Setiap senja, ada satu kursi di taman kota yang hampir selalu dibiarkan kosong.
Bukan karena tak ada yang tertarik mendudukinya, tapi seolah hanya aku yang melihatnya bukan sekadar tempat duduk biasa. Bagiku, ia adalah saksi bisu—tempat di mana segala hal pernah terasa begitu hidup, namun kini yang tersisa hanyalah jejak kenangan yang berhembus tanpa suara.
Dulu, kami berdua sering menghabiskan waktu di sana. Obrolan kami ringan—tentang warna jingga di langit, atau rasa es krim stroberi yang katanya terlalu manis. Dia sering berkata, “Kita nggak perlu ke mana-mana buat merasa tenang. Duduk di sini saja cukup.” Aku hanya mengangguk, pura-pura santai, meski dalam hati aku berharap waktu bisa berhenti.
Kini aku datang sendiri.
Orang-orang berlalu-lalang. Anak-anak berlarian dengan tawa riang. Ada yang meniup balon sabun, dan aku melihat warna pelangi mungil di permukaannya sebelum pecah di udara—begitu singkat, begitu rapuh. Sama seperti kenangan, cantik tapi mudah hilang.
Aku sudah tak lagi menangis. Tangisku telah kering sejak hari pemakamannya. Tapi setiap kali aku kembali duduk di bangku itu, rasanya seakan dia masih berada di sebelahku. Tak mengucap sepatah kata, tak menyentuh, tapi tetap terasa hadir.
Dan aku sering bertanya dalam hati:
Jika suatu hari aku tak kembali, apakah kursi itu akan tetap menunggu dia yang tak pernah kembali, atau mungkin akan menyambut sosok baru yang juga menyimpan kehilangan?
Sore ini, seorang nenek duduk di ujung bangku yang sama. Tak ada kata di antara kami, hanya senyuman kecil yang ia lemparkan. Untuk pertama kalinya aku sadar—kursi itu bukan cuma menampung memoriku. Mungkin ia juga menampung duka dan perpisahan dari jiwa-jiwa lain yang masih belajar mengikhlaskan.
Kursi itu tak pernah menuntut penjelasan atas kehadiranku yang berulang. Ia hanya menanti dalam hening. Tapi dalam diamnya, aku merasa diterima. Dan bagi hatiku yang belum sembuh sepenuhnya—itu sudah lebih dari cukup.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.