Jangan Seperti Kacang Lupa Kulitnya

Jangan biarkan kesuksesan membuatmu kehilangan jati diri.

Jangan Seperti Kacang Lupa Kulitnya

Jangan Seperti Kacang Lupa Kulitnya

Dalam kehidupan, sering kali kita mendengar pepatah “jangan seperti kacang lupa kulitnya.” Pepatah ini mengingatkan kita untuk tidak melupakan asal-usul, orang-orang yang pernah membantu, serta perjalanan panjang yang membentuk siapa diri kita hari ini.

Namun, di tengah kesibukan dan pencapaian yang semakin tinggi, banyak dari kita tanpa sadar mulai lupa. Lupa pada perjuangan masa lalu, lupa pada orang tua yang berkorban, lupa pada sahabat yang dulu menemani saat susah, bahkan lupa pada nilai-nilai yang dulu dijaga.

 

Refleksi diri penting dilakukan agar hati tetap rendah dan langkah tidak salah arah.

1. Ingat Asal-Usulmu

Tidak peduli seberapa tinggi jabatan atau besar kesuksesan yang diraih, semua berawal dari titik nol. Orang tua, guru, teman, bahkan lingkungan kecil tempat kita tumbuh memiliki andil besar membentuk karakter hari ini. Mengingat asal-usul bukan berarti tidak berkembang, melainkan tetap menjejak bumi saat kita mulai terbang tinggi.

2. Hargai Orang yang Pernah Hadir

Dalam perjalanan hidup, ada orang-orang yang memberi bantuan, doa, bahkan sekadar semangat kecil di masa sulit. Jangan biarkan kesibukan membuat kita lupa mengucapkan terima kasih atau menunjukkan rasa hormat. Kadang, sekadar menghubungi mereka kembali bisa menjadi bentuk syukur yang bermakna.

3. Jangan Malu Mengakui Masa Lalu

Ada yang merasa malu pada masa lalunya yang sederhana, miskin, atau penuh kesalahan. Padahal, justru masa lalu itulah yang menempa kita. Jangan hapus bagian hidup itu seolah tak pernah ada. Terimalah dengan lapang dada, karena tanpa masa lalu, takkan ada masa kini.

4. Jadilah Orang yang Rendah Hati

Rendah hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan menyadari bahwa setiap orang punya peran penting dalam kehidupan kita. Tidak ada yang benar-benar berhasil sendirian. Sikap rendah hati membuat kita tetap bijak, bahkan ketika dunia menaruh kita di tempat tinggi.

5. Bersyukur dan Terus Berbagi

Ketika kita tidak lupa dari mana kita berasal, rasa syukur akan tumbuh dengan sendirinya. Dari rasa syukur itu, muncul keinginan untuk berbagi, karena kita tahu rasanya berada di bawah. Itulah bentuk terbaik dari tidak menjadi “kacang yang lupa kulitnya.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.