Kadang, satu lagu lama bisa berbicara lebih jujur tentang kehidupan sekarang daripada berita pagi di ponselmu.
Kalau kamu pernah mendengar lagu Wind of Change dari Scorpions, mungkin kamu ingat melodi dan siulannya yang khas—lembut, melankolis, dan entah kenapa selalu bikin hati tenang. Lagu ini rilis di awal tahun 90an, di tengah perubahan besar dunia: Tembok Berlin runtuh, Eropa Timur bergolak, dan dunia sedang belajar arti “bebas” yang baru.
Tapi kalau kamu dengar lagi sekarang, di tahun 2025 ini, liriknya terasa punya makna lain.
“Take me to the magic of the moment / On a glory night / Where the children of tomorrow dream away...”
Kita memang bukan anak muda di Berlin tahun 90-an, tapi kita juga hidup di masa penuh perubahan—bedanya, sekarang bukan tembok yang runtuh, melainkan batas-batas antara dunia nyata dan digital. Semua serba cepat: berita, tren, bahkan perasaan.
Kita harus update biar nggak ketinggalan, tapi juga ingin berhenti sejenak agar tidak kehilangan diri sendiri.
Ada masa di mana perubahan terasa seperti badai—menghempas, memaksa kita ikut bergerak. Tapi ada juga masa, seperti sekarang, di mana perubahan datang halus, lewat layar kecil yang kita genggam tiap hari.
Tiba-tiba saja dunia berganti: cara orang bekerja, cara belajar, bahkan cara berdoa. Semua bergeser, pelan tapi pasti.
Dan di tengah itu semua, lagu ini seperti mengingatkan kita: tidak apa-apa untuk berhenti sebentar, untuk mendengar suara angin.
Karena kadang, yang kita butuhkan bukan cara melawan perubahan, tapi belajar menyesuaikan diri tanpa kehilangan arah.
“The world is closing in / Did you ever think / That we could be so close, like brothers?”
Lirik ini terasa makin menyentuh kalau kita lihat dunia digital sekarang. Kita memang “dekat”, tinggal satu klik untuk saling terhubung. Tapi kedekatan itu sering kali dangkal, tanpa empati.
Kita jadi terbiasa berpendapat tanpa jeda, menilai tanpa tahu latar belakang orang lain.
Padahal, semangat asli lagu ini justru tentang unity—tentang dunia yang berubah menuju keterbukaan, bukan kebisingan.
Mungkin ini yang perlu kita ingat: perubahan bukan musuh, asal kita belajar mendengarnya dengan hati.
Perubahan bisa jadi lembut, seperti angin sore yang membawa pesan baru.
Dan kita, para “children of tomorrow” itu, masih punya waktu untuk belajar pelan-pelan—bagaimana jadi versi diri yang lebih bijak, bukan cuma lebih cepat.
Mungkin sekarang, wind of change tak lagi datang dari Barat atau dari panggung musik dunia.
Ia datang dari dalam diri: dari keinginan untuk hidup lebih tenang, memilih dengan sadar, dan tetap punya ruang untuk diam di antara bisingnya dunia.
Jadi lain kali kalau kamu dengar siulan khas lagu Wind of Change, jangan buru-buru skip.
Tarik napas pelan, dengarkan, dan biarkan ia jadi pengingat:
bahwa dunia boleh terus berubah, tapi hati yang tenang akan selalu tahu ke mana harus pulang.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.