Quiet Quitting' Is Real: Gue Kerja Dibayar, Bukan Jadi Budak

Hai sob! Lo pasti udah sering denger kan istilah "quiet quitting" yang lagi rame di mana-mana? Eits, jangan salah paham dulu. Ini...

Quiet Quitting' Is Real: Gue Kerja Dibayar, Bukan Jadi Budak

Hai sob! Lo pasti udah sering denger kan istilah "quiet quitting" yang lagi rame di mana-mana? Eits, jangan salah paham dulu. Ini bukan soal resign diam-diam atau males-malesan kerja. Tapi lebih ke... gue cuma ngelakuin apa yang jadi job description gue aja. Titik.

Nggak mau lagi lembur gratis, nggak mau ngambil tugas tambahan yang nggak dibayar, nggak mau hidup cuma untuk kerja. Sounds familiar? Lo mungkin aja udah melakukannya tanpa sadar.

Apa Sih 'Quiet Quitting' Itu Sebenernya?

Dalam bahasa yang lebih gampang: "Act your wage." Kerja sesuai gaji. Bukan berarti lo jadi karyawan yang payah, tapi lo menetapkan batasan yang sehat.

Contoh konkretnya gimana?

· Jam 5 sore, laptop ditutup. Titik. Nggak ada balas email atau bikin laporan jam 10 malam.

· Nolak proyek tambahan yang nggak masuk deskripsi pekerjaan dan nggak ada kompensasinya.

· Nggak merasa wajib buat selalu show off "hustle culture" di LinkedIn.

Intinya: Gue profesional, gue kerjain tugas gue dengan baik. Tapi hidup gue nggak cuma tentang kerja.

Kenapa Banyak Gen Z yang Milih Jalur Ini?

Bukan tanpa alasan, bestie. Generasi kita (Gen Z) melihat bagaimana generasi sebelumnya (cough Millennials cough) dikasih jargon "ikut passion" tapi ujung-ujungnya dieksploitasi dan kena burnout.

Alasannya simpel:

1. Kita Melek Mental Health: Sadar betul bahwa nilai kita bukan cuma dari produktivitas. Burnout itu nyata dan ngerusak.

2. We Value Life-Work Balance, Bukan Sebaliknya: Hidup itu untuk dinikmati. Bukan untuk mengabdi pada perusahaan yang gampang-gampangan layoff.

3. Kita Nggak Dibodohi: Sadar bahwa "keluarga" di kantor itu seringkali cuma jargon buat bikin lo loyal dan rela korbanin diri.

Tqpi, Apa Gue Bakal Dibilang Karyawan yang Malas?

Inilah yang sering salah kaprah. Melakukan pekerjaan dengan baik sesuai kontrak bukanlah kemalasan. Itu namanya profesionalisme.

Yang namanya malas itu kan nggak ngerjain tugas yang seharusnya dikerjain. Sedangkan quiet quitting adalah mengerjakan tugas dengan baik, tapi nggak mau ngambil tugas yang bukan tanggung jawab lo tanpa imbalan.

Jadi, Gimana Sikap yang Bener?

Semuanya balik lagi ke lo sendiri. Mau jadi hustler yang hidup untuk kerja? Silakan. Tapi jangan judge mereka yang memilih untuk punya batasan.

Quiet quitting sebenernya adalah bentuk protes diam-diam terhadap budaya kerja yang toxic. Ini cara kita bilang, "Hargai waktu dan tenaga gue."

Kesimpulan Buat Lo Semua:

Hidup itu terlalu singkat buat dihabisin buat meeting nggak jelas dan lembur nggak dibayar. Jadi, apa pun pilihan lo, yang penting lo sadar dan melakukan semuanya dengan kesadaran penuh.

Kerja keras itu baik, tapi jangan samai lupa diri. Tetap profesional, tapi jangan jadi pushover. Cari tempat kerja yang menghargai lo sebagai manusia, bukan cuma sebagai mesin pencetak uang.

So, are you a quiet quitter? Atau masih ikutin arus hustle culture? Share thoughts lo!

Semoga artikel ini bikin lo mikir dan... lega. Karena ternyata, lo nggak sendirian. Sekian dan sampai jumpa di artikel selanjutnya!

#QuietQuitting #GenZWorkStyle #AntiHustleCulture #WorkLifeBalance #KerjaItuBiasaAja

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.