Menjadi Dewasa

Kehidupan dewasa yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Menjadi Dewasa

Aku berada di dalam kereta yang baru saja di sore hari pulang dari kantor gedung tinggi di Jakarta. Banyak sekali orang - orang seperti ku berangkat dan pulang kerja naik kereta dengan saling berdempetan hingga bercucur keringatan di badan. 

Rasanya memang melelahkan sekali naik kereta. Tapi, ini demi rela mencari nafkah di Jakarta yang sangat keras.

Aku tiba di rumah pukul 19:30 malam. Aku tak lupa salam kepada orang tua lalu makan malam. Setelah itu, aku bergegas mandi agar badan ku segar. 

Setelah sholat isya, aku membuka handphone. Aku melihat foto masa SMA di galeri foto. Entah kenapa rasanya benar - benar sedih banget. Aku melihatnya bahagia sekali di foto itu bersama teman - teman saat SMA. Jujur, aku kangen masa sekolah dimana menghabiskan waktu belajar, kangen makanan di kantin, dan juga paling yang bahagia adalah jam kosong.

Aku juga lihat foto masa kecil ku lebih menyenangkan lagi dimana juga menghabiskan waktu bermain bersama teman, menonton kartun, jajan di warung dengan harga Rp500-, hingga Rp1000,00 dan bermain sepeda. 

Masa yang paling beban selama sekolah hanya mata pelajaran matematika. Bagiku matematika hal yang paling sulit dengan materi aljabar dan sin cos tan. 

Aku jadi ingat ketika SD saat bermain dengan teman - teman aku berkata, "Jadi dewasa itu enak ya. Bisa beli barang kesukaan kita dan gak perlu diatur - atur sama orang tua."

"Iya, orang tua kita selalu nyuruh kita tidur siang terus. Udah gitu mereka suka ngatur kita gak boleh ini gak boleh itu." Dia menjawab. 

Aku sangat sulit diatur masa kecil dengan orang tua terkait tidur siang. Tetapi saat dewasa, aku sadar tidak ada waktu untuk tidur siang karena sibuk bekerja. Aku sangat menyesal kenapa aku tidak nurut orang tua ku untuk tidur siang. 

Aku berpikir saat kecil menjadi dewasa itu bisa beli semua yang kita inginkan. Ternyata, tidak sesuai dengan kenyataan. Dewasa itu harus bertanggung jawab diri sendiri. Belum lagi bayar cicilan rumah, motor, pajak, dan bayar lainnya. Kita sangat sungkan meminta uang kepada orang tua saat dewasa.

Menjadi dewasa pertemanan semakin sedikit. Sebab mereka sudah pada sibuk masing - masing, ada yang kerja di luar kota, nikah hingga punya anak. Akhirnya kita punya diri kita sendiri. 

Orang dewasa paling sangat takut berhadapan dengan hari Senin karena harus beraktivitas kerja. Mereka memikirkan dengan drama di kantor nantinya. Setiap masuk kerja ada saja cemas sebelum berangkat ke kantor. Belum lagi menghadapi bos yang ngeselin. Aku harus siap mental menghadapi bos marah karena kesalahan kerja. 

Jadi dewasa terkadang kehilangan arah. Dulu waktu masa kecil cita - citanya menjadi dokter, polisi, perawat, pilot, dan lain - lain. Ternyata setelah menjadi dewasa, cita - cita yang kita inginkan waktu masa kecil tidak sesuai dengan ekspektasi. Orang dewasa memilih bekerja apa saja yang penting halal.

Banyak orang dewasa mengalami quarter life crisis dimana kehilangan jati diri, bingung dengan diri sendiri, merasa insecure, merasa tertinggal dengan teman - temannya lebih sukses, dan mulai mempertanyakan tujuan hidup. Itu hal yang wajar bagi orang dewasa. 

Jadi dewasa pasti ada kegagalan dalam hidup. Rasanya sangat melelahkan. Aku harus menerima kegagalan itu dengan cara belajar bagaimana caranya berani bangkit dari kegagalan itu. 

Tekananan sosial di dunia dewasa dimana orang - orang mempertanyakan "Kapan nikah?", "Kapan punya anak?", "Kapan kerja?". Pertanyaan itu membuat jadi tuntutan harus sesuai dengan lingkungan yang menimbulkan stress. Sebab itu aku memilih cuek dengan pertanyaan itu. 

Orang dewasa harus mandiri dan bisa mengurusi dirinya sendiri tanpa bergantung kepada orang tua. Rasanya jadi dewasa harus kuat dan mandiri. Tetapi, menjadi dewasa harus punya konsenkuensi dalam bertanggung jawab penuh dalam memilih keputusan karir, hubungan, dan kehidupan pribadi. 

Aku menghela nafas sambil air mata ku mengalir. "Rasanya jadi dewasa tidak semenyenangkan aku pikir." Kata diri ku. Masa muda telah habis. Dulu berambisi belajar, kini di masa dewasa berambisi karir agar dapat jabatan bagus. 

Aku akuin menjadi dewasa itu sangat sulit. Harus kerja walaupun keadaan sakit. Walaupun stress hingga mental terkuras, aku harus tetap jalanin. Aku jadi ingat ketika melihat anak - anak berangkat sekolah, rasanya berangkat sekolah lebih menyenangkan dibanding berangkat kerja.

Andaikan waktu bisa berputar, aku ingin kembali ke masa sekolah dimana bisa bermain bersama teman - teman dan aku menikmati masa sekolah.  

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.