Jika kita sedang berkunjung ke Kabupaten Ponorogo, Selain makam Bhatoro Katong, kita kurang afdhal apabila tidak mengunjungi makam salah satu Ulama kharismatik yang mendirikan Pondok Pesantren Tegalsari, salah satu pesantren tertua di nusantara. Beliau adalah Kiai Ageng Muhammad Besari yang makamnya terletak di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo. Beliau dikenal sebagai ulama sepuh yang merupakam kakek dari Kiai Hasan Besari yang pernah disebut Presiden ke-4 Republik Indonesia,KH Abdurrrahman Wahid sebagai Ulama perpaduan klasik dan modern pada abad ke-18.
Kiai Ageng Muhammad Besari selain sebagai ulama yang sangat dihormati dan sekarang namanya diabadikan sebagai nama Kampus yakni UIN Kiai Ageng Muhammad Besari (dulu bernama IAIN PONOROGO). Beliau dikenal pula sebagai keturunan bangsawan. Dalam catatan sejarah dan silsilah yang terdapat dalam area makam beliau, Penulis melihat bahwa Kiai Ageng Muhammad Besari adalah keturunan bangsawan dari Jalur Ayah dan keturunan Nabi Muhammad lewat Jalur Ibu. Dari Jalur Ibu sudah jelas merupakan keturunan melalui Jalur Sayyidina Husain bin Ali( cucu Nabi Muhammad saw. Sementara dari jalur ayahlah beliau merupakan seorang bangsawan. Beliau adalah putera dari Ki Ageng Anom Besari yang makamnya berada di Kuncen, Caruban, Kabupaten Madiun. Ayah beliau adalah putera dari Kyai Abdul Mursyad bin Pangeran Demang II bin Pangeran Jalu Demang I bin Panembahan Wirasmoro. Dari Panembahan Wirasmoro inilah Kiai Ageng Muhammad Besari adalah berdarah bangsawan Kesultanan Demak, Karena Panembahan Wirasmoro adalah adalah Putera Sunan Prawoto (Sultan Demak ke-4) bin Sultan Trenggono (Sultan Demak ke-3) bin Raden Patah (Sultan Demak ke-1). Darah bangsawan yang mengalir pada diri Kiai Ageng Muhammad Besari tidak berhenti dari sampai kesultanan Demak. Karena Sultan Demak ke-1 yakni Raden Patah adalah Putera Prabu Brawijaya V (Bhre Kerthabumi), maka nasab bangsawan beliau juga bersambung ke Kerajaan Majapahit. Raja Brawijaya V adalah putera Raja Brawijaya II Putera Brawijaya I putra Prabu Wikramawardha Putera Bhre Pajang Dyah Narteja (Adik Raja Hayam Wuruk) Putera Ratu Tribuwana Tunggadewi Puteri Raden Wijaya sang Pendiri Kerajaan Majapahit.
Perpaduan garis pertalian darah dari Pihak Ibu yang sampai Nabi Muhammad dan pihak ayah sampai Majapahit bahkan sampai Singhasari membuat beliau menjadi Ulama sekaligus bangsawan yang sangat terhormat. Banyak pendiri pondok-pondok pesantren yang pernah menuntut ilmu kepada beliau di Tegal sari seperti KH Abdul Manan (Pendiri Pondok Pesantren Tremas, Kab. Pacitan). Pendiri NU KH. Hasyim Asyari juga merupakan keturuanan beliau. Pendiri Pondok pesantren Lirboyo, Ploso, Jampes juga memiliki kaitan erat dengan beliau.
Selain menjadi guru para ulama kharismatik. Beliau juga pernah menjadi guru seorang raja. Sri Susuhunan Pakubuwono II (Raja Keraton Kartasura dan leluhur raja-raja Surakarta). Raja tersebut terusir dari Keraton Kartasura setelah Raden Mas Garendhi (Amangkurat V) yang dibantu kaum Jawa-Tionghoa memberontak. Pakubuwono II menyingkir ke Madiun kemudian Ponorogo untuk meminta perlindungan dan nasehat kepada sang kiai. Raja Pakubuwono II memohon kepada Kiai Ageng Muhammad Besari untuk memohonkan kepada Alloh lewat lantaran beliau agar mengembalikan keratonnya/kekuasaanya yang hilang. Permintaan tersebut dikabulkan Kiai, dan Oleh sang kiai, Pakubuwono II diminta membuat istana baru di desa Sala yang kita kenal sebagai keraton Surakarta sekarang. Sebagai imbalannya Raja Pakubowono II membebaskan Tegalsari dari kewajiban membayar upeti dan pajak serta menjadikan Kiai Ageng Muhammad Besari sebagai guru sepiritualnya. Sekian
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.