Ada Apa di Balik Tahun Baru Hijriyah?

Momen tahun baru Hijriyah baru saja kita rayakan, yuk kita amalkan anjuran untuk ber-muhasabah.

Ada Apa di Balik Tahun Baru Hijriyah?

Teman-teman, adakah dari kalian yang sempat terpikirkan kenapa ya penyebutan tahun bagi umat Muslim itu disebut Hijriyah? Kenapa dimulai pada bulan Muharram? Kenapa bukan yang lain aja?

Pada Sabtu, 12 Juli 2025 kemarin alhamdulillah saya mengikuti satu kajian kemuslimahan di kampus. Isi kajian tersebut secara garis besar adalah membahas kisah awal penetapan tahun Hijriyah dan menjadikan momen Tahun Baru Hijriyah sebagai momen untuk berefleksi atau muhasabah. Nah, menurut saya keseluruhan dari penjelasan ustadzah yang menjadi pengisi sangat bermanfaat dan saya sangat ingin berbagi dengan teman-teman. Selamat membaca.

Penetapan Tahun Hijriyah

Penetapan tahun Hijriyah sangatlah istimewa dan penuh makna yang mendalam. Prosesnya pun tidak sembarang asal menetapkan melainkan melalui pemikiran dan banyak pertimbangan. Sistem kalender Hijriyah digagas dan ditetapkan pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab radiyallahu'anhu. Sampai pada masa kepemimpinan Umar bin Khaththab tahun ketiga atau keempat, Islam sebenarnya sudah memiliki sistem hari dan bulan tetapi belum memiliki perhitungan tahun. Hal tersebut sangat berpengaruh pada kegiatan surat-menyurat apalagi pada masa itu pengiriman dan penerimaan surat sangat memakan waktu terkhusus untuk wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan. Salah satunya kejadian yang juga menjadi alasan dari adanya penetapan sistem tahun Hijriyah adalah aduan Abu Musa al-Asy'ari. 

Pada waktu itu, Abu Musa al-Asy'ari adalah seorang amir Bashrah dan Umar bin Khaththab radiyallahu'anhu sebagai khalifah. Beliau melakukan aduan kepada khalifah melalui surat yang ditulisnya meminta agar Khalifah Umar membahas cara baru untuk menghitung penanggalan. Hal itu dikarenakan adanya surat yang sampai kepada Abu Musa yang tertanggal pada bulan Syakban tanpa tahun dan ini tentu membuatnya bingung yang dimaksud bulan Syakban tahun ini atau tahun berikutnya.

Setelah menerima surat dari Abu Musa al'Asy'ari maka khalifah Umar bin Khaththab pun segera mengumpulkan para sahabat untuk membahas masalah tersebut. Pada prosesnya ada berbagai usulan terkait acuan awal penanggalan dalam Islam dari para sahabat. Di antaranya, ada sahabat yang mengusulkan mengambil tahun kelahiran Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam sebagai awal penanggalan tahun. Pendapat ini ditolak karena pada saat itu kondisi masyarakat masih jahiliyah. Ada juga yang mengusulkan untuk mengambil tahun wafatnya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Pendapat ini tentu banyak ditolak karena tidak mungkin tahun baru justru harus menjadi penuh kesedihan karena akan selalu teringat wafatnya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Sampai akhirnya, Ali bin Abi Thalib radiyallahu'anhu menyampaikan usulan yang akhirnya disepakati sebagai awal penanggalan tahun bagi umat Islam. Momen hijrahnya Rasulullah Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah (Yatsrib) yang terjadi pada tahun 622 M disepakati sebagai acuan awal penanggalan tahun.

Momen hijrah tersebut diambil karena sudah tiga belas tahun lamanya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam berdakwah di Makkah tapi penolakan dan diskriminasi dari masyarakat Makkah tetap berlangsung bahkan di tahap penyiksaan fisik sampai ada yang syahid. Padahal pada saat itu umat Muslim sudah mulai terbangun kekuatan dan persatuannya bahkan syariat sudah banyak diturunkan. Maka, diturunkan perintah untuk berhijrah ke Madinah yang pada saat itu justru menyambut dakwah Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dan para sahabat dengan hangat serta bersedia untuk berbaiat dan diatur syariat Islam secara bernegara. Momen hijrah tersebut juga dapat diartikan sebagai momen keluar atau berpindahnya dari negara syirik atau dar kufur (Makkah) menuju negara Islam atau dar Islam (Madinah) untuk tujuan penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam bentuk bernegara.

Sedangkan, penetapan bulan Muharram sebagai bulan pertama pada kalender Hijriyah diusulkan oleh Utsman bin Affan radiyallahu'anhu. Meskipun peristiwa hijrahnya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dan para sahabat terjadi pada 12 Rabiul Awal tetapi kesiapan berhijrah sebenarnya sudah ada sejak bulan Muharram. Selain itu, bulan Muharram tepat setelah bulan Dzulhijjah yang di dalamnya terdapat ibadah haji. Kembalinya orang-orang yang berhaji ke wilayah masing-masing diharapkan dapat ikut mendakwahkan terkait persatuan umat Islam.

Maka, sudah bisa diketahui makna penting di balik penetapan awal tahun Hijriyah yaitu agar senantiasa istikamah (istiqomah) dalam usaha menjadi muslim terbaik. Kemudian, yang tidak kalah penting adalah cita-cita tinggi sebagai umat muslim yaitu persatuan umat yang tidak lagi meributkan perkara furu'iyah dan fokus pada akar permasalahan yang menimpa umat ini.

Tahun Baru Hijriyah, Yuk Ber-Muhasabah

Melihat keadaan umat Islam saat ini, terutama di Indonesia, memang menyedihkan. Perpecahan di antara muslim di Indonesia sangat terasa dengan seringnya keributan antara pengikut mazhab satu dengan yang lainnya, anggota kelompok atau organisasi satu dengan yang lainnya, dan keributan lain yang sebenarnya bersifat furu'iyah atau cabang. Sudah saatnya umat Muslim Indonesia harus fokus dalam memikirkan dasar atau akar permasalahan umat kemudian solusi yang hakiki. 

Tidak boleh kita hanya menjadikan pergantian Tahun Baru Hijriyah sebagai penanda pergantian tahun saja tapi kita harus benar-benar memaknai betul makna di baliknya. Muhasabah adalah hal yang sangat penting sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khaththab radiyallahu'anhu, "Hisabhlah diri kalian sendiri sebelum dihisab (oleh Allah subhanahuwata'ala). Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang (oleh Allah subhanahuwata'ala). Generasi para salafush shalih adalah generasi yang sudah terbiasa lebih ketat dalam penghisaban atas dirinya sendiri daripada menghisab amal orang lain. 

Imam Hasan al-Bashri berpandangan bahwa muhasabah dapat meringankan hisab seseorang di hari akhir kelak. Jadi, sudah sepatutnya bagi setiap jiwa yang muslim untuk senantiasa melakukan muhasabah diri di setiap harinya, terutama pada momen Tahun Baru Hijriyah. Muhasabah diri dapat dilakukan sebelum perbuatan sebagai cara untuk mencegah kita bersikap dan berucap buruk, serta dilakukan setelah perbuatan sebagai bentuk evaluasi untuk bertaubat dan mencegah agar ke depannya tidak terulang. 

Seorang muslim seharusnya tidak melakukan segala tindak dan ucapannya sebelum ia menghisab diri sendiri dengan pertimbangan apakah ucapannya dan tindakannya akan menyinggung, melukai, atau menyakiti orang lain. Jangan sampai segala ucapan dan tindakannya menjadi penyulut perpecahan atau keributan atau hal yang mengganggu persatuan dan persaudaran dalam Islam, serta hubungannya dengan manusia lain. Semua yang diucapkan dan dilakukan harus mengikuti tuntunan Allah subhanahuwata'ala dan Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Jika sudah sesuai dengan syariat maka alhamdulillah harus senantiasa diamalkan dan apabila belum sesuai syariat maka bermuhasabah dan bertaubat lalu memperbaiki diri.

Muhasabah diri dan selalu bertaubat kepada Allah subhanahuwata'ala juga telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dan para sahabat serta banyak ulama. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam yang sudah dijamin masuk surga pertama dan terjaga dari perbuatan dosa dan kesalahan (maksum) pun senantiasa bermuhasabah diri dan bertaubat sehari seratus kali. Hal demikian juga dicontohkan oleh para sahabat terutama sepuluh orang yang telah dijamin masuk surga, mereka pun senantiasa bermuhasabah dan bertaubat. 

Maka, kita sebagai manusia akhir zaman akan senantiasa melakukan dosa setiap harinya dan belum ada kepastian masuk surga. Kita sudah tentu harus lebih memiliki kesadaran dan semangat untuk senantiasa bermuhasabah diri dan bertaubat kepada Allah subhanahuwata'ala atas segala salah dan dosa kita. Muhasabah sebagai individu sebagai muslim serta warga negara Indonesia haruslah kita lakukan. Masih banyaknya kekurangan dan kesalahan selama berjalan di atas muka bumi sebagai hamba-Nya harus kita bertaubat dan memperbaiki diri. Tapi yang paling penting adalah muhasabah bersama sebagai umat Muslim bahwa perpecahan yang sangat terasa dan persatuan umat Muslim yang sangat terasa pudar. Timbulkan kesadaran bahwa umat Islam saat ini tidaklah apa yang dicita-citakan oleh generasi salafush shalih sehingga kita harus bertaubat dan berusaha untuk memunculkan kembali persatuan kita. 

InsyaaAllah dengan kita senantiasa bermuhasabah dan bertaubat serta berupaya untuk terus memperbaiki diri, maka kita bersama bisa mendapatkan rida dari Allah subhanahuwata'alaWallahu a'lam bishshawaab.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.