Pernah, aku menaruh mimpi dan keinginan
pada seseorang yang bahkan tak benar-benar
menyadari kehadiranku.
Aku memang berharap kamu jadi milikku,
tapi aku tak ingin menahanmu
kalau hatimu sebenarnya ingin pergi jauh dari sini.
Aku menginginkanmu,
namun bukan dengan cara
mengecilkan diri agar kamu merasa nyaman di sisiku.
Aku berharap kamu tetap bersamaku,
tapi aku tak ingin
menyimpan semua luka sendirian,
sementara mulutku tetap memaksakan kata:
“nggak papa, aku paham, kok.”
Aku ingin bersamamu,
tapi bukan dengan menjadi tokoh cadangan
dalam cerita yang hanya aku perjuangkan sepihak.
Jika kebahagiaanmu tumbuh justru saat aku tak ada,
aku takkan memaksamu kembali.
Karena aku sadar,
rasa cinta tak bisa tumbuh subur
dalam tanah yang penuh takut dan ragu.
Aku memang ingin kamu,
tapi lebih dari itu,
aku ingin tetap waras dan utuh sebagai diriku sendiri.
Dan andai perpisahan denganmu
adalah jalan yang harus aku tempuh
untuk bisa menemukan kembali siapa diriku sebenarnya...
aku akan belajar mengikhlaskanmu,
tanpa menyimpan dendam.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.