Kenapa Kita Cepat Lelah? Fenomena ‘Mental Exhaustion’ di Era Digital dan Cara Mengatasinya

Di tengah rutinitas yang berjalan terus tanpa jeda, banyak orang mengaku merasa lelah padahal aktivitas fisiknya tidak seberapa. Rasa capek ini bukan...

Kenapa Kita Cepat Lelah? Fenomena ‘Mental Exhaustion’ di Era Digital dan Cara Mengatasinya

Rasa capek tidak selalu datang dari tubuh yang bekerja terlalu keras. Banyak orang justru mengeluh lelah di hari-hari ketika aktivitas fisiknya tidak terlalu berat. Kondisi ini semakin sering ditemui, terutama sejak hidup kita makin dekat dengan layar, notifikasi, dan tuntutan untuk selalu responsif.

Fenomena tersebut dikenal sebagai mental exhaustion atau kelelahan mental sebuah kondisi ketika kapasitas otak terkuras oleh beban informasi dan tekanan emosional yang terus bergerak tanpa henti.

Kelelahan mental bukan konsep baru, tetapi penelitian menunjukkan bahwa kasusnya meningkat drastis beberapa tahun terakhir. Menurut studi dari Ohio State University, otak memiliki “batas kapasitas pemrosesan” yang, ketika dilewati, akan membuat seseorang merasa kewalahan meski tidak melakukan aktivitas fisik yang signifikan.

Dalam konteks era digital, batas itu lebih mudah terlampaui karena otak bekerja hampir sepanjang hari untuk menyaring informasi dan merespons rangsangan dari luar.

Arus Informasi yang Berlebihan dan Efeknya pada Otak Hidup di era digital membuat kita dibanjiri informasi tanpa jeda. Konten media sosial, chat grup, berita harian, video pendek, hingga tuntutan pekerjaan yang semuanya datang dari layar, membentuk tumpukan data yang harus diproses oleh otak. Penelitian dari University of California San Diego (2020) menunjukkan bahwa rata-rata orang kini terpapar lebih dari 34 GB informasi per hari angka yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam sejarah manusia.

Setiap potongan informasi kecil sebuah notifikasi, unggahan teman, atau email mendadak menyebabkan otak melakukan attention switching, yaitu berpindah fokus dengan cepat. American Psychological Association menjelaskan bahwa proses ini memakan energi kognitif yang besar.

Hasilnya, meski fisik tidak banyak bergerak, otak terasa seperti berlari maraton. Multitasking dan Kelelahan yang Tidak Terlihat Multitasking memang terdengar produktif, tetapi penelitian berkali-kali menunjukkan bahwa otak manusia tidak dirancang untuk bekerja pada beberapa tugas kognitif secara bersamaan. Dalam studi yang dilakukan oleh Meyer dan Kieras di University of Michigan, multitasking ternyata menurunkan efisiensi hingga 40 persen. Tidak hanya itu, semakin sering kita berpindah fokus, semakin cepat energi mental terkuras. Dalam keseharian, multitasking digital terjadi tanpa disadari: membuka dokumen sambil membalas pesan, mendengarkan meeting sambil scrolling, atau belajar sambil membiarkan media sosial tetap aktif. Semua kebiasaan kecil ini memberi kesan sibuk, tetapi justru membuat otak bekerja lebih keras daripada yang diperlukan. Tekanan Emosional dari Media Sosial Selain beban kognitif, dunia digital juga menghadirkan tekanan emosional yang tidak kalah berat. Media sosial menciptakan ruang perbandingan tanpa henti siapa yang lebih sukses, lebih produktif, lebih cantik, lebih bahagia. Penelitian dari Journal of Social and Clinical Psychology (2021) menemukan bahwa paparan berlebihan terhadap konten sosial dapat meningkatkan emotional fatigue, terutama ketika seseorang merasa harus memenuhi ekspektasi yang tidak realistis. Fenomena seperti toxic productivity dan FOMO (fear of missing out) turut memperparah kondisi ini. Tanpa sadar, kita memaksa diri untuk terus aktif, terus berkarya, atau terus mengikuti tren. Tekanan semacam ini menumpuk menjadi kelelahan mental yang sulit dijelaskan tetapi mudah dirasakan. Kurang Istirahat Berkualitas Tidur yang cukup belum tentu berarti istirahat yang berkualitas. Banyak orang tidur dalam kondisi otak masih “panas” akibat paparan layar sebelum tidur. Harvard Medical School menjelaskan bahwa cahaya biru dari gadget dapat menekan produksi melatonin, hormon pemicu rasa kantuk, hingga 23 persen. Akibatnya, tidur menjadi dangkal, tubuh tidak pulih sepenuhnya, dan otak bangun dalam kondisi tidak segar. Kesibukan digital juga sering membuat kita kehilangan waktu istirahat “dalam” seperti mental breaks, momen hening, atau sekadar membiarkan pikiran berkelana tanpa tujuan. Padahal, jeda seperti itu diperlukan otak untuk memulihkan fungsi kognitifnya. Bagaimana Mengatasi Mental Exhaustion? Mengatasi kelelahan mental bukan tentang berhenti bekerja sama sekali, tetapi mengelola energi otak dengan lebih bijak. Beberapa pendekatan berikut terbukti efektif berdasarkan penelitian: 1. Kurangi Beban Otak dengan Cognitive Offloading Risko & Gilbert (2016) menemukan bahwa menuliskan tugas atau pemikiran di luar kepala seperti di buku catatan atau aplikasi dapat mengurangi beban kognitif secara signifikan. Otak tidak perlu mengingat segalanya dan bisa fokus pada tugas yang sedang berlangsung. 2. Berhenti Memaksakan Multitasking Melatih diri untuk bekerja satu per satu terbukti meningkatkan kualitas hasil kerja. Penelitian MIT menunjukkan bahwa single-tasking dapat meningkatkan performa hingga hampir 50 persen. Tidak hanya lebih efektif, tetapi juga lebih menenangkan bagi otak. 3. Beri “Digital Rest” Secara Teratur Jeda 5-10 menit setiap satu jam, seperti yang disarankan oleh peneliti dari University of Melbourne, sangat membantu memulihkan fokus. Berjalan sebentar, melihat pemandangan, atau sekadar memejamkan mata memberi ruang bagi otak untuk beristirahat. 4. Seleksi Informasi yang Masuk Carnegie Mellon University menemukan bahwa mengurangi paparan informasi yang tidak relevan bisa menurunkan stres digital hingga 27 persen. Artinya, mengatur apa yang kita konsumsi sama pentingnya dengan mengatur apa yang kita kerjakan. 5. Bangun Kebiasaan Tidur yang Lebih Sehat Menghindari gadget satu jam sebelum tidur, menjaga rutinitas malam yang menenangkan, serta tidur dalam kondisi ruangan gelap membantu kualitas tidur meningkat. Dengan tidur yang lebih baik, energi mental akan pulih lebih optimal.

Kelelahan mental adalah tanda bahwa otak bekerja lebih berat daripada yang terlihat. Di tengah kehidupan digital yang serba cepat, wajar jika kita merasa capek tanpa alasan yang jelas. Namun, memahami penyebabnya membuat kita bisa mengambil langkah lebih bijak untuk menjaga kesehatan mental dan kognitif. Setelah semuanya dikurangi multitasking, informasi berlebih, tekanan sosial baru terlihat bahwa tubuh bukan satu-satunya yang membutuhkan istirahat. Pikiran pun butuh ruang untuk bernapas.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.