Pesan Untuk Diri Yang Tak Pernah Merasa Cukup

Sebuah cerita reflektif tentang perjalanan seorang gadis yang perlahan mencoba belajar mencintai dirinya sendiri setelah lelah karena selalu merasa tidak cukup dengan...

Pesan Untuk Diri Yang Tak Pernah Merasa Cukup

Ada seorang gadis bernama Nabila. Sejak kecil, ia terbiasa menuruti ekspektasi orang lain dengan menjadi anak yang selalu patuh, menjadi teman yang menyenangkan, dan seorang murid dengan nilai yang selalu sempurna. Ia terbiasa menilai dirinya dari seberapa banyak temannya dan memastikan orang lain menyukainya.

Namun semakin tumbuh dewasa, mental Nabila mulai merasa lelah. Ia sering memandangi cermin sembari bertanya-tanya, “Siapakah aku sebenarnya jika tidak sedang berusaha menyenangkan siapa pun?”

Suatu malam, setelah hari yang berat, Nabila mulai mencoba untuk menulis lembar pertama di buku jurnalnya:

“Aku ingin berhenti menyalahkan diriku sendiri hanya karena aku tidak seperti mereka. Bahwa aku layak untuk diterima dan dicintai sebagai diriku sendiri."

Sejak saat itu, perlahan ia mulai melakukan hal-hal kecil: tidur cukup dan tidak memaksa tubuhnya begadang demi nilai sempurna di ujian esok hari. Nabila mulai makan makanan yang ia suka tanpa khawatir dengan dietnya, berhenti membandingkan diri ketika melihat postingan temannya di media sosial, dan belajar mengatakan “tidak” kepada orang lain tanpa rasa bersalah.

Seiring waktu, Nabila mulai menyadari bahwa mencintai diri sendiri bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang menerima diri dengan segala kekurangannya.

Ia belajar bahwa cinta yang paling tulus justru datang dari diri sendiri. Bahwa mereka yang mencintai dengan tulus tidak akan menuntut, tidak akan  menghakimi, dan hanya menerima tanpa memaksakan standar mereka. 

Dan di hari itu, Nabila akhirnya berani menatap cermin itu dengan senyum paling yang tulus yang pernah dia lihat. 

“Aku cukup. Aku layak dicintai, bahkan oleh diriku sendiri.”

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.