampak sederhana bisa menyimpan makna yang besar.
Baju lusuh itu seakan berbisik, “Aku memang tak seindah dulu, tapi aku masih berguna. Jangan buang sesuatu hanya karena ia tak sempurna.”
Firman Allah:
"Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh." (QS. Luqman: 18)
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.