Abul Anbiya dan pengorbanan yang sesungguhnya

Nabi Ibrahim, sang abul anbiya

Abul Anbiya dan pengorbanan yang sesungguhnya

Pekan ini adalah pekan pertama bulan Dzulhijjah, sebuah bulan dengan beragam kegiatan dan aktivitas spiritual. Salah satu dari empat Asyhurul Hurum (bulan- bulan mulia). Pada bulan tersebut, berbagai peristiwa terjadi seperti puasa tarwiyah/arafah, hari raya Idul Adha dan Hari Tasyriq. Pelaksanaan rukun Islam yang ke-5 yakni ibadah Haji juga terjadi pada bulan ke-12 kalender hijriyah tersebut. Beragam aktivitas yang terjadi pada bulan Dzulhijjah tidak terlepas dari kisah hidup seorang nabiallah yang berjuluk khalilullah bersama keluarganya yakni nabi Ibrahim as beserta keluarga.

Nabi Ibrahim lahir di negeri Babilonia dan masa raja Namrud sempat dibakar oleh raja karena dianggap melawannya dengan mengajarkan agama tauhid. Nabi Ibrahim pada awalnya mempunya isteri Siti Sarah yang hingga usia senjanya belum juga mengandung. Melihat hal tersebut, Sarah sang istri meminta suami nabi Ibrahim untuk menikah lagi dengan pembantunya Siti Hajar. Ibrahim lalu menikahi Hajar dan tidak lama setelah pernikahan tersebut, istri kedua Nabi Ibrahim tersebut mengandung dan melahirkan bayi yang kelak menjadi utusan Allah yakni Nabi Ismail. Setelah itu, disaat suatu hal yang tidak mungkin dimana Siti Sarah akhirnya hamil juga di usia senjanya kemudian lahirlah bayi yang juga kelak menjadi utusan Allah yakni Nabi Ishak. 

Sebagai istri pertama, Sarah akhirnya juga kurang nyaman jika harus berbagi suami dengan Hajar. Sarah kemudian meminta suaminya untuk membawa Hajar dan anaknya pergi. Ibrahim lalu mengantarkan Hajar dan anaknya Ismail ke sebuah padang pasir tandus yang kini dikenal sebagai Bakkah/Mekkah. Ibrahim melepas isteri dan anaknya tersebut dengan lingangan air mata. Siti Hajar berlari-lari dari bukit Shofa ke bukit marwah untuk mencari air yang kemudian peristiwa tersebut diabadikan dalam pelaksanaan Sai dalam ibadah Haji. Sementara Ismail yang masih bayi menangis karena menahan haus dan lapar. Sehingga tangisan dan hentakan kaki bayi mungil tersebut memancarkan sebuah keajaiban berupa munculnya mata air yang kita kenal saat ini sebagai mata air zam-zam.

Setelah belasan tahun, Nabi Ibrahim mengunjungi istri dan anaknya di Mekkah. Pertemuan haru ketiganya tak terbendung. Ditengah kegembiraan tersebut, datanglah perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismali. Pada malam pertama tersebut, Ibrahim tidak langsung yakin bahwa itu perintah Alloh, sehingga hari tersebut dikenal sebagai Hari Tarwiyah (berfikir). Kemudian pada malam kedua mimpi tersebut kembali terulang yang kemudian Nabi Ibrahim yakin itu perintah Allah sehingga dikenal sebagai Hari Arafah (mengetahui). Di malam ketiga mimpi itu terulang lagi, sehingga hari tersebut dikenal sebagai hari raya Nahar (berkurban) atau dikenal sebagai Hari Raya Idul Adha, nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah menyembelih puteranya dan seketika itu pulalah, Allah menggantikan dengan seekor domba.

Peristiwa tersebut merupakan salah satu pengorbanan besar seorang nabi, dimana jika Allah sudah memerintahkan maka tidak ada alasan apapun untuk menolaknya. Ini adalah kesabaran luar biasa seorang Nabi Ibrahim sehingga mendapat gelar ulul azmi dan dari dua isterinya juga menjadi seorang nabi sehingga dijuluki sebagai bapaknya para nabi (abul anbiya).

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.