Bulan- bulan berturut-turut ini adalah waktu istimewa, khususnya masyarakat jawa. Pada tujuh bulan yang secara bersambung ini, masyarakat Jawa khususnya saling beriringan melaksanakan acara Walimatul Ursyi. Dimulai bulan Shafar, Robiul Awal, Robiul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Akhirah, Rajab dan Sya'ban. Bahkan satu hari bisa 2-3 tempat berbeda. Hal ini tidak terlepas karena ada 3 bulan yang dalam keyakinan masyarakat Jawa kurang tepat untuk melaksanakan Hajatan. Berikut adalah fakta menarik tentang ketiga bulan tersebut :
1. Ramadhan
Ramadhan adalah bulan istimewa dalam Islam, bulan yang dinanti- nantikan umat Islam tentunya untuk berpuasa dan amal ibadah lainnya. Terkait pernikahan di bulan Ramadhan sebenarnya dalam adat Jawa boleh atau sah-sah saja atau tidak ada pantangan. Tetapi perlu diingat bahwa Pesta Pernikahan (Walimatul Ursy) itu identik dengan pesta pora dan makan- makan, sehingga sangat tidak cocok melaksanakan walimatul Ursy di siang hari bulan Ramadhan. Kalau dilaksanakan di malam haripun biasanya juga kurang khidmat nya karena aktivitas ibadah dimalam Ramadhan pun tidak kalah padat seperti Shalat Tarawih dan Tadarus Al Quran.
2. Dzulqa'dah (Selo)
Bulan Dzulqo'dah atau dikenal sebagai Selo adalah bulan ke-11 dalam Kalender Hijrah ataupun Kalender Jawa Islam. Dzulqo'dah dalam bahasa artinya " yang memiliki Kursi" . Kursi selalu identik dengan tempat duduk dan duduk sendiri adalah bagian dari istirahat. Dari arti tersebut masyarakat Jawa enggan pula melaksanakan hajatan di bulan ini. Mereka berkeyakinan bahwa melaksanakan upacara pernikahan dibulan ini kurang baik untuk pernikahan mereka. Masyarakat Jawa seperti arti bulan tersebut diatas adalah waktu senggang atau waktu istirahat yakni setelah melaksanakan aktivitas ibadah puasa di Bulan ramadhan sebulan penuh serta kegiatan Silaturrahim Idul Fitri di bulan Syawal. Masyarakat Jawa menganggap bahwa Bulan Dzulqa'dah atau Selo adalah waktu senggang dan menenangkan diri setelah aktuvitas panjang di dua bulan sebelumnya sehingga tidak cocok melaksanakan walimatul ursyi yang identing pesta pora. Pada bulan ini pula biasanya aktivitas belajar mengajar khususnya di pondok pesantren baru dimulai sehingga para orang tua fokus mengirim biaya untuk sekolah ke pondok anak-anaknya. Belum selesai bulan Selo, kemudiana akhir bulan Selo juga dipersiapkan untuk menyambut bulan lain yang banyak aktivitas ibadahnya yakni bulan Dzulhijjah atau dalam masyarakat Jawa di kenal sebagai bulan Besar. Jadi bulan Selo yang diapit bulan- bulan ibadah Ekstra seperti Poso (Ramadhan), Idul Fitri (Syawal) dan Besar/Dzulhijjah ( Idul Adha) dijadikan waktu senggang untuk menenangkan diri dalam hal apapun.
3. Muharram (Sura)
Bulan Muharram atau Sura adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah dan Jawa Islam. Bulan ini adalah bulan yang sangat dikenal paling keramat khususnya masyarakat Jawa. Pada tanggal 1 Suro biasanya masyarakat dengat adat Jawa seperti keraton sangat kental aroma mistis. Mereka melaksanakan aktivitas adat seperti mencuci beragam pusaka seperti Keris, Gamelan dll. Masyarakat kami orang Jawa sangat menghormati adat di bulan ini dengan tidak menghelat acara pernikahan atau walimatul Ursy dibulan tersebut. Dalam Islam memang, Muharram adalah salah satu dari empat bulan mulai. Tetapi adat kami juga memberikan batasan- batasan. Orang Jawa tau bahwa Muharram atau Suro itu bulan mulia karena menurut riwayat bulan Sura adalah bulan kemenangan para nabi tetapi mereka juga bahwa pada bulan Suro, tepatnya tanggal 10 Muharram, Cucu Nabi sayyidina Husein bin Ali dan segenap keluarganya gugur dalam melawan tentara bani Umayyah. Sebagai umat Islam, masyarakat Jawa juga punya unggah-Ugguh. Bagaimana mungkin masyarakat Jawa mau melaksanakan pesta pora Hajatan pernikahan, sedangaknn dibulan tersebut adalah bulan kedukaaan keluarga nabi. Wallahu al'lam
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.