Piala Dunia 2026 bakal digelar musim panas tahun depan. Kanada, Meksiko dan Amerika Serikat dipercaya menjadi tuan rumah turnamen sepak bola terbesar sejagat tersebut. Untuk pertama kalinya tiga negara sekaligus ditunjuk menggelar turnamen prestisius empat tahunan tersebut. Berbicara tentang piala dunia, terdapat satu negara yang selalu berpartisipasi atau tidak pernah absen yakni Brazil. Namun perjalanan selecao menuju turnamen kali ini terbilang tidak berjalan mulus. Reputasi sebagai pemegang gelar terbanyak tidak tampak jika melihat pencapaiannya setidaknya hingga matchday 14 zona Conmebol. Tim Samba saat ini terdampar di peringkat 4 papan klasemen dengan sisa 4 laga termasuk kekalahan memalukan 1-4 dari sang rival abadi, Argentina. untuk bisa lolos sebenarnya masih terbuka lebar. Dengan format baru untuk Conmebol 6 tiket otomatis seperti memberi keuntungan buat pemegang lima gelar piala dunia tersebut. Namun bukan itu yang menjadi masalah Brazil, tetapi pola permainan mereka lah yang belum terbentuk.
Brazil memang tidak pernah kering melahirkan talenta- talenta berbakat, tetapi masalah yang mereka alami adalah tidak adanya kerjasama tim yang solid. Para pemain sering menunjukkan skil individu mereka yang terkadang tidak perlu dibanding bekerjasama untuk menciptakan gol. Dari era Tite hingga Dorival Junior tidak ada yang mampu memadukan permainan tim dan menurunkan ego pemain bintang mereka. Akibatnya Brazil selalu kesulitan menciptakan gol dari kerja sama tim kecuali dengan aksi individu para bintangnya. Selain itu gaya pemain Brazil sekarang lebih suka selebrasi gol yang berlebihan daripada mengaplikasikan talenta hebat mereka untuk membangun timnas yang kuat.
Brazil juga tak lagi punya gelandang- gelandang yang jenius yang bisa mengatur irama permainan. Oleh karenanya, Federasi sepak bola Brazil (CBF) akhirnya menghadirkan gebrakan dengan dipilihnya pelatih asing pertama dalam sejarah tim nasional mereka. Tujuan CBF adalah memadukan gaya permainan atraktif dan menyerang yang selama ini menjadi filosofi tim Samba dengan gaya Catenacio ala negeri Italia yang dibawa pelatih Carlo Ancelotti.
Usai bergabung dengan tim Samba, Ancelotti langsung membuat kejutan dengan memanggil sejumlah pemain senior termasuk Casemiro. Tujuan adalah memimpin lapangan tengah Brazil agar kuat dan mudah bertransisi dalam posisi menyerang dan bertahan. Selama ini Casemiro dikenal sebagai gelandang bertahan yang cukup baik.
Dengan skuad yang cukup kompetitif yang dipanggil Carletto, diharapkan mereka bisa berpadu untuk melawat ke Ekuador dan menjamu Paraguay lima hari kemudian pada Juni mendatang. Usaha Brazil untuk ke piala dunia masih terbuka lebar, namun jika mereka gagal di sisa 4 laga yang dijalani bukan tak mungkin mereka hanya akan jadi penonton semata di 2026 mendatang.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.
BRAZIL semoga lolos