Kita Gak Akan Pernah Siap Jadi Orang Tua, Tapi Kita Bisa Terus Belajar

Zaman sekarang, jadi orang tua rasanya kayak ikut lomba tanpa tahu siapa jurinya. Semua orang punya teori, semua podcast punya standar, semua...

Kita Gak Akan Pernah Siap Jadi Orang Tua, Tapi Kita Bisa Terus Belajar

💭 Kita Gak Akan Pernah Siap Jadi Orang Tua, Tapi Kita Bisa Terus Belajar

 

> “Aku takut salah ngasuh anak nanti,”

begitu kata temanku suatu malam, setelah menatap keponakannya yang lagi rewel karena rebutan mainan.

Aku cuma ketawa pelan.

Karena jujur, aku pun masih sering takut.

Bukan takut anakku jatuh atau demam, tapi takut aku yang ternyata belum cukup dewasa buat disebut orang tua.

Jadi orang tua itu aneh.

Kita dikasih amanah besar tanpa pernah ada kelas persiapan.

Gak ada ujian masuk, gak ada buku panduan yang benar-benar bisa menjawab semua hal.

Hari pertama kita gendong bayi itu, kita otomatis jadi “orang tua” — padahal di dalam diri, kita masih anak yang sering bingung juga.

Dulu aku pikir, orang tua itu sosok yang selalu tahu harus ngapain.

Ternyata enggak.

Kadang aku ngerasa kayak pemain sandiwara yang pura-pura tegas di depan anak, padahal hatinya remuk.

Kadang juga kayak superhero yang baru sadar: kekuatannya cuma bisa bertahan sampai jam dua pagi, setelah itu tumbang bareng cucian yang belum sempat dilipat.

Ada masa di mana aku ngerasa gagal banget.

Anak tantrum di tempat umum, aku gak sabar, suara meninggi — lalu malamnya aku menangis sendiri.

Bukan karena dia nakal, tapi karena aku merasa belum pantas disebut “orang tua baik”.

 

Tapi kemudian, anakku datang peluk tanpa diminta.

Dan entah kenapa, pelukan kecil itu kayak ngomong,

 

> “Gak apa-apa, Bu. Aku juga masih belajar jadi anak, kok.”

Di situ aku sadar: ternyata kami berdua sedang belajar — dia belajar tumbuh, aku belajar membimbing.

Kami sama-sama belum ahli, tapi saling berusaha.

Zaman sekarang, tekanan jadi orang tua makin berat.

Kita dikepung standar sempurna: anak harus pintar, sopan, aktif, gak boleh nangis di publik, gak boleh main terlalu lama, gak boleh terlalu manja.

Lalu ada komentar netizen yang lebih kejam dari ujian parenting mana pun.

 

Dan yang paling bikin sesak,

adalah ketika konten parenting di TikTok atau podcast mulai terasa seperti kitab suci baru.

Semuanya tampak mudah, runut, dan rapi.

 

> “Jangan marahi anak, validasi emosinya.”

“Gunakan nada lembut, jangan melabeli.”

“Jangan pakai ancaman, bangun komunikasi positif.”

Kedengarannya indah banget.

Tapi kenyataannya?

Coba praktikkan itu setelah kamu begadang semalaman, kerja seharian, lalu anakmu tumpahkan susu di kasur jam dua pagi.

Idealnya kita tenang.

Realitanya? Kita manusia.

 

Kadang bukan karena gak tahu teori, tapi karena kita capek.

Karena kita juga punya emosi yang belum sembuh, punya luka dari masa kecil yang kadang ikut kebawa.

 

Dan sayangnya, gak semua podcast atau konten kasih ruang buat bagian itu: sisi lelahnya, nangisnya, menyesalnya, dan berantakannya.

Aku pernah baca satu kalimat yang ngena banget:

 

> “Anak gak butuh orang tua yang sempurna, mereka cuma butuh yang hadir dan mau dengerin.”

Dan itu benar banget.

Anak gak butuh kita tahu semua teori tumbuh kembang,

tapi butuh kita yang mau meluangkan waktu walau cuma 10 menit buat mendengarkan cerita mereka tentang teman di sekolah.

Kadang, itu aja udah cukup buat mereka ngerasa dicintai.

Jadi orang tua tuh kayak terus ujian tanpa tahu kapan nilai diumumin.

Kita gak tahu apakah cara kita udah benar,

tapi nanti, di masa depan, mungkin anak kita akan cerita ke orang lain,

 

> “Orang tuaku gak sempurna, tapi mereka selalu berusaha.”

Dan mungkin, itu sudah cukup.

Aku belajar satu hal: jadi orang tua bukan tentang siap atau gak siap,

tapi tentang mau terus belajar dan gak menyerah.

Belajar minta maaf, belajar memaafkan diri sendiri, belajar tertawa di tengah berantakan, belajar diam saat emosi, dan belajar mencintai tanpa syarat.

 

Setiap kali aku ragu, aku suka bilang dalam hati:

 

> “Aku gak harus sempurna, aku cukup hadir dengan cinta.”

Karena kadang, kehadiran kita aja udah jadi rumah buat anak, tempat paling aman di dunia kecilnya.

Sekarang, kalau ada yang bilang,

 

> “Aku takut jadi orang tua.”

Aku cuma jawab pelan,

“Takut itu wajar. Tapi nanti, begitu kamu liat mata kecil itu menatap kamu dengan percaya…

kamu bakal sadar, gak ada yang benar-benar siap. Tapi cinta pelan-pelan bikin kita mampu.”

✨ Catatan kecil:

 

Parenting di dunia nyata gak selalu semanis di konten.

Kadang suara kita naik, kadang sabar habis, kadang rencana gagal.

Tapi setiap kali kita memilih belajar lagi, minta maaf, dan tetap berusaha di situ cinta bekerja.

Kita mungkin gak ideal, tapi kita nyata.

Dan buat anak-anak kita, itu sudah cukup lebih dari kata sempurna.

 

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.