“Kalau mau bisnis online, lebih enak jualan produk sendiri atau ikut affiliate?” — pertanyaan ini pasti sering muncul, terutama di kalangan pemula atau ibu rumah tangga yang lagi cari cara fleksibel buat nambah penghasilan.
Jawabannya nggak sesederhana “A lebih bagus dari B”. Keduanya punya peluang besar, apalagi di tahun 2025 ini saat digital marketing & social commerce makin berkembang pesat. Nah, biar nggak bingung, yuk kita kupas tuntas perbedaan, kelebihan, dan potensi cuan dari affiliate marketing vs jualan produk sendiri.
Apa Itu Affiliate Marketing?
Affiliate marketing adalah model bisnis di mana kita mempromosikan produk orang lain lewat link unik. Kalau ada orang yang beli lewat link itu, kita dapat komisi.
Contoh paling populer:
- Shopee Affiliate
- Tokopedia Affiliate
- Program affiliate produk digital (ebook, kursus online, software)
Keunggulannya: modal minim, nggak perlu pusing stok, packing, atau harus punya CS yang bisa stand by 24 jam. Tugas utama kita hanya bikin konten & promosi.
Apa Itu Jualan Produk Sendiri?
Kalau jualan produk sendiri, berarti kamu punya produk fisik atau digital yang kamu jual langsung. Bisa produk homemade (makanan, fashion, kerajinan), produk impor, sampai produk digital (ebook, worksheet, template, kursus).
Keunggulannya: margin lebih besar, branding bisa dibangun, dan kamu punya kontrol penuh atas bisnis itu.
Affiliate Marketing vs Jualan Produk Sendiri
Affiliate Marketing
- Modal awal hampir nol, cukup pakai HP & ada koneksi internet
- Resikonya minim, karena tidak perlu stok
- Kontrol bisnis terbatas (tergantung pada brand/marketplace)
- Potensi cuan dari komisi per transaksi (sekitar 5–20% biasanya)
- Skalabilitas cepat, asal konsisten bikin konten
- Butuh skill: Content creation dan marketing dasar
Jualan Produk Sendiri
- Butuh modal untuk biaya produksi, stok barang, dan packaging
- Resiko bebih tinggi, misal: produk bisa nggak laku atau ada stok nyangkut
- Kontrol bisnis kamu pegang penuh, kamu yang atur harga, branding, dan promosi
- Margin bisa 30–70% tergantung produk yang kamu jual
- Skalabilitas lebih lambat, tapi bisa jadi aset jangka panjang
- Butuh skill produksi, branding, marketing, manajemen bisnis (atau at least, hire orang yang punya skill itu)
Tren 2025: Mana Lebih Potensial?
Menurut DataReportal (2025), ada lebih dari 185 juta pengguna aktif media sosial di Indonesia, dan banyak yang langsung belanja lewat TikTok Shop, Instagram Shopping, atau YouTube Shopping.
Artinya:
- Affiliate marketing makin berkembang saat ini karena brand besar berlomba-lomba buka program affiliate.
- Produk sendiri juga makin potensial, karena konsumen suka brand lokal yang unik dan personal.
Menurut Think with Google, konsumen makin percaya belanja lewat konten video review & rekomendasi. Ini yang jadi peluang besar buat affiliate sekaligus pemilik produk.
Jadi, Mana yang Lebih Cuan?
Jawabannya: tergantung strategi & kondisi kamu.
- Kalau kamu pemula, IRT, atau masih belajar bikin konten, maka affiliate marketing bisa jadi pintu masuk karena risikonya minim.
- Kalau kamu sudah punya modal, skill, atau ide produk unik, jualan produk sendiri bisa kasih cuan lebih besar dalam jangka panjang.
Bahkan banyak kreator sekarang kombinasi keduanya: mulai dari affiliate untuk belajar market, lalu pelan-pelan launching produk sendiri.
Kesimpulan
Affiliate marketing dan jualan produk sendiri bukan soal “mana yang lebih bagus”, tapi mana yang lebih cocok untuk kondisi kamu sekarang.
- Affiliate: cepat mulai, minim resiko, cocok buat belajar.
- Produk sendiri: butuh modal, tapi cuan lebih besar & bisa bangun brand jangka panjang.
Kalau ditanya mana yang lebih cuan di 2025? — jawabannya: dua-duanya punya potensi cuan, asal kamu konsisten bikin konten, kenal audiensmu, dan berani eksekusi.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.