Orang Tua Juga Manusia, Boleh Kok Gak Sempurna

Artikel ini mengulik sisi manusiawi dari para orang tua yang kerap dihantui rasa bersalah setelah marah, lelah, atau merasa tak cukup baik...

Orang Tua Juga Manusia, Boleh Kok Gak Sempurna

Orang Tua Juga Manusia, Boleh Kok Gak Sempurna

 

Malam sudah larut, semua sudah tertidur.

Hanya suara detak jam di dinding yang terdengar pelan dan rasa sesal yang lebih berisik dari apa pun.

 

Di sudut kamar, seorang ibu duduk diam.

Tadi sore ia marah besar pada anaknya yang menumpahkan susu di atas buku tugas. Nada suaranya tinggi, matanya lelah, hatinya juga. Sekarang, setelah semuanya tenang, yang tersisa hanya rasa bersalah.

“Kenapa aku tadi nggak bisa sabar?” gumamnya lirih.

 

Kalimat itu, mungkin, pernah diucapkan oleh banyak orang tua di luar sana.

Karena nyatanya, jadi orang tua tidak otomatis membuat seseorang berhenti menjadi manusia.

 

🫀 Lelah Itu Bukan Dosa

 

Ada hari-hari ketika tubuh ingin menyerah.

Saat cucian menumpuk, anak minta diperhatikan, kerjaan belum selesai, dan kepala penuh suara, semua minta prioritas.

 

Tapi dunia seperti menuntut orang tua untuk selalu tangguh, sabar, dan bijak setiap waktu.

Seakan-akan kelelahan adalah kesalahan, seakan-akan marah sedikit berarti gagal jadi teladan.

 

Padahal, bukankah orang tua juga manusia?

Yang bisa salah, bisa rapuh, bisa menangis diam-diam di kamar mandi sambil menyeka air mata sebelum kembali tersenyum di depan anak.

 

Kita terbiasa diajarkan bahwa orang tua itu harus kuat.

Padahal, anak-anak justru belajar ketulusan dari cara orang tuanya mengakui:

 

> “Mama capek, tapi mama tetap sayang kamu.”

Kalimat sederhana yang jujur itu, kadang jauh lebih hangat dari nasihat sempurna mana pun.

💭 Standar Sempurna yang Bikin Lelah

 

Media sosial tidak selalu ramah untuk para orang tua.

Di sana, semuanya terlihat rapi dan bahagia: rumah bersih, anak tertawa, orang tua sabar penuh pelukan.

 

Padahal di balik layar, mungkin ada yang baru selesai menangis karena merasa gagal.

Tapi algoritma jarang memperlihatkan itu, ia lebih suka kesempurnaan.

 

Akhirnya, banyak orang tua merasa terjebak di antara dua dunia:

dunia nyata yang berantakan, dan dunia digital yang penuh ekspektasi.

 

Setiap video parenting berkata:

 

> “Orang tua harus hadir sepenuhnya untuk anak.”

“Jangan pernah marah.”

“Gunakan nada lembut saat bicara.”

Semua terdengar indah.

Tapi realitas tidak selalu seindah teori.

Kadang orang tua hadir sepenuhnya, tapi di kepalanya sedang pusing karena biaya sekolah. Kadang bicara lembut, tapi air mata sudah di ujung mata.

 

Menjadi orang tua ideal seperti di TikTok itu tidak mudah.

Dan tidak harus selalu bisa, karena cinta tidak diukur dari seberapa sempurna kita berperan—tapi seberapa tulus kita berusaha.

 

🧸 Tentang Rasa Bersalah yang Terlalu Sering Datang

 

Banyak orang tua yang malamnya berakhir dengan satu kalimat yang sama:

 

> “Tadi aku terlalu keras ya sama dia?”

 

Perasaan bersalah itu datang bukan karena tidak cinta, tapi justru karena terlalu sayang.

Setiap kali anak terdiam setelah dimarahi, hati ikut retak.

Tapi rasa bersalah itu, sebenarnya, adalah tanda: bahwa kasih sayang masih hidup, bahwa hati belum membeku.

 

Masalahnya, banyak orang tua berhenti di rasa bersalah, bukan di perbaikan.

Padahal anak tidak menuntut kita sempurna, mereka cuma butuh kita kembali.

Minta maaf pun tak apa.

 

> “Tadi mama marah, maaf ya. Mama juga masih belajar.”

Kalimat itu sederhana, tapi ajaib.

Anak belajar bahwa orang tua pun bisa salah, dan tak apa untuk mengakuinya.

Dari situ mereka tahu: manusia tak harus selalu benar untuk tetap disayangi.

🌿 Anak Butuh Kehadiran, Bukan Kesempurnaan

 

Anak-anak tidak akan mengingat rumah selalu rapi, atau semua bekal dibuat dengan bentuk lucu.

Yang mereka ingat adalah bagaimana rasanya dicintai tanpa syarat.

 

Anak tidak menuntut orang tua yang sabar setiap waktu,

mereka hanya ingin orang tua yang mau kembali setelah badai reda.

 

Karena kehadiran tidak selalu berarti duduk di samping mereka setiap detik.

Kadang kehadiran itu berarti tetap mencoba meski gagal, tetap memeluk meski hati remuk, tetap tersenyum walau lelah.

 

Kehadiran adalah keberanian untuk ada tanpa topeng, tanpa pura-pura kuat.

🌙 Tidak Ada Orang Tua yang Sempurna, Tapi Selalu Ada yang Berusaha

 

Kalau kamu membaca ini dengan mata berkaca-kaca, mungkin kamu sedang di fase itu:

fase di mana kamu merasa jadi orang tua paling buruk di dunia.

Yang merasa marah terlalu sering, menyesal terlalu cepat, dan takut tak cukup baik.

 

Tapi percayalah anakmu tidak menilai kamu seperti itu.

Bagi mereka, kamu tetap rumah.

Bahkan di hari ketika kamu marah, mereka tetap mencari pelukanmu.

 

Karena cinta anak tidak menuntut kesempurnaan.

Ia hanya butuh kehadiran, walau lelah, walau tak ideal.

 

☕ Penutup: Kita Semua Sedang Belajar

 

Menjadi orang tua bukan tentang lulus ujian kesabaran,

tapi tentang terus belajar mencintai, bahkan saat diri sendiri belum sempurna.

 

Jadi, kalau hari ini kamu sempat marah, kecewa, atau menangis diam-diam—tak apa.

Besok kamu bisa mulai lagi.

Anakmu tidak butuh kamu sempurna,

mereka hanya butuh kamu yang tetap mencoba.

 

Karena pada akhirnya, orang tua juga manusia.

Dan cinta yang tulus, meski tidak sempurna, selalu cukup untuk tumbuh bersama. 🌷

✨ Pesan:

Anak butuh kehadiran, bukan kesempurnaan.

Dan orang tua, berhak untuk juga manusia.

 

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.