Segala sesuatu di alam semesta mungkin sudah ditakdirkan sebelumnya, menurut fisika
Pada pagi hari tgl 28 Juni 1914, seorang mahasiswa Serbia Bosnia bernama Gavrilo Princip berdiri di luar toko makanan Moritz Schiller di dekat Jembatan Latin di Sarajevo. Beberapa sa'at sekitar pukul 10.45 pagi, iring²-an mobil yg membawa Archduke (Adipati Agung) Franz Ferdinand, pewaris takhta Austria-Hongaria, melintas dalam jarak beberapa meter dari Princip, yang kemudian menghunus pistol kaliber 0,38 miliknya & melepaskan tembakan. Satu peluru mengenai leher sang bangsawan (Archduke) . Ia dilarikan ke kediaman gubernur militer untuk mendapatkan perawatan medis, tetapi pada pukul 11.30 pagi ia dinyatakan meninggal dunia.
Pembunuhan tersebut turut memicu Perang Dunia I. Para sejarawan memandang sejarah sebagai serangkaian peristiwa yg saling berhubungan namun sangat bergantung pada banyak sekali rantai sebab & akibat yg sebagian besar tidak terlihat. Jika pistol Princip macet, menurut pemikiran, sang archduke akan tetap hidup, dan sejarah Eropa selanjutnya mungkin akan sangat berbeda. Para penulis fiksi telah lama terpesona oleh pertanyaan bagaimana—jika ini (yang dikenal oleh para filsuf sebagai "𝘴𝘦𝘫𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘧𝘢𝘬𝘵𝘶𝘢𝘭" ) : Bagaimana jika Hitler tidak lulus dari sekolah seni ? Bagaimana jika Jerman mengembangkan bom atom sebelum Amerika ? Bagaimana jika John Lennon tidak pernah bertemu dgn Paul McCartney ? Bagaimana jika sebuah asteroid tidak memusnahkan dinosaurus sekitar 65 juta tahun yg lalu, dan reptil masih menguasai Bumi ?
Tentu saja, contingencies (kondisi yg bisa terjadi, tetapi belum tentu benar² terjadi) semacam itu mengasumsikan bahwa segala sesuatunya bisa saja berbeda—entah karena seseorang yg menggunakan 𝘧𝘳𝘦𝘦 𝘸𝘪𝘭𝘭 (kehendak bebasnya) bisa saja memilih tindakan lain (Princip bisa saja memilih untuk tidak menarik pelatuknya) atau krn peristiwa acak (seperti hantaman asteroid) bisa saja terjadi secara berbeda. Namun, apakah sikap ini sesuai dengan fisika ? Apakah hukum alam semesta mengizinkan adanya kehendak bebas ?
Para ilmuwan & filsuf telah memperdebatkan pertanyaan ini selama berabad-abad dan sering kali terpecah di antara dua kutub yg saling bersaing. Sebagian orang berpikir bahwa Anda jelas memiliki kehendak bebas. ( Bukankah Anda sudah membaca empat paragraf dari sebuah cerita yg Anda pilih sendiri untuk dibaca? ) Yang lain berpikir bahwa Anda tidak mungkin memiliki kehendak bebas karena hukum fisika mengatakan bahwa 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢—𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘥𝘪𝘢𝘯² 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢. Baru² ini, sebuah argumen mengapa 𝘲𝘶𝘢𝘯𝘵𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘤𝘩𝘢𝘯𝘪𝘤𝘴 bahkan lebih deterministik daripada yg diperkirakan oleh para fisikawan memicu perdebatan baru.
Gagasan bahwa fisika & free will (kehendak bebas) mungkin tidak sesuai setidaknya sudah ada sejak zaman Yunani kuno, tetapi hal ini diungkapkan dgn sangat kuat oleh sarjana & polymath Prancis Pierre-Simon Laplace. Mungkin, Laplace bertanya-tanya, 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢. Eksperimen pemikirannya melibatkan sebuah entitas, yang sekarang dikenal sebagai 𝘓𝘢𝘱𝘭𝘢𝘤𝘦’𝘴 𝘥𝘦𝘮𝘰𝘯 , yang dapat melihat posisi & momentum setiap partikel di alam semesta. Bagi 𝘥𝘦𝘮𝘰𝘯 seperti itu (tsb) , masa depan sudah pasti : hanya ada satu cara bagi alam semesta untuk berkembang. Cosmos (alam semesta) akan bersifat deterministik, yang berarti masa depan akan ditentukan secara unik oleh masa kini, yang pada gilirannya ditentukan secara unik oleh masa lalu. Jika Laplace benar, gagasan tentang contingency —𝘨𝘢𝘨𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 (sa'at) , apa yg akan terjadi selanjutnya akan menguap begitu saja.
Kemudian, pada awal abad ke-20, muncullah pergolakan kembar antara mekanika kuantum & relativitas. Mekanika kuantum secara khusus tampaknya memiliki implikasi yg mendalam untuk free will (kehendak bebas) dan contingency. Teori ini melihat alam sebagai sesuatu yg pada dasarnya tidak jelas : kuantitas yg didefinisikan dgn jelas dalam fisika klasik, seperti posisi atau momentum, tidak dapat ditentukan dalam mekanika kuantum—hingga kuantitas tersebut diukur. Ketika sebuah sistem diukur ( setidaknya dalam apa yg disebut sebagai 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘳𝘱𝘳𝘦𝘵𝘢𝘴𝘪 𝘵𝘦𝘰𝘳𝘪 𝘊𝘰𝘱𝘦𝘯𝘩𝘢𝘨𝘦𝘯 ), 𝘧𝘶𝘯𝘨𝘴𝘪 𝘨𝘦𝘭𝘰𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 (deskripsi matematis dari sistem) "runtuh," meninggalkan satu hasil yg unik, seperti posisi atau momentum yg teramati secara spesifik. Teori ini memberi tahu Anda probabilitas berbagai hasil dari setiap pengamatan, tetapi tidak memberi tahu hasil mana yg sebenarnya yg akan Anda lihat. Sekilas, kerancuan ini mungkin terlihat menyelamatkan fisika dari cengkeraman determinisme. Namun, masih belum jelas bagaimana ketidakpastian kuantum akan memungkinkan kehendak bebas, karena kita biasanya tidak menganggap proses pengambilan keputusan kita sebagai sesuatu yg acak, melainkan sebagai sesuatu yg sudah ditakdirkan.
Namun, ada hal lain dalam cerita ini—yang muncul ketika para fisikawan mencoba menerapkan mekanika kuantum pada seluruh alam semesta (bidang studi yg dikenal sebagai 𝘲𝘶𝘢𝘯𝘵𝘶𝘮 𝘤𝘰𝘴𝘮𝘰𝘭𝘰𝘨𝘺 ) . Beberapa pendekatan kuantum terhadap kosmologi, seperti yg dibayangkan oleh fisikawan teoretis Jim Hartle & Stephen Hawking (dan dijelaskan pada tahun 1988 oleh Hawking dalam 𝑨 𝑩𝒓𝒊𝒆𝒇 𝑯𝒊𝒔𝒕𝒐𝒓𝒚 𝒐𝒇 𝑻𝒊𝒎𝒆 ) , tampaknya tidak hanya mendikte aturan yg mengatur evolusi alam semesta tetapi juga keadaan awalnya. Dengan cara pandang seperti ini—fisikawan Roger Penrose menyebutnya " determinisme yg kuat " dalam bukunya 𝑻𝒉𝒆 𝑬𝒎𝒑𝒆𝒓𝒐𝒓'𝒔 𝑵𝒆𝒘 𝑴𝒊𝒏𝒅 tahun 1989—alam semesta dapat memiliki satu sejarah. Tidak ada yg bisa berbeda dari apa yg sebenarnya telah terjadi dan sedang terjadi. Segala sesuatu, termasuk lintasan peluru Princip dan fakta bahwa Anda sekarang sedang membaca kalimat ini, telah ditentukan, bisa dikatakan, pada awal waktu.
Itu adalah salah satu cara untuk menafsirkan mekanika kuantum—tetapi bukan satu²-nya cara. Cara lain yg populer dikenal sebagai pandangan 𝘮𝘢𝘯𝘺-𝘸𝘰𝘳𝘭𝘥𝘴 (atau pandangan Everettian, diambil dari nama fisikawan 𝐇𝐮𝐠𝐡 𝐄𝐯𝐞𝐫𝐞𝐭𝐭 𝐈𝐈𝐈, yang pertama kali menulis tentang hal ini secara rinci pada tahun 1957) . Menurut pandangan ini, segala sesuatu yg dapat terjadi memang benar² terjadi—tetapi di alam semesta yg berbeda. Jadi, alih² mengatakan bahwa alam semesta hanya memiliki satu sejarah, para pendukung teori many worlds mengatakan bahwa " 𝘮𝘶𝘭𝘵𝘪𝘷𝘦𝘳𝘴𝘦 " hanya memiliki satu sejarah. Di dalam multisemesta ini terdapat cabang², atau alam semesta, di mana Princip menarik pelatuknya dan juga di mana dia tidak menarik pelatuknya. Ada alam semesta di mana 𝘬𝘶𝘤𝘪𝘯𝘨 𝘌𝘳𝘸𝘪𝘯 𝘚𝘤𝘩𝘳ö𝘥𝘪𝘯𝘨𝘦𝘳’𝘴 yg terkenal itu masih hidup dan ada juga alam semesta di mana kucing itu sudah mati. Namun, alam semesta secara keseluruhan sepenuhnya ditentukan.
Eddy Keming Chen, seorang filsuf fisika di University of California, San Diego, percaya bahwa kita harus menerima gagasan strong determinism —dan implikasinya— dengan serius. Jika kita menganut teori seperti yg dikemukakan oleh Hartle & Hawking, di mana dinamika dan kondisi awal alam semesta (atau multisemesta) ditentukan, maka hanya ada satu sejarah yg unik yg mungkin terjadi. Dalam situasi ini, mekanika kuantum bahkan lebih deterministik daripada pendahulunya yg klasik, Chen berargumen dalam esai tahun 2023 di 𝘕𝘢𝘵𝘶𝘳𝘦. (Dalam makalah pracetak terkait, Chen mengembangkan gagasan itu lebih jauh, menggambarkan apa yg disebutnya " 𝘌𝘷𝘦𝘳𝘦𝘵𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘞𝘦𝘯𝘵𝘢𝘤𝘶𝘭𝘶𝘴 ," yg merupakan "teori deterministik pertama yg realistis & sederhana dari dunia kuantum.")
Namun, hal itu rumit : meskipun kita hidup di multisemesta Everettian, kita hanya melihat satu cabang —alam semesta kita— dan di dalam cabang tersebut, kita masih cenderung membayangkan bahwa banyak hasil yg mungkin terjadi. Dalam pracetaknya, Chen mengakui bahwa "masih menjadi pertanyaan terbuka tentang bagaimana memikirkan kebebasan dan agensi dalam konteks multisemesta." Setidaknya, cara kita biasanya memahami keputusan, pilihan, dan contingency perlu dipikirkan ulang, kata Chen. Dia percaya bahwa di bawah strong determinism, tidak masuk akal lagi untuk berbicara tentang counterfactuals. "Anda dapat memahami counterfactuals sebagai merujuk pada berbagai kemungkinan fisik yg sesuai dengan hukum fisika," kata Chen. "Namun jika saya mengatakan bahwa hanya ada satu kemungkinan, maka tidak ada counterfactuals. Semua counterfactuals menjadi tidak berarti atau sepele atau hampa." Dan jika tidak ada counterfactuals, katanya, maka tidak ada kebebasan. Seperti yg ia tulis dalam esainya di 𝘕𝘢𝘵𝘶𝘳𝘦, strong determinism "membuatnya lebih sulit untuk menarik teori kuantum untuk mempertahankan free will (kehendak bebas)."
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.