Setiap orang punya kisah yang tidak selalu mudah diceritakan.
Ada luka yang disembunyikan dengan senyum, dan ada rasa bersalah yang terus berputar dalam pikiran, bahkan setelah waktu berlalu.
Aku pun pernah terjebak di sana — di antara penyesalan, rasa kecewa, dan keinginan untuk memutar waktu. Tapi hidup tidak bisa diulang. Yang bisa kulakukan hanyalah belajar untuk memaafkan… terutama memaafkan diri sendiri.
Perjalanan ini tidak sebentar. Ada hari-hari di mana aku merasa kuat dan yakin bisa melangkah, tapi ada juga hari di mana aku kembali terjatuh dalam rasa bersalah. Aku belajar bahwa memaafkan diri bukan berarti melupakan, melainkan menerima bahwa aku pernah salah — namun aku tetap layak untuk bahagia.
Aku mulai mengenal kembali diriku. Merawat hati yang dulu kering oleh air mata.
Aku berhenti membandingkan hidupku dengan orang lain, dan mulai bersyukur untuk setiap langkah kecil yang berhasil kulalui.
Kini aku tahu, setiap momen dalam hidup adalah catatan sejarah diri — tempat kita belajar, tumbuh, dan menemukan cinta yang paling tulus: cinta pada diri sendiri.
Perjalanan memaafkan diri memang panjang, tapi setiap langkahnya berarti.
Kadang kamu akan jatuh, menangis, bahkan merasa tidak sanggup. Tapi setiap kali kamu mencoba bangkit lagi, kamu sedang menyembuhkan sesuatu dalam dirimu.
Ingatlah: kamu tidak didefinisikan oleh kesalahanmu, melainkan oleh keberanianmu untuk memperbaikinya.
Dan mungkin, di akhir perjalanan panjang ini, kamu akan tersenyum — bukan karena semuanya sempurna, tapi karena akhirnya kamu berdamai dengan diri sendiri.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.