Ketika Tangki Cinta Ibu Kosong, Hubungan dengan Pasangan dan Anak pun Terdampak

Tangki cinta ibu yang kosong bisa memengaruhi hubungan pasangan dan pola asuh anak. Kenali tanda, penyebab, dan cara sederhana mengisinya kembali dengan...

Ketika Tangki Cinta Ibu Kosong, Hubungan dengan Pasangan dan Anak pun Terdampak

Saat Energi Emosional Mulai Menipis

Setiap hubungan pernah melewati fase di mana kehangatan terasa meredup. Bukan karena cinta menghilang sama sekali, tapi karena “tangki cintanya” mulai kosong.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Gary Chapman, penulis The 5 Love Languages. Ia menggambarkan cinta seperti tangki bahan bakar emosional — ketika penuh, hubungan berjalan hangat dan saling mendukung; tapi ketika kosong, arah dan kedekatan mulai hilang.

“We have an emotional love tank. If it’s full, the relationship moves in a positive way. But if it’s empty, the relationship begins to get shaky.” Dr. Gary Chapman, Hartman Media Interview

Sayangnya, banyak pasangan baru menyadari ini setelah konflik menjadi kebiasaan.

Tanda-tandanya halus: istri merasa lelah terus-menerus, mudah tersinggung, atau kehilangan semangat untuk menyapa dengan lembut.

Suami menjauh, merasa diabaikan atau disalahpahami. Tanpa sadar, hubungan mulai berjalan di mode autopilot — sekadar bertahan, bukan lagi untuk tumbuh bersama. Sehingga rumah terasa menjadi tempat berteduh yang kehilangan cahaya.

Ketika Hati Ibu Lelah, Anak Pun Ikut Merasakan

Tak berhenti di situ, beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa emosi seorang ibu memiliki efek langsung terhadap kesejahteraan anak.

Sebuah studi terbuka oleh Li et al. (2025) berjudul Maternal Emotion Regulation and Parenting menemukan bahwa kemampuan ibu mengelola emosinya berperan besar dalam membentuk pola pengasuhan yang hangat dan responsif. Ketika ibu kelelahan secara emosional atau merasa tidak dicintai, sensitivitasnya terhadap kebutuhan anak cenderung menurun tanpa disadari.

Hal ini diperkuat oleh Booth et al. (2019) dalam tinjauan meta-analisis Contextual Stress and Maternal Sensitivity, yang menyebut bahwa stres berkepanjangan, termasuk tekanan dalam hubungan, dapat mengganggu kemampuan seorang ibu membaca sinyal emosional anak.

Selain itu, riset dari Pelucchi et al. (2020) dalam Frontiers in Psychology berjudul Maternal Anxiety Symptoms and Self-Regulation Capacity Are Associated With the Unpredictability of Maternal Sensory Signals in Caregiving Behavior menunjukkan bahwa stres emosional dan kecemasan ibu dapat memengaruhi kepekaan dan konsistensi sinyal kasih sayang yang diterima anak, sehingga berpengaruh terhadap regulasi emosinya.

Dengan kata lain, saat “tangki cinta” ibu kosong, anak tidak hanya kehilangan senyum ibunya, tapi juga rasa aman yang menjadi fondasi utama dalam tumbuh kembangnya.

Itu sebabnya, ketika seorang ibu kelelahan tanpa dukungan emosional, bukan hanya dirinya yang “kosong” — anak pun ikut tumbuh dalam ruang yang kehilangan rasa aman secara emosional.

Dan sering kali, anak meresponsnya lewat perilaku: lebih rewel, mudah tantrum, atau justru jadi pendiam. Bukan karena mereka “susah diatur”, tapi karena mereka ikut merasakan gelombang hati ibunya.

Peran Pasangan: Lebih dari Sekadar Membantu

Mengisi kembali tangki cinta bukan tugas satu pihak. Hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang lebih lelah, tapi siapa yang lebih sadar akan kebutuhan bersama.

Kadang yang dibutuhkan bukan solusi cepat, tapi pelukan yang tulus, tatapan penuh kasih, kalimat sederhana seperti “kamu nggak sendiri,” atau sekadar waktu duduk bersama tanpa distraksi.

Penelitian dari University of Rochester Medical Center (2020) menyebutkan bahwa dukungan emosional pasangan, bahkan berupa perhatian kecil pun, mampu menurunkan tingkat stres hingga 23% dan meningkatkan kepuasan hubungan.

Kehadiran pasangan yang peka bisa menjadi “pengisi ulang” terbaik bagi tangki cinta yang hampir kosong. Dan dari situlah, suasana hangat di rumah mulai pulih sedikit demi sedikit.

Mengisi Ulang Tangki Cinta Secara Realistis

Mengisi tangki cinta bukan soal liburan mahal atau hadiah besar. Kadang justru tentang ritual kecil yang konsisten:

  • Duduk bersama 10 menit sebelum tidur tanpa ponsel.
  • Mengucapkan terima kasih atas hal sederhana.
  • Mengizinkan pasangan beristirahat tanpa rasa bersalah.
  • Mendengarkan tanpa menyela.

Hal-hal sederhana seperti ini terbukti efektif meningkatkan keintiman emosional menurut Verywell Mind (2023), yang menekankan pentingnya “daily emotional check-in” untuk menjaga koneksi dengan pasangan.

Ketika Cinta Kembali Mengalir

Saat tangki cinta ibu terisi kembali, bukan hanya pasangan yang merasakannya.

Anak-anak pun tumbuh dalam rumah yang lebih stabil, di mana kasih sayang tak lagi hanya rutinitas, tapi terasa dalam tindakan.

Karena pada akhirnya, anak belajar cinta bukan dari kata-kata, tapi dari bagaimana orang tuanya saling memperlakukan satu sama lain.

***

Menjadi pasangan sekaligus orang tua bukan tentang selalu sempurna, tapi tentang terus belajar merawat hubungan. Bukan hanya menjaga tangki cinta pasangan, tapi juga tangki kasih untuk diri sendiri dan keluarga kecil yang sedang dibangun pelan-pelan.

Karena cinta yang dirawat dengan sadar adalah warisan terbaik untuk keluarga kecilmu. 

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.