Beberapa tahun terakhir, media sosial dipenuhi warna pastel, outfit lembut, foto bunga, dan caption tentang self-love. Inilah yang dikenal sebagai Soft Girl Era sebuah gaya hidup yang menolak kerasnya dunia dengan cara lembut.
Tapi lebih dari sekadar tren fashion atau tone feed Instagram, Soft Girl Era mencerminkan cara baru anak muda menata hidup: pelan, penuh perasaan, dan lebih sadar akan kesejahteraan diri. Di tengah budaya hustle, di mana semua orang berlomba terlihat sibuk dan produktif, muncul generasi yang justru berkata, “Aku nggak apa-apa kok kalau jalanku lebih lambat.” Mereka tidak malas; mereka hanya ingin menikmati proses tanpa kehilangan diri.
Apa Sebenarnya Soft Girl Era Itu?
Istilah Soft Girl awalnya muncul di TikTok sekitar tahun 2019 ditandai dengan gaya busana feminin: warna pastel, make-up natural, dan dekorasi kamar penuh bunga atau lilin aromaterapi. Namun, maknanya berkembang jauh lebih dalam. Sekarang, Soft Girl Era bukan cuma tampilan, tapi sikap hidup: menjadi lembut di dunia yang keras. Menjadi “soft” bukan berarti lemah. Justru sebaliknya ini tentang berani menunjukkan emosi, memilih kebaikan, dan menolak tekanan sosial yang memaksa untuk selalu kuat. Soft Girl adalah mereka yang berani menangis tanpa merasa malu, berani istirahat tanpa rasa bersalah, dan berani berkata tidak untuk hal yang tidak sehat bagi mentalnya. Dalam arti yang lebih luas, Soft Girl Era adalah pergeseran dari budaya kompetitif menuju budaya empati.
Melawan Budaya “Cepat atau Ketinggalan”
Hidup di era digital membuat segalanya terasa mendesak. Notifikasi datang tiap menit, target kerja makin ketat, dan algoritma media sosial membuat kita merasa harus selalu up to date. Akibatnya, banyak anak muda yang kehilangan ritme alami kehidupannya. Di sinilah Soft Girl Era menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap dunia yang berisik. Mereka memilih berjalan pelan, menikmati pagi dengan kopi dan jurnal, mendengarkan musik lembut, dan menghargai hal-hal kecil yang sering dilewatkan. Filosofi ini mirip dengan konsep slow living hidup lebih sadar, tidak terburu-buru, dan menghargai waktu. Perbedaannya, Soft Girl Era menambahkan sentuhan emosional: ada kelembutan, kehangatan, dan kasih terhadap diri sendiri di setiap langkahnya.Â
Mengapa Hidup Pelan Jadi Relevan Sekarang?
Pandemi COVID-19 memberi banyak pelajaran. Kita belajar bahwa waktu di rumah bisa jadi momen refleksi, dan hidup tak melulu tentang produktivitas. Setelah masa itu berlalu, banyak orang enggan kembali ke ritme yang memaksa. Mereka mulai sadar: hidup cepat belum tentu bahagia. Selain itu, kesadaran tentang mental health juga meningkat. Istirahat bukan lagi dosa; rebahan bisa jadi bentuk penyembuhan. Menjadi lembut terhadap diri sendiri bukan kelemahan, tapi kebutuhan. Hidup pelan membantu kita memproses emosi, mengenali batas diri, dan menemukan makna di balik rutinitas sederhana. Itulah sebabnya Soft Girl Era terasa menenangkan karena ia mengajarkan bahwa kita tak harus sempurna untuk bahagia.
🌷 Warna - Warna dari Soft Girl Lifestyle
Â
-
Estetika yang Menenangkan
Warna pastel, lilin wangi, bunga segar, dan musik lembut bukan sekadar dekorasi, tapi bentuk terapi visual. Lingkungan yang tenang membantu pikiran lebih fokus dan hati lebih stabil. -
Rutinitas yang Pelan tapi Pasti
Morning journaling, minum teh hangat, berjalan tanpa tujuan, atau skincare dengan niat sadar semuanya mengembalikan makna ke hal-hal kecil. -
Self-Care dan Self-Compassion
Di dunia yang penuh kompetisi, Soft Girl memilih berbelas kasih pada diri sendiri. Mereka tahu kapan harus berhenti dan bagaimana berdamai dengan kegagalan. -
Hubungan yang Tulus dan Sehat
Alih-alih mengejar popularitas atau validasi, mereka mencari kehangatan dari hubungan yang jujur, baik dengan teman maupun pasangan. -
Digital Detox dan Mindful Scrolling
Soft Girl Era juga mendorong keseimbangan digital: tidak selalu online, membatasi konsumsi konten yang bikin cemas, dan lebih banyak hadir di dunia nyata.
Â
Menghadapi Tekanan Sosial dengan Lembut
Meskipun terdengar tenang, menjalani hidup lembut di dunia yang keras bukan hal mudah. Banyak yang masih beranggapan bahwa kalau kita tidak sibuk berarti malas, atau kalau kita tidak ambisius berarti gagal. Padahal, setiap orang punya ritme sendiri. Soft Girl Era mengajak kita berhenti membandingkan hidup dengan orang lain. Fokus pada pertumbuhan diri, bukan pada validasi eksternal. Menjadi lembut juga berarti berani menolak budaya “selalu benar”. Tidak semua pertengkaran perlu dimenangkan, tidak semua komentar harus dijawab. Kadang, diam dan memahami lebih menenangkan daripada berdebat panjang.
Dari Tren ke Kesadaran Kolektif
Beberapa tahun lalu, gaya hidup seperti ini mungkin dianggap “girly” atau “lemah”. Namun kini, baik perempuan maupun laki-laki mulai mengadopsinya. Banyak pria muda juga menulis jurnal, merawat kulit, atau belajar berbicara tentang perasaan. Dunia mulai bergerak menuju keseimbangan baru antara kekuatan dan kelembutan. Tren ini juga menunjukkan perubahan budaya yang lebih luas: masyarakat mulai menghargai empati, kesabaran, dan keaslian. Kita tidak lagi memuja kesibukan, melainkan kebermaknaan.
Kritik terhadap Soft Girl Era
Tidak bisa dipungkiri, sebagian orang menilai Soft Girl Era terlalu romantis atau tidak realistis. Ada yang menganggapnya sekadar estetika media sosial tanpa makna nyata. Namun, kritik ini justru memperlihatkan betapa pentingnya konteks: menjadi lembut bukan berarti mengabaikan realitas, melainkan memilih cara berbeda untuk menjalaninya. Yang perlu diingat, Soft Girl Era bukan tentang warna baju atau gaya foto. Esensinya adalah kesadaran bahwa hidup tidak harus kompetitif untuk berarti.
🌼 Soft Girl Era dalam Kehidupan Sehari-hari
Berikut contoh sederhana bagaimana gaya hidup ini bisa diterapkan:
-
Bangun pagi tanpa buru-buru. Nikmati cahaya matahari sebelum membuka ponsel.
-
Tulis tiga hal yang disyukuri setiap hari. Ini membantu menjaga fokus pada hal positif.
-
Kurangi multitasking. Lakukan satu hal dengan sepenuh perhatian.
-
Berpakaian dengan nyaman. Bukan untuk tampil sempurna, tapi untuk merasa baik.
-
Hargai waktu istirahat. Tidur cukup dan makan dengan sadar juga bagian dari self-love.
🌸 Soft Girl Era Bukan Tentang Lari, Tapi Menemukan Irama
Sering disalahpahami bahwa hidup lembut berarti menghindari tantangan. Padahal, Soft Girl Era justru tentang menemukan kekuatan dari dalam tidak dengan teriak, tapi dengan tenang. Kelembutan bukan kebalikan dari keberanian. Keduanya bisa berjalan beriringan. Perempuan lembut bisa tetap tegas, pria lembut bisa tetap kuat, dan siapa pun bisa memilih tenang tanpa kehilangan arah.
Di dunia yang berlomba untuk menjadi cepat, keras, dan kompetitif, memilih untuk pelan, sadar, dan lembut adalah bentuk keberanian. Soft Girl Era mengajarkan kita bahwa hidup tak perlu terburu-buru untuk indah. Kadang, justru di antara jeda, kita menemukan makna yang hilang. Menjadi lembut bukan berarti menyerah pada hidup, tapi memilih untuk menjalani hidup dengan hati penuh kasih. Dan mungkin, di masa depan, dunia akan lebih baik jika ada lebih banyak orang yang memilih cara seperti ini tenang, hangat, dan penuh empati.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.