Bullying di kalangan pelajar bukanlah hal baru. Namun, di era digital saat ini, fenomena tersebut mengalami pergeseran bentuk dan dampak yang semakin kompleks. Jika dahulu bullying lebih banyak terjadi di lingkungan sekolah secara fisik, kini perilaku tersebut telah menjalar ke dunia maya melalui media sosial. Fenomena ini menjadi perhatian serius karena telah menimbulkan berbagai kasus depresi, penurunan prestasi belajar, bahkan tindakan ekstrem seperti percobaan bunuh diri.
Hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan bahwa lebih dari 40% pelajar di Indonesia pernah mengalami atau menyaksikan tindakan bullying, baik secara langsung maupun daring (cyberbullying).
Beberapa fakta lapangan yang ditemukan antara lain:
1. Jenis bullying yang paling sering terjadi adalah ejekan verbal (42%), diikuti oleh perundungan fisik (27%), sosial (18%), dan cyberbullying (13%).
2. Platform yang paling sering digunakan untuk cyberbullying adalah WhatsApp, Instagram, dan TikTok.
3. Banyak pelaku bullying justru tidak menyadari bahwa tindakannya tergolong kekerasan psikologis.
4. Korban sering memilih diam karena takut dikucilkan atau tidak percaya diri untuk melapor.
5. Di beberapa sekolah, budaya “senioritas” masih menjadi alasan pembenaran tindakan perundungan terhadap siswa baru.
Fenomena “bullying zaman now” tak lagi hanya berupa dorongan di koridor sekolah atau ejekan di kelas. Saat ini, pelaku dapat menyebarkan foto, video, atau komentar negatif di media sosial, yang efeknya bisa menyebar luas dan sulit dihapus.
Contohnya, beberapa kasus viral menunjukkan siswa yang direkam saat dipermalukan oleh teman-temannya lalu videonya diunggah ke TikTok atau Instagram Reels dengan nada candaan. Ironisnya, tindakan tersebut sering dianggap “lucu” atau “trending” oleh sebagian netizen.
Dampak Nyata Bagi Korban
Dampak bullying tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga trauma psikologis mendalam. Korban biasanya mengalami:
1. Penurunan kepercayaan diri
2. Gangguan kecemasan atau depresi
3. Kesulitan beradaptasi di lingkungan sosial
4. Penurunan prestasi akademik
5. Bahkan, dalam beberapa kasus ekstrem, keinginan untuk mengakhiri hidup.
Penyebab dan Akar Masalah
Beberapa faktor yang memicu meningkatnya kasus bullying di kalangan pelajar antara lain:
1. Rendahnya empati dan kesadaran moral.
2. Lingkungan sosial yang permisif terhadap kekerasan.
3. Tekanan sosial dan pencarian eksistensi di media sosial.
4. Kurangnya pengawasan dari orang tua dan pihak sekolah.
5. Kecanduan konten hiburan yang mengandung unsur kekerasan atau ejekan.
Upaya Pencegahan dan Solusi
Mengatasi bullying memerlukan kerja sama dari berbagai pihak:
1. Sekolah: membuat program anti-bullying, menyediakan layanan konseling, dan menegakkan aturan yang tegas.
2. Guru dan wali kelas: berperan aktif dalam membangun komunikasi dengan siswa.
3. Orang tua: memperkuat pengawasan, menjadi tempat curhat yang aman bagi anak.
4. Siswa: menumbuhkan empati, menghargai perbedaan, dan berani melapor jika melihat tindakan bullying.
5. Masyarakat digital: bijak menggunakan media sosial, tidak ikut menyebarkan konten yang mempermalukan orang lain.
Tren bullying di kalangan pelajar zaman now merupakan cerminan dari perubahan sosial yang cepat namun belum diimbangi dengan kematangan emosional dan moral. Dunia pendidikan harus bertransformasi, tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai empati, etika digital, dan karakter kemanusiaan. Karena sejatinya, menjadi “keren” bukan berarti menindas, tetapi mampu menghargai sesama.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.