Kadang kehilangan bukan akhir, tapi awal dari cara baru mencintai.
Ada masa ketika aku mengira menjadi ibu berarti sekadar menjaga janin hingga lahir dengan selamat. Tapi ternyata, menjadi ibu juga berarti belajar menerima bahwa tidak semua yang kita genggam akan tetap ada.
Aku masih ingat jelas kehamilan pertamaku. Semuanya terasa normal, bahkan terlalu biasa untuk dikhawatirkan. Aku jarang memeriksakan diri ke dokter kandungan—bukan karena lalai, tapi karena merasa cukup dengan pemeriksaan posyandu setiap bulan dan beberapa kali ke puskesmas. Setiap kali diperiksa, hasilnya selalu “baik”. Dan aku percaya begitu saja.
Karena akupun mampu beraktivitas seperti biasanya, tanpa morning sickness, tanpa mengidam yang berlebihan, makanpun tak pernah pilih-pilih. Orang bilang aku "hamil kebo".
Sampai menjelang hari kelahiran.
Tubuhku mulai membengkak aneh, tekanan darah meninggi, tapi aku pikir itu hanya kelelahan menjelang persalinan. Tidak ada rujukan ke rumah sakit karena saat itu tensiku sempat menurun, jadi aku tetap melahirkan secara normal di puskesmas.
Bahkan, setelahnya, aku masih sempat bersenda gurau dengan para bidan dan menyambut hari itu dengan tawa bahagia.
Sempat ku gendong dalam pelukanku sebentar, dan kutatap anak perempuanku itu dengan penuh sayang.
Anakku lahir dengan perjalanan panjang, tubuh yang membiru dan tak langsung menangis.
Beberapa detik yang terasa seperti seumur hidup berlalu sampai akhirnya suara tangis keras itu keluar.
Tangisan yang rasanya seperti hadiah dari langit. Kami pun ikut menangis bersama, antara lega, syukur, dan bahagia karena setelah penantian 9 bulan itu, aku berhasil melahirkannya dengan selamat dan normal, pikirku kala itu.
Namun, kebahagiaan itu ternyata tak bertahan lama.
Hanya satu hari setelah kami diijinkan pulang ke rumah, Allah memanggilnya kembali. Tubuh mungil itu tiba-tiba lemas, membiru, dan napasnya berhenti.
Di hari itu, dunia seakan ikut terdiam. Dan aku kehilangan bagian diriku yang paling berharga.
Sempat aku menyesal dan mengutuk diriku kenapa aku lebih mementingkan istirahat dan tidak kuabaikan saja rasa sakitnya jahitan? kenapa aku tidak selalu memeluk dan menggendongnya sepanjang malam?
Sejak saat itu, kehamilan tidak lagi sama bagiku.
Aku sempat takut untuk mengulang momen hamil dan melahirkan kembali. Tapi aku akhirnya belajar, bahwa menjadi ibu bukan hanya soal melahirkan, tapi juga menjaga, memahami tubuh, dan berani waspada.
Ketika akhirnya aku mengandung anak keduaku, aku mulai memilih jalan berbeda: rutin USG dan konsultasi ke dokter kandungan setiap bulan, menjaga tensi, menahan keinginan makan yang bisa memicu risiko, dan mengusahakan untuk melahirkan di rumah sakit. Setiap langkahnya penuh doa dan takut kehilangan lagi.
Dan ketika akhirnya ia lahir dengan selamat, aku seperti diberi kesempatan kedua untuk mencintai.
Kini setiap hal kecil adalah momen berharga bagiku — dari melihat senyum pertamanya, usahanya untuk tengkurap, hingga langkah kecilnya yang kini hampir sempurna.
Puteraku kini mengajarkanku untuk hidup lebih pelan.
Tidak semua hal harus sempurna, yang penting adalah hadir dengan sadar dan bersyukur.
Kadang aku masih teringat pada puteriku yang telah pergi. Tapi rasa itu kini berubah: dari duka menjadi doa, dari kehilangan menjadi kekuatan. Dan alih-alih melupakannya, aku selalu mengenalkannya pada puteraku, bahwa ia punya kakak yang cantik yang sekarang berada di surga.
Sebuah refleksi diri
Setiap ibu punya cerita yang tidak sama. Ada yang kehilangan, ada yang menunggu, ada yang berjuang diam-diam. Tapi di antara semuanya, ada benang merah yang sama: kasih yang tidak pernah hilang.
Karena menjadi ibu bukan tentang seberapa lama kita bersama anak kita, tapi bagaimana kita mencintainya, bahkan dalam kehilangan.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.