Aksi Brimob Tabrak Ojol: Jalanan Jadi Panggung Arogansi

Sebuah peristiwa memalukan kembali terjadi di jalanan ibu kota. Seorang pengemudi ojek online (ojol) menjadi korban tabrakan kendaraan taktis Brimob ketika sedang...

Aksi Brimob Tabrak Ojol: Jalanan Jadi Panggung Arogansi

Sebuah peristiwa memalukan kembali terjadi di jalanan ibu kota. Seorang pengemudi ojek online (ojol) menjadi korban tabrakan kendaraan taktis Brimob ketika sedang melintas di sekitar kawasan aksi. Ironisnya, kejadian ini memperlihatkan betapa keselamatan rakyat biasa sering kali dianggap sepele di hadapan kendaraan berseragam.

Dalam rekaman yang beredar, motor ojol tampak terseret setelah dihantam oleh mobil taktis. Sang pengemudi terpelanting, sementara aparat yang berada di dalam kendaraan nyaris tak menunjukkan reaksi berarti. Publik pun bereaksi keras, menyebut aksi ini sebagai panggung arogansi di jalan raya.

Kritik bermunculan. Banyak warganet menilai bahwa keberadaan aparat seharusnya melindungi masyarakat, bukan justru menambah daftar korban di jalan. “Kalau begini caranya, buat apa kita percaya pada slogan pengayom rakyat?” tulis seorang pengguna media sosial.

Aksi tabrakan ini juga menambah daftar panjang ketegangan antara aparat dan masyarakat sipil. Publik menganggap ada jarak yang semakin lebar, seakan jalanan bukan lagi milik bersama, melainkan milik pihak yang memiliki kendaraan lebih besar dan berplat khusus.

Beberapa pengamat lalu lintas menegaskan, 1 insiden ini bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan potret betapa standar keselamatan publik sering dikorbankan demi kecepatan barisan kendaraan aparat. Bagi mereka, rakyat kecil hanyalah “gangguan lalu lintas” yang bisa disingkirkan kapan saja.

Sementara itu, komunitas ojol menuntut adanya pertanggungjawaban nyata. “Jangan sampai korban dibiarkan menanggung sendiri luka, sementara kendaraan berlapis baja tetap melenggang tanpa dosa,” ujar salah seorang perwakilan komunitas.

Peristiwa ini sekali lagi memperlihatkan bahwa di jalan raya, hukum rimba masih berlaku. Yang kuat melaju, yang lemah terkapar. Pertanyaan besar pun muncul: apakah rakyat harus terus menerima kenyataan pahit bahwa keselamatan mereka bisa digilas kapan saja?

Pada akhirnya, jika aparat tak mampu memberikan teladan di jalan, bagaimana mungkin rakyat bisa percaya pada wajah negara? Sebuah bangsa besar bukan diukur dari kendaraan tempurnya, tetapi dari cara ia memperlakukan warganya.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.