Kitab Al-Hikam, Cahaya ditengah kegelapan

Kitab Al-Hikam karangan Ibnu Athoillah as-Saqandari yang menjadi penerang kegelapan

Kitab Al-Hikam, Cahaya ditengah kegelapan

Di lingkungan kehidupan pesantren, Kitab Kuning yang merupakan kitab klasik adalah hal yang lazim dan menjadi rujukan utama ilmu pengetahuan. Beragama kitab dalam disiplin ilmu seperti Nahwu, Sharaf, Fiqih, Akhlak, Tarikh dan juga tashawwuf selalu dikaji setiap saat. Salah satu kitab yang populer dikalangan pesantren nusantara adalah kitab Hikam. Kitab yang menjelaskan beragam cara yang baik agar seseorang selalu menapaki jalan lurus menuju keridhoan sang pencipta.

Kitab Al-Hikam dikarang oleh seorang ulama kenamaan yakni Syekh Ahmad bin Muhammad ibnu Athoillah as-Sakandari, beliau lahir di Alexandria, Mesir pada tahun 1250 M. Pada tahun tersebut, Dunia Islam sedang pada masa yang kurang baik. Daulah Bani Abbasiyah sebagai khilafah Islamiyah tengah mengalami kemunduran sebelum akhirnya jatuh ketangan Mongol tahun 1258 M. Ibnu Athoillah kemudian mengarang kitab tersebut tersebut sekitar tahun 1275 M ketika dunia Islam kehilangan induk. Umat Islam tidak memiliki khilafah, para khalifah Abbasiyah memang melanjutkan kekhalifahan di Kairo tetapi hanya simbolis, karena kekuasaan sesungguhnya dipegang dinasti Mamalik.

Di tengah ketidakpastian yang menyelimuti Dunia Islam waktu itu, Kitab al-Hikam hadir untuk menjawab keresahan masyarakat. Kitab ini berisi tentang ajaran Ketauhidan dan kemakrifatan. Kitab ini juga menjelaskan tentang Akhlak dan penyucian jiwa serta tips bagi Muslim menapaki jalan lurus kepada sang Pencipta.

Dalam kitab ini, kita ditekankan agar selalu mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Melihat bahwa Allah selalu mengawasi kita. Dengan begitu aktivitas keseharian kita akan selalu berpedoman kepada syariat dan keridhoan Tuhan. Dengan menyadari bahwa kita selalu dipantau Allah dimanapun kita berada, manusia tidak akan berani berbuat sesuatu yang dilarang agama seperti kemaksiatan, mencuri/ Korupsi dll. Dalam kitab ini, jika kita benar- benar mengamalkannya, insyaAlloh bisa dekat dengan sangat pencipta yang pada akhirnya jika kita mendekat kepada-Nya, maka apa yang kita minta insyaAlloh akan terkabulkan, sementara yang belum atau tidak dikabulkan kita jadi berprasangka baik bahwa apa yang dipilihkan Tuhan adalah yang terbaik bagi kita.

Kitab al-Hikam juga menjelaskan tentang akhlak dan bagaimana membersihkan hati dan jiwa kita dari sifat- sifat kotor seperti Hasad, Takabbur dan iri hati. Untuk menghindari Hasad atau dengki, kita agar selalu memiliki keyakinan bahwa Alloh selalu mengawasi kita. Terkadang Melihat keatas agar kita termotivasi menjadi lebih baik , namun kita juga diminta untuk melihat kebawah supaya kita dapat bersyukur dan tidak takabbur.

Bagi seorang salik (Orang yang ingin berjalan lurus) menuju keridhoan Alloh haruslah menyucikan dirinya dari sifat-sifat diatas dengan selalu menempatkan Allah sebagai tempat meminta. Menghilangkan semua makhluk (Manusia, Alam seiisinya) dan memiliki satu tujuan yakni Allah Swt. Melaksanakan Ibadah murni karena menyembah dan mengabdi kepada Allah bukan karena imbalan pahala atau balasan Surga sekalipun. Menjadi seorang Zuhud itu adalah impian semua orang, yang mana orang Suhud selalu mengedepankan kehidupan Akhirat lebih utama dari kehidupan dunia. Orang zuhud bukan berarti tidak mencari nafkah buat keluarga tetapi menjadikan Dunia sebagai ladang mencari pahala Akhirat. Misalkan kita punya harta yang banyak, maka sebagian harta kita digunakan untuk kemaslahatan umat seperti infaq pembangunan masjid, kegiatan keagamaan dan menyantuni fakir miskin.

Imam Ibnu Atho Illah as-Saqandari sang pengarang kitab al-Hikam ini telah menulis kita yang sangat bermanfaat bagi umat Islam bahkan dipelajari oleh lintas madzhab dalam dunia Islam. Kitab Al-Hikam kini juga dijadikan sebagai salah satu kitab utama yang dikaji di sebagian besar pesantren di Indonesia. Sang Imam sendiri wafat pada tahun 1039 M dan dimakamkan di Kairo, Mesir.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.