Di dunia yang menuntut kita selalu cepat, kadang justru langkah paling berani adalah berhenti sebentar—dan mendengarkan ulang suara hati sendiri.
Kita hidup di masa di mana semua orang tampak berlari, berlomba-lomba untuk menjadi kreator.
Saat ini, cukup dengan ponsel dan koneksi internet, kita sudah bisa berbagi ide, menjual karya, bahkan membangun komunitas. Tapi di balik gemerlap layar itu, ada kenyataan yang jarang dibicarakan: dunia kreatif tidak selalu indah.
Notifikasi, tren, algoritma, dan konten baru seolah tak pernah berhenti datang. Bagi para kreator digital—terutama ibu rumah tangga yang mencoba tetap produktif di sela rutinitas—dunia online bisa jadi sumber semangat sekaligus tekanan yang diam-diam menguras energi.
Semua serba cepat: ide harus terus segar, konten harus up-to-date, engagement harus stabil. Sampai kadang lupa, untuk apa semua ini dimulai?
Sebagai seorang ibu yang menulis di sela waktu, aku juga pernah merasa dikejar oleh ritme itu — ritme yang menuntut terus produktif, terus relevan, terus hadir di layar orang lain.
Namun semakin lama, aku belajar bahwa berkelanjutan bukan berarti selalu aktif, melainkan tetap ada dengan cara yang sehat.
Dunia yang Bising, Jiwa yang Lelah
Ada masa di mana menjadi “terlihat” di internet dianggap keberhasilan. Tapi semakin lama, kita (lebih tepatnya aku) sadar: yang paling sulit bukan lagi menonjol, melainkan bertahan dengan tenang di tengah keramaian.
Di tengah kebisingan digital yang membuat kita kehilangan ritme pribadi: Kita mulai membandingkan langkah, meniru gaya, atau menyesuaikan diri agar tetap relevan. Namun tanpa sadar, pelan-pelan kita jadi menjauh dari versi diri yang dulu begitu tulus saat memulai.
Seolah kita menari di panggung yang ritmenya ditentukan oleh orang lain.
Menemukan Ulang Ritme yang Sebenarnya
Ketenangan bukan berarti berhenti berkarya, kok. Sebaliknya, hal ini berarti berdamai dengan ritme sendiri—bekerja dengan tempo yang selaras dengan hidup, bukan dengan kecepatan algoritma.
Kadang itu bisa berarti menolak “FOMO”, menunda posting, atau sekedar memilih proyek kecil yang benar-benar bermakna.
Sebab dunia digital tidak akan berhenti berputar, tapi kita selalu punya hak untuk pelan.
Dalam konteks ini, menjadi kreator yang berkelanjutan berarti bisa menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental. Karena tidak semua hal harus viral untuk menjadi "berarti" . Kadang, karya yang paling tulus justru lahir saat kita tidak berusaha terlalu keras untuk dilihat.
Ruang untuk Bernapas
Di tengah kebisingan digital ini, buatlah ruang kecil untuk diam.
Entah itu dengan menulis tanpa niat publikasi, membaca buku yang lama tertunda, atau sekadar menikmati kopi tanpa notifikasi apa pun.
Ruang itu bukan tanda menyerah—justru di sanalah energi kreatif akan kembali tumbuh.
Mungkin dunia digital memang takkan pernah pelan. Tapi kamu bisa.
Menemukan ritme sendiri bukan berarti ketinggalan—itu artinya kamu memilih tetap waras di tengah hiruk-pikuk dunia yang terus berlari.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.