Di jaman yang tidak menentu seperti sekarang ini, pemikiran para perempuan dengan usia cukup untuk menikah juga semakin tidak menentu. Mungkin pada jaman dahulu menjadi istri seseorang dan menjadi seorang ibu merupakan hal yang sangat diidam-idamkan atau sesuatu hal yang tidak bisa terhindarkan. Perempuan jaman dulu memang serasa dipersiapkan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Mulai dari kecil mereka diajarkan untuk mengurus rumah, memasak, mencuci, bahkan merawat anak kecil/ adik dengan tujuan agar setelah menikah mereka dapat mengerjakan semua pekerjaan tersebut. Inilah yang membentuk para suami menjadi suami yang patriarki. Mereka merasa tugas mereka adalah bekerja mencari uang dan yang di rumah adalah istri. Para istri ini juga merasa hal itu adalah memang benar jalan ceritanya, karena mereka dibentuk untuk menjadi seorang istri yang patuh dan bisa segala pekerjaan rumah.
Tetapi, seiring berjalannya waktu, berubah pula sudut pandang para perempuan dalam memandang gelar ibu rumah tangga ini. Dengan semakin tingginya pendidikan yang mereka kecap, kebanyakan dari mereka tidak mau lagi sekedar berlabuh atau berhenti menjadi ibu rumah tangga saja. Mereka ingin meraih karir yang lebih baik. Apakah ini baik? Bisa dikatatakan baik juga bisa juga tidak. Keinginan para perempuan yang inigin berkarir daripada menjadi seorang ibu rumah tangga dikatakan baik, karena perempuan juga mempunyai hak yang sama untuk memperbaiki kualitas hidup dan dirinya. Baik bagi perempuan jika mempunyai kemampuan lebih untuk dapat mengimbangi perubahan jaman yang sangat tidak menentu ini. Dikatakan tidak baik jika para perempuan ini akhirnya melupakan marwah mereka yang memang pada akhirnya menjadi seorang istri dan seorang ibu.
Menjadi ibu rumah tangga tidak semenakutkan seperti berita-berita yang beredar luas di media sosial. Semakin tinggi pendidikan seorang perempuan, semakin matang pula dia sebagai seorang istri/ ibu nantinya (seharusnya). Kenapa seharusnya? Seorang perempuan yang memiliki pendidikan yang layak, maka dia (akan) mampu menghadapi lika liku perjalanan rumah tangganya. Istri dalam konteks al-ummu madrasatul ula merujuk pada ibu atau perempuan yang berperan sebagai sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Hal ini semakin tinggi pendidikan seorang perempuan maka bukan berarti dia harus semakin melebihi para lelaki (suami), tetap ilmu yang mereka dapat merupakan bekal/ modal dalam mendidik anak-anak mereka kelak. Apakah yang berpendidikan rendah bakal menjadi istri/ ibu yang tidak berkompeten? Jawabannya adalah "Belum Tentu". Karena seorang istri/ ibu yang tidak mau berhenti belajar untuk menjadikan rumah tangganya bahagia dan menjadi lebih baik merekalah merupakan ibu rumah tangga idaman keluarga.
Bagi para perempuan, mari upgrade diri kalian untuk selalu memantaskan diri dalam membangun rumah tangga yang sehat dan bahagia. Bagi yang belum berumah tangga jangan takut, perbaiki diri menjadi seorang yang pantas, maka akan didatangkan padamu suami yang pantas pula. Bagi yang sudah berumah tangga tapi masih mengalami kesulitan, mari kuatkan hati dan diri, meningkatkan kemampuan diri, meminta bantuan suami untuk saling mendukung, maka perjalanan rumah tanggamu akan menyenangkan.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.