Perbedaan Beban Ayah dan Ibu dalam Keluarga: Siapa Lebih Berat?

Perbedaan beban ayah dan ibu dalam keluarga, dari nafkah hingga peran emosional. Kunci harmoni ada pada kesetaraan dan kerja sama membesarkan anak.

Perbedaan Beban Ayah dan Ibu dalam Keluarga: Siapa Lebih Berat?

Perbedaan Beban Ayah dan Ibu dalam Keluarga: Siapa Lebih Berat?

Dalam setiap keluarga, peran ayah dan ibu ibarat dua sayap yang membuat rumah tangga bisa terbang seimbang. Namun, sering kali perbedaan beban antara keduanya menimbulkan pertanyaan: siapa sebenarnya yang menanggung lebih berat, ayah atau ibu?

1. Beban Ekonomi vs Beban Domestik

- Ayah umumnya dipandang sebagai pencari nafkah utama. Ia menanggung beban ekonomi, memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi: mulai dari biaya makan, pendidikan anak, hingga cicilan rumah. Beban ini membuat banyak ayah merasa harus “kuat” dan jarang mengekspresikan kelelahannya.

- Ibu, di sisi lain, meski kini banyak juga yang ikut bekerja, masih menanggung beban domestik terbesar. Mulai dari memasak, mencuci, membersihkan rumah, hingga mengurus anak yang sakit, biasanya jatuh ke tangan ibu. Beban ini disebut sebagai double burden ketika ibu juga ikut bekerja di ranah publik.

2. Peran Emosional dan Mental

- Ibu lebih sering menjadi tempat curhat anak. Ia yang pertama kali mendengar keluhan sekolah, masalah pertemanan, hingga kegagalan kecil anak. Beban mental ini terkadang lebih berat daripada pekerjaan fisik.

- Ayah biasanya hadir sebagai sosok pemberi aturan, panutan, dan benteng keamanan. Meskipun jarang ditunjukkan, banyak ayah memendam tekanan emosional karena merasa harus selalu “kuat” di depan keluarganya.

3. Waktu Bersama Anak

- Ibu lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak, terutama di usia dini. Ia yang mengajari makan, bicara, hingga kebiasaan sehari-hari.

- Ayah sering kali lebih sedikit berinteraksi karena padatnya pekerjaan. Namun, ketika hadir, peran ayah sering diasosiasikan dengan permainan, petualangan, dan pengalaman baru yang melengkapi pola asuh ibu.

4. Persepsi Sosial

Masyarakat sering kali menuntut ibu untuk selalu sabar, penuh kasih, dan mengorbankan dirinya.

Sementara ayah dituntut sukses dalam pekerjaan. Beban sosial ini menciptakan tekanan ganda: ibu dianggap gagal jika rumah berantakan, ayah dianggap gagal jika finansial goyah.

5. Siapa yang Lebih Berat?

Pertanyaan ini sebenarnya bukan untuk dibandingkan, karena keduanya memikul tanggung jawab berbeda namun sama pentingnya. Namun, yang sering tidak terlihat adalah beban mental ibu yang nyaris 24 jam mengelilingi keluarga. Sementara beban ayah lebih pada tanggung jawab eksternal yang jarang diakui kelelahan emosionalnya.

Idealnya, keluarga modern membangun kesetaraan. Ayah ikut terlibat dalam urusan rumah, ibu ikut mendukung pencapaian finansial, dan keduanya saling menguatkan. Karena pada akhirnya, anak-anak tidak hanya butuh kenyang perutnya, tetapi juga kenyang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.