6 Kebiasaan yang Lumrah tapi salah

Kebiasaan yang Lumrah tapi salah

6 Kebiasaan yang Lumrah tapi salah

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Dalam mengadakan kegiatan hajatan, membangun rumah kita dapat bekerja sendiri. Hal ini dikarenakan kita adalah makhluk sosial. Namun dalam pergaulan sehari-hari, sering kali terjadi sesuatu yang dalam pandangan sebagian orang adalah sesuatu yang salah namun terkesan lumrah, antara lain :

  • Etika menyebrang jalan : Sering kita temukan dalam perjalanan menggunakan kendaraan baik sepeda motor maupun mobil, orang kurang beretika atau memang tidak memahmi aturan dalam menyabrang jalan. Dalam aturan lalu lintas, jalan yang statusnya lebih besar itu yang lebih diprioritaskan. Jadi ketika mau menyebrang , kita sering sekali melihat para pengendara yang tidak menengok kanan dan kiri tetapi hanya menengok ke salah satu arah ke kanan atau Kiri. Tanpa m emperhatikan kendaran dari arah yang lain, mereka langsung saja mengambil jalan dan berharap orang lain yang berhati-hati sendiri. Hal tersebut lazim kita temukan diberbagai tempat dan jalan.
  • Etika orang bersalah : Dalam kehidupan bermasyarakat juga sering kita jumpai orang yang melakukan sesuatu  hal yang lumrah tapi secara hukum apapun tetap bersalah. Yakni ketika seseorang berbuat salah dan dengan jelas telah melakukan kesalahan tanpa rasa malu enggan meminta maaf kepada orang yang disalahi. Lazimnya terjadi pada orang yang memiliki kedudukan secara pangkat, harta maupun nasab. Sehingga apabila ia melakukan permintaan maaf kepada orang yang secara pangkat duniawi lebih rendah versinya menyebabkan hilangnya kewibawaan bagi orang tersebut.
  • Punya banyak uang akan dihargai : Hal tersebut banyak terjadi diberbagai lapisan masyarakat dari rakyat terbawah hingga pejabat tertinggi. Orang yang memiliki harta dan kekayaan berlebih, Ia akan begitu dihormati, disanjuang dan diwibawakan. ini yang terjadi lapisan masyarakat bawah. Sedangkan dikalangan pejabat orang yang memiliki uang dan relasi, ia akan lebih dihargai dan dihormati
  • Relasi diutamakan, Prestasi dipinggirkan : Praktik seperti ini lazim terjadi di setiap sendi kehidupan. Orang yang punya relasi kawan dan satu golongan akan diutamakan meskipun secara prestasi tidak ada yang istimewa. Sementara yang memiliki prestasi akan terus terpinggirkan karena ia tidak memiliki kenalan dan kawan.
  •  Berbicara dulu berfikir kemudian : Kebiasaan yang kurang baik ini sering kita jumpai pada komentar- komentar di Media sosial seperti Facebook dan Instagram. Para Netizen mayoritas buru- buru untuk mengomentari sesuatu hal yang dianggap bertentangan dengan hati nuraninya. Tanpa membaca dengan seksama atau sekedar membaca judulnya, mereka segera berkomentar terlebih dahulu tanpa berfikir apa yang ucapkannya benar atau salah. Sebagai contoh ketika mengomentari berita lolosnya Bolivia ke babak playoff inter konfederasi menuju Piala Dunia. Mereka mengomentari kemungkinan bertemunya Timnas Indonesia dengan timnas Bolivia. Mereka berfikir bahwa Indonesia bakal kalah saat berhadapan dengan lawannya tersebut jika bermain di kandang lawan. Ini menunjukkan Netizen tidak membaca regulasi babak play off bahwa akan di selenggarakan di negara tuan rumah itupun kalau Indonesia bisa sampai kesana.
  • Tidak menerima kritik : Demo yang terjadi selama akhir Agustus kemarin menunjukkan bahwa para pejabat khususnya anggota DPR tidak begitu menerima kritik. Ketika dikritik mereka malah banyak tingkah dan menghina publik. Mereka baru mau minta maaf ketika masyarakat sudah terlanjur marah. Jika diawal-awal para pendemo segera ditanggapi dengan baik, kemungkinan jatuhnya korban sangat bisa dihindari. Jika semua mau berinstropeksi maka semuanya akan dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.