Ada masa ketika menjadi ibu berarti memberikan segalanya untuk orang lain. Tapi di tengah rutinitas yang tak habis-habis, adakah ruang yang tersisa untuk dirimu sendiri?
Menjadi ibu memang mengubah banyak hal — waktu, prioritas, bahkan cara kita memandang diri sendiri. Dari pagi yang dimulai dengan suara tangisan anak, hingga malam yang ditutup dengan sisa energi terakhir. Tapi di antara semua peran itu, ada satu hal yang sering terabaikan: diri kita sendiri.
Banyak ibu rumah tangga merasa harus selalu “sibuk agar berguna”, padahal kadang yang paling kita butuhkan hanyalah jeda — lima menit tanpa gangguan, secangkir teh yang bisa dihabiskan sampai tetes terakhir, atau membaca dua halaman buku tanpa harus buru-buru.
Berikut ini tips menjadi ibu rumah tangga yang tenang, tanpa burnout, dan tetap punya ruang untuk diri sendiri yang bisa kamu terapkan.
1. Mulai dari menerima bahwa kamu bukan superwoman
Tidak semua harus sempurna. Rumah kadang berantakan, anak rewel, cucian menumpuk — dan itu tidak membuatmu gagal menjadi ibu rumah tangga.
Penelitian terkini menunjukkan bahwa ibu yang mengembangkan self-compassion: yaitu belajar memberi ruang untuk berbelas-kasih terhadap diri sendiri, menerima keterbatasan, dan tidak terus-menerus menghakimi diri memiliki risiko burnout parenting yang lebih rendah.
Kamu bisa membaca risetnya lebih dalam disini: Parents’ work–family conflict and parent‒child relationship: The mediating role of parenting burnout and the moderating role of self-compassion
2. Sisihkan waktu kecil tapi rutin untuk diri sendiri
Tidak perlu lama, yang penting konsisten. Entah menulis jurnal 10 menit, menanam sukulen, atau sekadar mendengarkan lagu favorit sambil beres-beres dapur.
Kunci dari self-care ibu rumah tangga itu bukan di lamanya waktu, tapi di konsistensi memberi ruang untuk hal yang membuatmu merasa “hidup kembali”.
3. Produktif bukan berarti selalu sibuk
Kadang kita merasa harus terus bergerak agar tidak “kalah” dari orang lain. Padahal produktivitas ibu rumah tangga bisa berarti menjaga rumah tetap hangat, membuat anak tertawa, atau menyiapkan makan malam dengan cinta.
Karena sejatinya, produktif bukan hanya soal berapa banyak hal yang kamu selesaikan, tetapi bagaimana kamu hadir penuh di setiap hal yang kamu lakukan.
Jadi, kalau kamu merasa “tidak seproduktif” orang lain di luar sana, mungkin kamu hanya lupa:
menjadi ibu yang hadir adalah bentuk produktivitas yang paling manusiawi.
4. Izinkan dirimu tetap punya mimpi
Menjadi ibu bukan akhir dari semua impian. Kamu masih boleh punya keinginan — entah berkarya, belajar hal baru, atau membangun sesuatu dari rumah.
Dan itu tidak egois. Itu hak-mu untuk tumbuh, karena ibu yang bahagia adalah hadiah terbaik untuk keluarga.
Penutup
Setiap ibu punya cara sendiri untuk menemukan ritme hidupnya. Tidak harus sempurna, cukup sadar dan hadir.
Kalau kamu pernah merasa kehilangan sebagian dirimu sejak jadi ibu, mungkin ini saatnya menemukan kembali siapa dirimu — pelan-pelan, tapi pasti.
Karena ibu yang baik bukan yang selalu sibuk dengan dalih mengejar produktivitas, tapi yang tahu kapan harus berhenti sejenak dan mengisi ulang dirinya.
Dan kalau kamu ingin membaca refleksi yang lebih dalam tentang perjalanan itu — tentang keseimbangan antara peran dan diri, antara cinta dan lelah — kamu bisa temukan ceritanya di eBook-ku, Mom but Still Me. Ditulis dari hati, untuk para ibu yang juga ingin tetap menjadi dirinya sendiri dan mengejar mimpi.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.